Hadis 3 dan 4; Rukun Islam & Rahasia Takdir

Hadis Ketiga : (Rukun Islam)

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ “

Dari Abu  ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah; menunaikan shalat; menunaikan zakat; menunaikan haji ke Baitullah; dan berpuasa Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syarah dan Kandungan Hadis Ketiga :

  • Hadis ini adalah riwayat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma. Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala menyebut radhiyallahu anhuma karena perawi hadits ini dan ayahanda beliau, keduanya sama-sama sahabat. Umar disini adalah Umar bin Khattab radhiyallahu anhuma. Umar bin Khattab radhiallahu anhu yang meriwayatkan hadis yang pertama dan kedua dari Arbain Nawawi ini. Kemudian hadis yang ketiga adalah riwayat dari putra beliau Abdullah.
  • Hadis ini berbicara tentang rukun Islam yang menjadikan seseorang disebut sebagai seorang Muslim
  • Rasulullah tidak menyebutkan jihad fi sabilillah. Padahal merupakan tingkatan Islam paling tinggi. Namun jihad memang dilakukan seperlunya saja.

Hadis Keempat :

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ   ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ      أَوْ سَعِيْدٌ.    فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ  الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

“Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang jujur dan terpercaya: Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya diperut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga  maka masuklah dia ke dalam surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syarah dan Kandungan Hadis :

  • Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu adalah salah seorang sahabat senior Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau termasuk orang yang pertama kali masuk Islam. Beliau juga adalah ahli Al-Qur’an dari kalangan Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
  • Diantara sifat Rasulullah adalah jujur dan terpercaya
  • Hadis ini menjelaskan proses janin di perut Ibu.
  • Pada saat janin telah berusia 120 hari atau empat bulan, Allah perintahkan malaikat untuk meniup ruh, sehingga janin tersebut menjadi jasad.
  • Ketika janin telah berusia 120 hari dan telah ditiupkan ruh maka dituliskan pula empat macam takdir untuknya yaitu : rizkinya, ajalnya, amalnya dan apakah dia orang sengsara atau bahagia (maksudnya adalah ahli neraka atau surga). Empat tahapan penulisan takdir tersebut adalah sebagai berikut :

Azali : dahulu kala, sebelum Allah menciptakan langit dan bumi 50.000 tahun.

Umri : Setelah kita di perut ibu dan berusia 120 hari (berupa janin).

Hauli : Tahunan (yaitu pada malam Lailatul Qadr)

Yaumi : Harian (ada dalam QS.Ar-Rahman : 29), takdir inilah yang ada di tangan malaikat (muallaq/tergantung), sedang apa yang ada di tangan Allah tidak bisa dirubah.

  • Penulisan-penulisan takdir ini adalah yang berada di tangan malaikat sehingga bisa berubah, dengan doa atau lainnya. Adapun yang di tangan Allah maka tidak bisa dirubah.
  • Hendaklah kita selalu berupaya membersihkan hati dari semua kotorannya karena kotoran-kotoran di hati menyebabkan seseorang mati dalam keadaan su’ul khotimah.
  • Termasuk beriman kepada takdir adalah mengimani bahwa Allah menjadikan kita mempunyai kekuasaan, kehendak dan pilihan.

Beberapa ucapan Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu tentang takdir :

Takdir adalah lautan dalam, janganlah sekali-kali kamu memasukinya.

Takdir juga jalan gelap, maka jangan melewatinya.

Takdir adalah rahasia Allah, maka janganlah memaksakan dirimu masuk ke dalamnya.

Hadis ketiga dan keempat, selesai.

Disarikan dari catatan mulazamah bersama Al Ustadz Abdullah Al Hadrami, murid dari Syaikh Utsaimin rahimahullah.

Index Hadis Arbain

  1. Mengenal Imam An-Nawawi
  2. Hadis Satu (Niat)
  3. Hadis Dua- Iman, Islam, dan Ihsan
  4. Hadis 3 dan 4; Rukun Islam & Rahasia Takdir
  5. Hadis Kelima, Amalan dan Muammalah yang Tertolak
  6. Hadis Enam, Syubhat
  7. Hadis Tujuh, Agama adalah Nasihat
  8. Hadis Delapan, Ajakan Bersyahadat dan Salat

Leave a Reply