Ada sebuah kisah yang disampaikan oleh seorang guru, ketika saya mengikuti majelis beliau tentang hakikat kebahagiaan.

Kisah tersebut dimulai dari seorang kaya raya yang ditanya oleh temannya, “Apa yang membuatmu bahagia?” lalu dijawablah pertanyaan itu, “Bahagia adalah ketika aku bisa membeli barang mewah yang kuinginkan.”

Lalu ketika keinginan tersebut sudah terpenuhi, makna bahagianya kini berubah. Selama beberapa waktu setelah ia berhasil membeli barang mewah sesuai keinginannya, ia pun merasa bosan. Kebahagiaan yang dirasakannya ternyata hanya sementara saja.

Seorang temannya pun kembali menanyakan pertanyaan yang sama. Jawabannya pun berubah menjadi :

“Bahagia adalah ketika aku bisa mengoleksi barang-barang mewah dan antik.” Tuturnya.

Tak lama kemudian, keinginannya untuk bisa mengoleksi barang-barang mewah itu pun terpenuhi. Kali ini ia pikir kebahagiaannya akan bertahan lama. Namun, ternyata dirinya salah. Kebahagiaan itu masih saja tidak bisa bertahan lama dalam hatinya. Hakikat kebahagiaan itu pun mengusik dirinya.

Tak lama, sahabatnya pun kembali. Kali ini tidak lagi menanyakan arti kebahagiaan versinya.

“Ayo ikut aku,” ucap sahabatnya. Ia pun menurut dan mengikuti kemanapun sahabatnya pergi. Hingga mereka pun sampai di suatu tempat yang tidak pernah ia kunjungi sebelumnya. Bangunannya mirip rumah pada umumnya, hanya saja di bagian depan nampak papan nama yang menjelaskan rumah apa yang sedang mereka singgahi.

Begitu langkah kakinya sampai di dalam rumah, ia melihat banyak anak yang tidak sempurna fisiknya. Temannya pun menjelaskan bahwa anak-anak itu butuh kursi roda. Tanpa pikir panjang, ia membeli kursi roda untuk semua anak yang membutuhkannya di rumah itu.

Setelah kursi roda datang dan dibagikan untuk setiap anak yang membutuhkan, hatinya terasa lapang. Tidak disadari, bibirnya melukis senyum di wajahnya yang tidak lagi muda. Hatinya hangat melihat senyuman anak-anak yang sedang sibuk memainkan kursi roda milik masing-masing. Gejolak di dadanya tak dapat dibendung. Ia tak pernah merasakan sensasi kebahagiaan sedemikian kuatnya.

Lalu sesaat ketika ia memutuskan untuk undur diri, seorang anak dengan kursi rodanya menghampirinya, dan memegang kaki kanannya. Ia pun berhenti dan menoleh pada anak yang menatapnya tak berkedip dan menyuguhkan senyuman paling manis yang pernah ia lihat.

“Ada apa? Apa kau butuh sesuatu lagi?” tanyanya.

Anak itu hanya menggeleng, sambil tetap tersenyum.

“Lalu? Apa kau ingin kue?” tanyanya lagi, dan dijawab dengan gelengan kepala si anak yang kian keras dibanding sebelumnya. Ia mengerutkan dahinya, bingung. Jika ia tak menginginkan apapun, mengapa ia mencengkeram kakiku begitu kuat? Tanyanya dalam hati.

“Aku hanya ingin melihat wajah Tuan. Menghapalnya. Merekamnya dalam otakku. Jadi jika nanti aku bertemu dengan Tuhanku, aku akan mengatakan bahwa orang inilah yang dulu di dunia membuatku bahagia.” Ucap Sang anak sambil tersenyum lebar.

