Kisah Perjalanan di 7 Negara Bagian Amerika Serikat

Pertama, kegeniusan Nabi Muhammad sebagai seorang pemimpin bisa dilihat melalui perbandingan dengan pemimpin-pemimpin agama lain, seperti Isa dan Buddha Gautama. Mike berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad memiliki keunggulan jika dibandingkan dengan kedua pemimpin agama ini, yakni pernah memimpin angkatan perang. Dalam sejarah, Isa dan Buddha Gautama tidak pernah melakukan hal yang sama. Bahkan bukan hanya satu atau dua kali Nabi Muhammad memperoleh kemenangan ketika memimpin pasukan kaum muslimin.

“Dari satu fakta ini saja,” kata Mike (University of Massachusetts Civic Initiative), “sudah terbukti bahwa Muhammad seorang pemimpin politik yang genius.”

(Dari Amerika Kurindukan Kabah, halaman 80)

 

Kutipan paragraf di atas adalah salah satu pojok favorit saya ketika selesai menuntaskan buku ini. Dari Amerika Kurindukan Kabah adalah sebuah catatan perjalanan seorang laki-laki, seorang Ayah yang merindukan keluarganya di tengah gegap gempitanya umat Muslim merayakan hari rayanya. Catatan seorang anak dari kedua orang tua yang menjual satu-satunya sapi miliknya untuk pendidikan anaknya.

 

Buku ini dibuka dengan sebuah cerita di sudut kota Amherst, sebuah kota kecil di Negara Bagian Massachusetts, Amerika Serikat. Seorang pria berusia awal empat puluhan sedang menjalani program short coursenya di Amerika, pada bulan puasa, mendekati hari raya Idul Fitri tahun itu. Berat baginya meninggalkan tanggung jawab di tanah air untuk sementara pada istrinya. Namun, berkat peneguhan dan kekuatan dari istri dan anak-anaknya lah akhirnya ia bisa tetap kuat menjalani program short course. Demi masa depan lebih baik, begitu kalau kata orang-orang.

 

Kisah demi kisah dituturkannya dengan sangat apik selama ia menjalani program short coursenya di Amerika. Perjalanan spiritual (begitulah penulis menyebutnya) yang diarungi selama kurang lebih enam minggu ini memberikan banyak sekali pengetahuan dan sudut pandang baru baginya. Termasuk bagi saya sebagai pembaca.

Salah satu cerita yang menjadi tema besar dalam judulnya diambil dari pengalamannya ketika harus menunaikan salat pertama kalinya setelah menginjak Amerika Serikat. Sebagai seorang Indonesia, ia secara refleks menghadapkan wajahnya ke barat saat shalat. Namun, ia segera menyadari kesalahannya. Dari Amerika Serikat, Ka’bah berada di sebelah timur, bukan barat. Usai shalat ia terdiam. Arah kiblat yang salah telah membawanya pada banyak perenungan. Kemudian berujung pada kerinduan terhadap Ka’bah. Hatinya masygul. Eropa dan Amerika telah ia singgahi, sementara Ka’bah, kiblatnya yang paling asasi, belum ia kunjungi. Bukankah Eropa dan Amerika lebih jauh dari Saudi Arabia? Kerinduan pada Ka’bah menggelora justru saat ia berada jauh di Amerika.

 

Sesekali saya menikmati bagaimana perjalanan yang dilalui selama berada di sana. Sesekali saya juga diajak untuk berpikir tentang pengetahuan baru yang belum tentu semua orang mengetahuinya, apa dan bagaimana di balik Amerika. Karena selama ini, pikiran kita selalu terbentuk oleh stereotipe yang diciptakan oleh entah siapa.

 

Sudut-sudut kora New York, Boston, Washington DC, Hartford dan kota-kota lain seperti hidup dan nyata di depan mata. Meskipun dikatakan sebagai catatan perjalanan, namun buku ini memberikan saya pengetahuan baru tentang sejarah, refleksi filosofi dan ilmiah dari sebuah negara adidaya, Amerika Serikat.

 

 

Dari Amerika Kurindukan Kabah

Pradana Boy, ZTF

Penerbit Bhuana Ilmu Populer Gramedia, Jakarta, 169 halaman.

3.5/5

Leave a Reply