#BPNRamadan2020 

Salah satu pengaruh Covid-19 terhadap kehidupan sehari-hari kita adalah mendadak banyak lahirnya ilmuwan di Indonesia. Khususnya ilmuwan di bidang kesehatan. Masing-masing menyuarakan pendapatnya tentang pandemi ini. Teori-teori bermunculan, mulai dari lockdown hingga herd immunity yang pernah ditulis oleh Yuval Noah Hariri, seorang ahli sejarah kontroversial yang bukunya laris dibaca dimana-mana. Gelombang informasi masuk begitu cepat hingga banyak orang merasa lebih pintar dari seorang virology, dokter, hingga peneliti yang sesungguhnya, yang telah menempuh ratusan SKS semasa kuliahnya, bertahun-tahun stase yang dilewati untuk meraih gelar yang saat ini disandangnya.

Semua bebas berpendapat, semua bebas menjadi “ahli” ketika suatu fenomena menjadi viral. Ketika suatu fenomena menjadi perbincangan di sana-sini. Sempat tergelitik dengan podcast yang dibuat oleh seorang artis di Indonesia. Followernya ratusan ribu, yang melihat videonya pun jutaan. Sehingga saya pun khawatir masyarakat akan percaya, lalu bingung hingga kemudian lalai dengan apa yang sedang kita hadapi saat ini. Misleading pun terjadi. Taglinenya menenangkan, waspada boleh, panik jangan. Namun justru bentuk kepanikan itu disalah artikan menjadi sebuah sikap yang katanya terlalu paranoid. Padahal, apa yang telah kita lakukan #dirumahaja adalah satu bentuk kewaspadaan, bukan kepanikan atau bahkan takut berlebihan. Sudut pandang yang lain menyatakan bahwa #dirumahaja adalah salah satu bentuk dukungan pada tenaga medis untuk tetap menjaga agar tidak terjadi lonjakan pasien di waktu yang sama.

pict from unsplash.com/
@sushioutlaw

Ketika informasi menjadi sebuah gelombang tsunami yang menghantam makhluk bernama wanita, ini akan menjadi seperti dua sisi koin mata uang yang saling berseberangan. Wanita yang memang punya 20.000 kata dalam sehari ini bisa jadi penyebar hoax paling terdepan di masa-masa seperti ini. Pun dengan kekuatannya, akan dengan mudah informasi yang bermanfaat bisa menyebar dengan cepat lewat lisan maupun tulisan mereka. Meskipun kita mungkin tidak akan pernah lupa bahwa pembuat hoax terbaik adalah Pemerintah. Ngeri kan kalau ibu-ibu sudah ikut berpendapat tentang pandemi ini?

Ketika opini seorang artis ini menyebar dan dipercayai oleh sebagian dari mereka sebagai suatu sistem yang akhirnya menjadi penggerak, bisakah kita bayangkan bagaimana lonjakan pasien akan terjadi? Sedangkan kota kecil yang kita huni tidak siap dengan semua itu? Ketika si artis bertanya, sampai kapan kita di rumah? Sampai kapan kita harus percaya bahwa dengan di rumah saja segalanya akan baik-baik saja? Berada di rumah saja memang tidak akan menjamin virus akan hilang, berhenti mencari inang. Tapi dengan berada di rumah saja kita telah membantu tenaga kesehatan untuk beristirahat, memberi jeda bagi mereka yang sedang dirawat, memberi ruang bagi Rumah Sakit untuk terus mengoptimalkan pelayanan mereka.

Ketika lonjakan pasien terjadi, apakah si artis bisa menjamin mereka semua akan bisa dirawat? Angka memang bisa dimanipulasi, tapi apakah korban jiwa yang sudah berjatuhan, baik dari paramedis maupun rakyat sipil ini merupakan kepura-puraan belaka? Untuk apa? Oh, untuk vaksin? Lalu mengapa sekarang meributkan bahwa ini adalah konspirasi suatu negara agar vaksin itu laku? Apakah itu solusi? Sudah bukan saatnya membicarakan hal-hal yang membuat kita apatis dan menjadi manusia yang tak peduli dengan sekitar. Tak peduli dengan sekitar ini tentu saja paramedis dan semua yang berhubungan langsung dengan pelayanan Covid.

Orang-orang yang dituduhkan sebagai orang yang tidak peduli dengan rakyat kecil, yang diPHK, pro WFH, yang melarang orang keluar rumah, apakah sangat diyakini sebagai orang yang tidak peduli dengan sekitarnya? Mungkin kaca mata antara keduanya berbeda. Karena hal-hal seperti pembagian sembako, uang tunai, hingga santunan untuk anak-anaknya itu tidak diperlihatkan pada si artis seperti si artis tidak memperlihatkan amalnya pada dunia. Korban yang sekian banyak itu apakah kita tega menuduhnya sebagai angka yang direkayasa? Jikalau memang benar ini adalah konspirasi vaksin, apakah dengan memberi kabar pada banyak orang untuk tidak perlu patuh #dirumahaja adalah solusi saat ini?

Memangnya sejauh apa ilmu kita hingga bisa mengatakan bahwa perkara covid-19 adalah perkara yang dibuat-buat? Jikalau memang iya, apakah menjadi sebuah solusi di saat seperti ini kalau kita menyuarakan hal itu? Apakah kita akan percaya pada artis yang tidak punya keilmuan tentang kesehatan atau kita akan percaya pada tenaga medis yang menyarankan kita untuk #dirumahaja?

Saya pikir, semua punya porsi masing-masing. Jika memang tidak bisa bertahan di rumah karena terpaksa harus bekerja, maka lakukan saja. Namun bersifat adil-lah dengan tenaga kesehatan yang juga sedang berjuang agar tetap sehat dan bisa melayani pasien dengan optimal. Perhatikan bahwa tidak semua Rumah Sakit di Indonesia ini bisa menangani semua pasien jika terjadi lonjakan angka positif yang harus dirawat.

Lakukan saja sesuai porsimu, jangan mencari pembenaran hawa nafsumu yang masih bisa bertahan hidup ketika harus #dirumahaja. Porsi membicarakan kebijakan jauh lebih banyak dibanding porsi untuk membicarakan solusi. Sibuk dengan fenomena ini dan itu.

Sehingga orang bertanya-tanya, lalu apa yang harus kita lakukan? Terus berikhtiar untuk ikuti anjuran Pemerintah. Jawaban itu klise namun benar adanya.

Karena ini semua pasti akan berakhir, tidak akan selamanya. Dunia telah berubah, untuk itu kita harus siap apapun yang akan terjadi nantinya. Untuk saat ini, solusi adalah hal yang harus dipikirkan bersama. Bukan desas-desus konten yang dipercaya sebagai jalan keluar utama. Dunia berubah, kita perlu menyesuaikannya, seperti tulisan Pak Dahlan Iskan, its time to move-on! Karena dulu kita pun pernah beradaptasi dengan hilangnya wartel, lalu warnet.

Hadits tentang bahaya menyerahkan urusan kepada yang bukan ahlinya, telah ditegaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ( البخاري)

“Idzaa wussidal amru ilaa ghoiri ahlihi fantadziris saa’ah.”  Apabila perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah kiamat. (HR Al-Bukhari dari Abi Hurairah).

Percaya pada artis atau ahli kesehatan untuk menangani pandemi ini? Pilihan ada di tanganmu.

Malang, 21 April 2020

#BPNRamadan2020 Day 2.

Baca juga :

Dunia Pasca Corona, Refleksi dari Tulisan Yuval Noah Harari