Begitu mendengar penuturan sang anak, hatinya mendadak sangat sesak. Mendung di matanya tak lagi bisa ia tahan. Akhirnya bulir-bulir air mata berdesakan ingin keluar dari kelopaknya. Namun hatinya terasa hangat, tenang, dan tentu saja bahagia. Ternyata, inilah kebahagiaan yang selama ini ia cari dan idam-idamkan. Kebahagiaan yang mendatangkan rahmat, kebahagiaan yang membuat dirinya merasa seperti di awan, kebahagiaan yang tidak akan pernah hilang dari dalam hati dan pikirannya.

Mata sejuk anak itu terus memandangnya, seolah-olah ia tak akan melepas kepergian sang pria kaya raya.

Inilah kebahagiaan yang sesungguhnya. Ketika kita bisa membuat orang lain di sekitar kita tersenyum merasakan manisnya bahagia. Ternyata kebahagiaan yang kita cari selama ini begitu dekat. Sangat dekat, sehingga tidak perlu lagi susah-susah mencarinya.

Kebahagiaan hakiki ketika kita bisa menolong orang lain dan membuat mereka tersenyum. Salah satunya dengan meninfaqkan sebagian kecil dari harta kita untuk mereka yang papa.

hakikat-bahagia-bersama-rumah-zakat

Menjemput Hakikat Bahagia Bersama Lembaga Filantropi Terpercaya Milik Masyarakat Indonesia

Sebagai umat muslim, kita tentu sudah tidak asing dengan kata zakat, infak,dan sedekah. Pasalnya, tiga kata tersebut bukan sekadar kata biasa, tetapi punya peran penting dalam amalan kita sebagai pemeluk agama Islam. Ketiga hal tersebut pun menjadi bagian tak terpisahkan dari lembaga zakat seperti Rumah Zakat yang merupakan lembaga filantropi terpercaya milik masyarakat Indonesia.

Lembaga tersebut adalah lembaga amil zakat nasional yang telah memiliki legitimasi aspek legal formal. Jadi, lembaga ini adalah lembaga terpercaya yang sudah berdiri selama 24 tahun. Sebelum berkenalan lebih jauh dengan rumah zakat, yuk kita ingat kembali apa itu zakat, infak, dan sedekah.

Jika dilihat secara luas, ketiga hal tersebut punya satu kesamaan, yaitu sebagai kegiatan amal berupa memberikan bantuan berupa harta yang kita miliki kepada orang-orang atau pihak yang sedang membutuhkan bantuan.

Perbedaan Zakat, Infak, dan Sedekah

Meskipun bermuara pada satu tujuan yang sama, tetapi pada dasarnya ketiga hal tersebut pun punya perbedaan. Secara sederhana, perbedaan dari tiga amalan tersebut bisa dilihat dari sifat hukumnya. Zakat hukumnya wajib atau fardhu ‘ain, infak hukumnya fardhu khifayah, sementara sedekah hukumnya sunnah.

Biar lebih mudah membedakannya, berikut ini sekilas rincian dari ketiga amalan terseut.

#1 Zakat

Dari segi pengertiannya, zakat adalah membersihkan atau menyucikan diri. Sementara berdasarkan sisi syariatnya, zakat adalah kegiatan amal dengan memberikan sebagian harta kepada orang-orang dari golongan tertentu yaitu fakir, miskin, mualaf, orang yang terlilit hutang, fii sabilillah, memerdekakan budak, orang dalam perjalanan, dan amil zakat.

Zakat kemudian terbagi menjadi dua, yaitu zakat fitrah dan zakat maal. Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dibayarkan oleh setiap umat muslim senilai 3,5 liter atau 2,5 kilogram bahan makanan pokok pada bulan suci Ramadan. Sementara zakat maal adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh setiap umat muslim jika harta/penghasilannya telah mencapai nisab dan haul. Nisab adalah konteks/besaran perhitungan batasan harta selama satu tahun untuk dikenai ketentuan wajib zakat dan haul adalah sumber kepemilikan harta selama satu tahun.

