Seseorang pernah berkata, karya sastra ditujukan untuk seseorang dalam memahami pola pikir orang lain. Dengan membaca karya sastra, kita menjadi lebih mudah memahami sudut pandang orang yang berbeda dengan kita. Maka cukup adil jika kita lebih memahami bagaimana pola pikir orang yang tengah mengidap depresi lewat tulisan-tulisan mereka, lewat informasi yang bisa kita dapatkan dari seorang psikiater atau psikolog, sebelum kita mengatakan padanya soal iman dan justifikasi lain tentangnya.

from unsplash.com/@mathieustren

Suatu ketika saya membaca sebuah buku terjemahan yang menarik tentang depresi. Penulisnya adalah seorang penyidap distimia (bagian dari depresi juga). Jika sebelumnya saya sempat berada dalam pendapat bahwa, “depresi adalah akibat dari kurangnya iman” maka secara obyektif saya ingin mengakui bahwa pernyataan tersebut salah. Tulisan-tulisan saya yang dulu sempat dipublish lewat tumblr tentang depresi juga hanya menampilkan pendapat dari satu sisi saja.

Saya mengakui kesalahan itu, meskipun pada beberapa sisi ada bukti ilmiah yang membenarkan pendapat tentang bagaimana kebahagiaan itu ada. Bagaimana nilai spiritual sangat berpengaruh pada kondisi kebahagiaan seseorang yang dikemukakan oleh Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence. Namun teori dan pembuktian ilmiah tersebut tidak sepenuhnya dapat diterapkan di setiap persoalan. Apalagi diterapkan untuk seluruh manusia yang masing-masing pasti memiliki keunikannya sendiri.

Sedikit demi sedikit pandangan tentang depresi pun berubah, terlebih setelah membaca tiga puluh halaman pertama buku tersebut. Perubahan yang sedikit itu ingin saya tuliskan di sini, agar teman-teman juga memiliki pengetahuan tentangnya meskipun secuil.

Judul bukunya adalah I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki, buku terjemahan terbitan Haru Publishing karya Baek Se Hee, seorang karyawati di sebuah penerbit di Korea Selatan yang mengidap distimia. Saya tidak membahas bukunya sekarang, namun tulisan kali ini lebih menitikberatkan pada depresi itu sendiri. Depresi yang juga merupakan sebuah penyakit dalam tubuh dan pikiran manusia.

Depresi adalah sebuah gangguan mood yang menyebabkan perasaan depresif dan kehilangan kesenangan secara persisten. Gangguan depresi ini memengaruhi bagaimana kita merasa, berpikir, dan bertindak yang dapat mengakibatkan berbagai masalah emosional dan fisik. Menurut dr.Jemi Ardian, Sp.KJ keluhan ini perlu dirasakan dalam durasi waktu lebih dari dua minggu dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Selain itu, dapat terjadi penurunan berat badan, aktivitas dan pikiran yang melambat, kehilangan energi, merasa tidak berharga atau bersalah, pikiran berulang tentang kematian atau ide untuk mengakhiri hidup.

Bagaimana? Ciri di atas pernah dirasakan? Jangan dibiarkan berkembang biak yah!

Karena dr.Jemi menegaskan ada juga diagnosis yang lain yaitu persistent deppresive disorder (distimia). Distimia ini adalah bentuk kronis (jangka panjang) dari depresi. Seseorang dapat kehilangan ketertarikan yang normal pada aktivitas sehari-hari, merasa tidak ada harapan, produktivitas berkurang, harga diri yang rendah dan perasaan tidak layak. Distimia ini berbeda dengan depresi dalam derajatnya serta durasi waktunya yang sangat lama.

Bagaimana perasaanmu?

Ketika saya membaca penjelasan di atas, ada ungkapan yang spontan saja keluar dari kepala, “seperti saya tapi bukan saya”.

Kita memang bisa merasakan dan memahami bagaimana rasanya hidup dan berpikir seperti orang yang mengalami depresi dan distimia, namun kita tidak bisa mendiagnosis diri sendiri.

Pola pikir orang yang sedang mengalami depresi dan distimia seringkali memang unik.

Cara berpikir orang-orang yang sedang hidup dalam depresi dan distimia :

  1. Black and White Thinking

Pada keadaan ini, seseorang cenderung untuk melihat segala sesuatu sebagai 100% hitam dan 100% putih. Tidak ada abu=abu dan tidak ada warna lain. Seseorang cenderung berpikir terpolarisasi dalam keadaan depresi

  1. Overgeneralization

Seseorang bisa tampak sangat mudah menggeneralisasi suatu keadaan. Satu kejadian buruk dapat dianggap mewakili keseluruhan hidup.

  1. Personalisation

Seseorang dapat menganggap segala sesuatu yang terjadi adalah kesalahannya. Teman saya menjauh adalah kesalahan saya. Saya kesepian adalah kesalahan saya. Saya gagal adalah kesalahan saya. Gempa bumi dan tsunami juga kesalahan saya.

  1. Fortune Telling

Dalam keadaan ini, seseorang cenderung membayangkan masa depan, tapi dalam bayangan yang buruk. Masa depan saya pasti akan sia-sia. Pekerjaan saya akan digantikan oleh orang lain. Di masa depan saya bukan siapa-siapa.

  1. Mind Reading

Dalam cara berpikir ini, kita seakan bisa membayangkan isi pikiran orang lain. Ketika orang lain bicara hal yang netral pun dapat kita terjemahkan sebagai “dia pasti kayak gitu karena mau merendahkan saya”, “dia pasti kayak gitu untuk menghina saya”, seakan kita tahu motif orang lain melakukan sesuatu.

  1. Emotional Reasoning

Seseorang cenderung menggunakan emosinya sebagai landasan berpikir. Kalau saya merasa cemburu artinya “berarti pasangan saya selingkuh, karena saya merasa cemburu”. Saya merasa tertolak dan diabaikan maka artinya “kamu pasti sedang menolak dan mengabaikan saya”

  1. Disqualifying the Positive

Segala peristiwa yang masuk kita persepsikan dengan sudut pandang yang negatif. Kalau ada peristiwa positif yang kita alami, maka itu akan diartikan kembali buruk.

  1. Ambivalensi

Melatarbelakangi itu semua, bisa saja ada pikiran yang saling berkontradiksi yang keduanya sama-sama dirasakan. Bisa saja saya ingin mengakhiri hidup dan di saat yang bersamaan saya juga ingin hidup. Bisa saja saya ingin mendekati seseorang dan di saat yang bersamaan saya mendorong orang tersebut untuk menjauhi saya. Hal kontradiktif yang berada dalam persamaan ini dinamakan ambivalensi.

Iya, kadang manusia memang begitu membingungkan.

Namun pada akhirnya, tujuan manusia bukanlah menjadi sempurna, melainkan menjadi semakin baik dan semakin bertumbuh.

(Bersambung)