“Memalukan! Penghianat dan aib bagi bangsamu!”

Enam bulan lalu kata-kata seperti ini akan menghancurkan Wish. Tetapi sebelum dia bertemu dengan Xar, dan Xar telah memberinya keberanian. Lalu Wish mendapati dirinya tidak lagi takut pada Ibu yang membakar hutan dan menjerat Raksasa vegetarian yang disayanginya dengan tombak, dan memarahinya dengan julukan-julukan mengerikan.

Buku ketiga dari seri The Wizard of Once ini lebih seru lagi. Banyak tokoh baru bermunculan dan membantu Wish serta Xar untuk memenuhi misi menghancurkan Penyihir Hitam. Xar belajar banyak dari perjalanannya selama ini bersama Wish, Bodkin, para peri, serigala Lonesome, dan juga para hewan peliharaannya. Xar tetap ceria meskipun berada dalam bahaya. Xar yang tetap tidak pernah menghilangkan jiwa kepemimpinannya meskipun ia sendiri takut dengan apa yang sedang dihadapinya.

 

Wish juga belajar banyak dari Xar dan para peri serta segala macam makhluk hidup aneh yang tiba-tiba sekarang menjadi kawan baiknya. Benarlah apa kata pepatah bahwa perjalanan selalu mengajarkan pada kita hal-hal yang selama ini mungkin belum pernah kita temui.

Keduanya semakin dekat dengan kelengkapan bahan yang dikumpulkan untuk menjadikannya sebagai mantra penumpas Raja Penyihir Hitam. Dibantu oleh kawanan penyihir di Bukit Pook. Mereka memang masih dianggap anak-anak. Namun keberaniannya meluluhkan hati Madam Perdita, kepala sekolah sihir di Bukit Pook. Hingga saat para Penyihir Hitam datang dan merusak benteng pertahanan di Bukit Pook, Madam Perdita memberi mereka jalan untuk segera lari dan mengambil sisik Nuckalavee yang mereka butuhkan.

 

 

Namun tentu saja perjalanan mereka tidak semudah itu. Nuckalavee adalah makhluk laut yang besar, buas, bermata tiga belas dan sangat ditakuti oleh para Penyihir. Karena siapa saja yang menghadapi Nuckalavee, maka kekuatan sihirnya akan hilang, dan akan muncul kembali setelah keluar dari Pulau Nuckalavee.

 

Masalah tidak berhenti ketika mereka berhasil menemukan Nuckalavee. Buku ketiga ini lebih seru, lebih menyedihkan dan tentu saja tiap babnya selalu berhasil membuatku penasaran hingga tak bisa berhenti di tengah jalan untuk membacanya. Tahu kan bagaimana rasa penasarannya wanita? Hingga tak terasa waktu tidur pun hanya tiga jam hanya untuk menamatkan seri ketiga ini.

 

Wish dan Xar menjadi buronan yang diburu oleh Bangsa Ksatria dan Penyihir, dan yang lebih buruk lagi, mereka diburu oleh Penyihir Hitam. Selagi mereka menjalankan misi yang sangat menakutkan dan berbahaya, yaitu menemukan bahan-bahan pembuat mantra penumpas Penyihir Hitam, ada seseorang yang mengkhianati mereka.

 

Epilognya pun tak terduga. Antara simpati, gemas dan kesal campur jadi satu. Karena si Encanzo dan Ratu Schysorax masih aja adu mulut. Ngga capek apa yah, huhu..
Cressida benar-benar mengobati kangenku pada Harry Potter dan teman-temannya. Sungguh, tahun ini dan seterusnya sepertinya aku akan selalu menunggu rilisnya The Wizard Of Once menjadi film. Luar biasa epic!

 

 

Aku pun belajar memaafkan dari seri Knock Three Times ini. Tak ada manusia yang sempurna. Oleh karena itu semua orang berhak mendapatkan kesempatan keduanya. 

Nilai kekeluargaan, persahabatan dan isu kemanusiaan dalam novel ini menjadikan cerita lebih hidup dan sangat sayang untuk dilewatkan. Hats off lah untuk Cressida Cowell!

The Wizard of Once, Knock Three Times by Cressida Cowell.
Mahaka Publishing, Cetakan 1 Desember 2019, 400halaman.
4/5