#2 Infak

Infak berasal dari kata anfaqa yang artinya mengeluarkan atau membelanjakan harta. Dari sudut pandang syariah, infak berarti mengeluarkan sebagian harta atau penghasilan untuk kepentingan yang diperintahkan dalam ajaran agama Islam.

Seperti yang sudah disebutkan di awal, infak ini hukumnya fardhu khifayah, artinya kewajiban bagi sekelompok orang untuk melaksanakan perintah Allah SWT sesuai ketentuan syariat. Namun, bila sudah dilaksanakan oleh orang lain atau sekelompok orang lainnya, maka kewajiban tersebut gugur. Contohnya seperti mengisi kotak amal di masjid untuk biaya operasional dan perawatan masjid.

Berbeda dengan zakat, dalam infak tidak dikenal adanya nisab. Besaran harta yang dikeluarkan dan kapan waktu dilakukannya (breinfak) dibebaskan kepada yang akan memberikan/mengeluarkan infak.

#3 Sedekah

Sedekah berasal dari kata shidqoh yang artinya benar. Oleh para ulama, orang yang suka bersedekah adalah orang yang benar pengakuan imannya. Dengan kata lain, sedekah adalah salah satu cara bagi seseorang untuk mewujudkan ataupun mencerminkan keimanannya.

Secara terminologi, sedekah dapat diartikan sebagai pemberian sukarela kepada orang lain, terutama kepada orang yang sangat membutuhkan bantuan. Sama seperti infak, sedekah juga tidak mengenal batasan besaran dan waktu tertentu. Selain itu, keistimewaan sedekah juga adalah wujud pemberiannya dapat bersifat materi maupun nonmateri. Memberikan senyum (tersenyum) pun dapat digolongkan sebagai bentuk bersedekah. Dari sifat hukumnya, sedekah bersifat sunnah.

Lembaga Filantropi Terpercaya Milik Masyarakat Indonesia

Lebih Dekat dengan Rumah Zakat, Lembaga Filantropi Terpercaya Milik Masyarakat Indonesia

Nah, setelah menengok kembali apa itu zakat, infak, dan sedekah, tentu kita bisa menarik kesimpulan betapa ketiga hal tersebut mencerminkan ajaran agama perihal pentingnya berbagi dan peduli kepda sesama. Yang juga perlu kita ingat adalah, tidak perlu menunggu kaya untuk bisa berbagi. Apalagi, dengan berbagi pun tidak akan mengurangi harta.

Selain itu, manfaatnya berbagi (baik itu zakat, infak, maupun sedekah) pun tidak hanya dirasakan oleh penerima, yang memberi pun dapat merasakan manfaatnya. Dengan memberi, kita sudah mengamalkan satu perintah agama, harta dan jiwa kita pun akan disucikan, dapat pahala pula. Kurang nikmat apa lagi, coba?

Untuk menyalurkan zakat, infak, maupun sedekah, kalian tidak perlu bingung. Seperti yang sduah saya singgung di awal, di Indonesia ada yang namanya Rumah Zakat. Rumah zakat hadir sebagai lembaga filantropi terbaik dalam menyalurkan kebahagiaan antara para donatur (pemberi) dan juga penerima manfaat.

Rumah Zakat tidak hanya berkomitmen menjadi lembaga yang terpercaya, progresif, dan profesional, tapi juga dapat berkolaborasi dengan beragam pihak demi terciptanya pemberdayaan masyarakat Indonesia. Saat ini Rumah Zakat menjadi salah satu LAZNAS yang paling dipercaya oleh masyarakat.

Dalam menjalankan aktivitas sosial, Rumah Zakat berangkat dari visi dan misi yang patut diapresiasi.

