Part sebelumnya : Kekejaman Manusia dalam Revolusi (1)

 

Pada artikel sebelumnya, saya membahas tentang bagaimana perkembangan peradaban manusia memengaruhi lingkungan di sekitarnya, termasuk hewan dan tumbuhan. Kelompok-kelompok yang disebutkan dalam proses evolusi oleh Yuval Noah Harari ini diceritakan bukan berkembang ke arah yang lebih maju, tapi semakin mundur dan menyebabkan umur mereka pendek. Anatomi yang dimiliki manusia tidak disusun untuk mencangkul sawah, menabur benih di kebun dan hal-hal lain yang memberikan tumpuan lebih besar pada kakinya yang lemah. Yuval berkeyakinan, proses revolusi pertanian ciptaan manusia malah membuat mereka menjadi individu yang pesakitan, muncul berbagai macam penyakit, dan juga menimbulkan kesengsaraan pada spesies lain dalam ekosistemnya.

Salah satu bentuknya yaitu kisah malangnya hewan hasil domestikasi mulai dari dilahirkan hingga ia menjemput ajalnya di tangan algojo pasar daging.

unsplash.com/
@anniespratt

Tidak berhenti di satu metode yang menyesakkan. Metode lain yang tak kalah kejamnya adalah menjaga anak sapi dan kambing dekat dengan induknya. Menghalangi mereka dengan berbagai cara agar tidak menyusu terlalu banyak. Cara paling sederhana untuk melakukan itu adalah membiarkan anak mulai menyusu, lalu membawanya pergi begitu susu mulai mengalir. Metode ini biasanya ditanggapi dengan penolakan oleh anak maupun induk.

Sejumlah suku penggembala bahkan biasa membunuh si anak, memakan dagingnya, kemudian menyumpal kulitnya. Anak hasil awetan itu lalu disodorkan kepada induk sehingga keberadaan si anak mendorong produksi susu induk. Suku Nuer di Sudan bahkan sampai mengolesi anak awetan itu dengan air seni induknya, sehingga anak palsu itu memberikan bau hidup yang diakrabi sang induk.

Teknik Nuer lain adalah memasang cincin duri di sekeliling mulut anak, sehingga sang induk tertusuk dan menyebabkannya tidak mau disusui. (Edward Evan Evans-Pritchard, The Nuer : A Description of the Models of Livelihood and Political Institutions of a Nilotic People, Oxford University Press : 1969).

Namun tidak semua masyarakat pertanian dan peternakan sekejam itu terhadap hewan ternak. Kehidupan sejumlah hewan hasil domestikasi bisa cukup baik. Domba yang dipelihara demi wolnya, anjing dan kucing peliharaan, kuda perang, kuda balap dan beberapa hewan lain kerap kali menikmati kondisi yang nyaman.

Bahkan Kaisar Romawi Caligula konon berencana menunjuk kuda favoritnya, Incitatus untuk menjadi konsultan.

Namun dari sudut pandang kawanan ternak, bahkan sudut pandang gembala, sulit menghindari kesan bahwa sebagian sangat besar hewan hasil domestikasi, Revolusi Indutsri dan Pertanian adalah bencana mengerikan. Badak liar yang langka dan hampir punah barangkali lebih puas hidupnya daripada anak sapi yang menghabiskan hidupnya yang pendek di dalam kotak sempit. Digemukkan untuk menghasilkan steik yang lezat. Badak yang puas tidak berkurang kepuasannya karena menjadi anggota terakhir spesiesnya. Keberhasilan spesies sapi dalam segi jumlah bukan penghiburan bagi penderitaan yang ditanggung masing-masing sapi.

unsplash.com/@alexmunsell

Anak sapi modern dalam peternakan daging industrial segera setelah terlahir dipisahkan dari induknya. Lalu dikurung dalam kandang sempit yang tidak lebih besar daripada tubuhnya sendiri. Di sana, si anak sapi menghabiskan seluruh hidupnya, kira-kira empat bulan. Dia tidak pernah meninggalkan kandang, juga tidak diizinkan bermain dengan anak-anak sapi lain atau bahkan berjalan-jalan agar otot-ototnya tidak mengeras. Otot-otot yang lunak berarti steik yang lunak dan juicy. 

unsplash.com/
@joseignaciopompe

 

Kali pertama si anak sapi punya kesempatan untuk berjalan, meregangkan otot-ototnya dan bersentuhan dengan anak sapi lain adalah pada saat dalam perjalanan ke pejagalan. Nampaknya mereka adalah hewan paling sengsara di planet ini.