VISI : Lembaga Filantropi Internasional berbasis pemberdayaan yang profesional

MISI :

  • Berperan aktif dalam membangun jaringan filantropi Internasional
  • Memfasilitasi kemandirian masyarakat
  • Mengoptimalkan seluruh aspek sumber daya melalui keunggulan insani

lembaga rumah zakat

Sejauh ini, Rumah Zakat memiliki setidaknya tujuh program yang bisa menjadi sarana untuk penyaluran zakat, infak, sedekah, maupun dana/bantuan sosial lainnya, yaitu Desa Berdaya, Sekolah Juara, Beasiswa Juara, Ramadhan, Qurban, Wakaf, dan Bencana. Tujuh program tersebut adalah tujuh program utama ya, Gaes. jadi, di dalam setiap programnya, terbagi lagi dalam sederet program sosial dan kemanusiaan lainya. Contohnya seperti, Bimbingan Menghapal Alquran, Bantuan Pendidikan Langsung, Bantuan Guru Honorer, dan lain-lain.

Program-program tersebut pun hadir sebagai wujud dari lembaga filantropi milik masyarakat Indonesia yang mengelola zakat, infak, sedekah, serta dana kemanusiaan lainnya melalui serangkaian program terintegrasi di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan, untuk mewujudkan kebahagiaan masyarakat yang membutuhkan.

Program pemberdayaan di Desa Berdaya direalisasikan melalui empat rumpun utama yaitu:

  • Senyum Juara (pendidikan)
  • Senyum Sehat (kesehatan)
  • Senyum Mandiri (ekonomi)
  • Senyum Lestari (lingkungan)

Tahun ini, merayakannya ulang tahunnya yang ke-24 Rumah Zakat mengusung big campaign #SaatnyaTumbuhBersama. Gerakan ini bertujuan untuk mengajak masyarakat menumbuhkan optimisme dan semangat kolaborasi untuk tumbuh bersama setelah berjuang dan bertahan dalam menghadapi pandemi Covid-19. Diharapkan melalui gerakan ini, Rumah Zakat beserta seluruh lapisan masyarakat bisa terus tumbuh, dan optimis untuk menghadirkan manfaat bagi 1,5 juta penerima manfaat melalui optimalisasi dana zakat, infak, sedekah, wakaf, serta dana kemanusiaan lainnya yang dititipkan oleh para donatur.

Sebagai wujud atas nilai kredibilitas dan tata kelola, tahun ini umah Zakat kembali menerima Global Good Governance Awards untuk kategori 3G Social Impact Award 2022 dan 3G Social Responsibility Award 2022. Global Good Governance Awards atau 3G Awards merupakan program penghargaan utama yang menyoroti keunggulan dalam tata kelola yang baik dan komitmen terhadap kesejahteraan sosial dalam tiga sektor utama yakni pemerintah dan politik, sektor korporat, dan sektor sosial dan filantropi.

Jadi, terpampang nyata ya, kalau Rumah Zakat ini bukan lembaga kaleng-kaleng. Bagi teman-teman yang ingin menyalurkan zakat, infak, sedekah, maupun dana/bantuan sosial dan kemanusian lainnya, tidak perlu ragu untuk memilih Rumah Zakat sebagai pilihan yang tepat.

Untuk cara berdonasinya pun sangat mudah, tinggal mengunjungi laman web Rumah Zakat, di laman web tersebut bukan hanya terlampir cara berdonasi, tetapi juga segala macam info penting terkait Rumah Zakat, termasuk program yang sudah dijalankan.

Yang juga perlu menjadi perhatian bersama adalah dana yang didonasikan melalui Rumah Zakat bukan bersumber dan bukan untuk tujuan pencucian uang (money laundry), termasuk terorisme maupun tindak kejahatan lainnya.

Jadi, yuk zakat mudah ke Rumah Zakat, Lembaga Filantropi Terpercaya milik masyarakat Indonesia.

Demikian perkenalan kita dengan Rumah Zakat, semoga artikel ini bermanfaat ya, teman-teman. Semangat berbagi!

 

Referensi :

rumahzakat.org

republika.co.id