Lingkar Tanah Lingkar Air

“Jangan berputus asa seperti itu,” aku bilang. “Kiram, tadi kamu mengandaikan kabar dan selebaran itu benar. Dengan demikian ada kemungkinan tanda tangan Khalifah pada selebaran yang menganjurkan kita untuk meletakkan senjata adalah benar pula. Kamu tidak mau taat kepada Khalifah?”

Hening. Tiba-tiba Kiram bangkit meraih senjatanya. Aku tak sadar betul apa yang kemudian terjadi, yang jelas aku melihat senjata Kiram sudah tertuju lurus ke arah perutku.

Lingkar Tanah Lingkar Air adalah karya penulis legendaris masa Orde Baru, Ahmad Tohari. Bahkan hingga saat ini pun karya beliau masih banyak diminati oleh pembacanya sendiri. Terbit pertama kali dalam bentuk cerita bersambung pada tahun 1990 oleh Penerbit Republika. Kemudian disatukan hingga menjadi sebuah novel yang bahasannya cukup menarik. Khas Ahmad Tohari yang selalu berhasil menceritakan berbagai macam latar atau tempat seolah pembaca juga ikut di dalamnya. Sehingga tidak heran jika novel yang boleh dibaca untuk usia tujuh belas tahun ke atas ini sudah naik cetak beberapa kali.

Lingkar Tanah Lingkar Air menceritakan tentang pergolakan perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia antara tahun 1946 – 1950. Pergolakan ini menyeret pemuda kampung ke dalam kancah perjuangan bersenjata. Diantara mereka adalah Amid dan kawan-kawannya yang berjuang di bawah panji Hizbullah. Amid dan kawan-kawan bertempur dan membela kemerdekaan RI sebagai kewajiban iman mereka. Amid pribadi bertekad setelah situasi damai akan bergabung menjadi anggota tentara resmi negara.

Namun siapa sangka, Amid berada dalam situasi yang salah sehingga ia harus terseret masuk menjadi anggota laskar DI (Darul Islam) yang menentang Pemerintah RI. Amid yang sebenarnya adalah orang yang sangat mencintai tanah air sering bimbang karena pasukannya sering memerangi warga yang seagama, bahkan suatu kali Amid menembak mati seorang tentara yang di sakunya tersimpan kitab suci dan tasbih. Penyesalan yang dipendamnya ini membuat hidupnya tidak tentram dimana pun ia berada. Ia merasa ada yang salah pada diri dan kelompoknya. Apalagi kedua temannya selalu keras kepala jika diajak untuk menyerahkan diri dan memulai hidup baru dan tentram di kampung.

Suatu kali Pemerintah benar-benar akan memberikan ampunan pada mantan anggota DI. Saat itu pula Amid menyimpan harapan untuk bisa kembali pada anak dan istrinya yang juga sedang dalam pelarian. Tidak mudah memang bagi laskar DI untuk kembali ke tengah masyarakat. Kebencian mereka, terutama orang-orang komunis, terhadap laskar DI tentulah tidak serta merta hilang hanya karena mereka telah mendapat pengampunan Pemerintah. Apalagi banyak orang yang sudah tahu bahwa semua perampokan dan pembunuhan terhadap warga masyarakat menjadi beban dosa bagi mantan laskar DI/TII ini. Masyarakat akan sulit percaya bahwa bukan hanya mereka, melainkan juga orang-orang komunis, oknum OPR, mungkin juga bajingan yang ingin memanfaatkan situasi keruh, juga sering menggarong rakyat.

Amid dan kawan-kawan akhirnya menerima perlakuan negatif dari orang-orang di sekitarnya saat dulu hidup normal. Bahkan pada saat upacara dan kegiatan indoktrinisasi yang dijalani banyak tokoh-tokok politik menuduh mantan laskar DI/TII mengatasnamakan Tuhan untuk perampokan-perampokan yang sering terjadi. Suara mereka nyaris sama dengan suara dari kalangan komunis. Amid sungguh malu. Andai mereka tahu sebenarnya bahwa Amid dan kawannya hanya ingin disebut sebagai orang-orang yang kalah perang dan kini menyerah secara kestaria.

Kisah unik yang disampaikan oleh Ahmad Tohari ini mengangkat isu perihal DI atau mungkin saat ini mirip dengan Hizbut Tahrir Indonesia yang punya cita-cita untuk menyatukan seluruh negara Islam di dunia untuk mendirikan sebuah negara dengan sistem Kekhalifahan. Isu yang masih hangat dan akan terus hangat hingga saat ini. Ternyata, sejarah berulang. Darul Islamiyah masih memiliki nafasnya di sendi-sendi kehidupan bangsa ini. Walau pun gerakannya tidak se’brutal’ dulu. Merampok, merampas, hingga melakukan pembunuhan.

Menariknya dari novel ini diangkat dengan sudut pandang yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Untuk mengangkat novel dengan tema kontroversial seperti ini tentu tidak mudah. Apalagi diambil dari sudut pandang Darul Islamiyah. Untuk menjadi DI tentu kita harus menyelami bagaimana pola pikir dan gerakan mereka. Riset yang dilakukan Ahmad Tohari tentu tidak mudah. Oleh karena itu ini salah satu novel yang saya rekomendasikan untuk menyelami bagaimana kira-kira kerangka pikir mereka yang disebut makar pada Pemerintah Indonesia.

Berhasil kah Amid dan kawan-kawan melewati ujian ini? Sanggup kah mereka menanggung malu ketika memulai kehidupan yang baru di tanah kelahiran masing-masing? Bisakah masyarakat memaafkan segala perbuatan mereka? Akankah mereka diampuni secara sosial?

Baca selengkapnya :

Lingkar Tanah Lingkar Air oleh Ahmad Tohari. ⁣⁣⁣⁣⁣⁣
Cetakan kedua, Januari 2019⁣⁣⁣⁣⁣⁣
Penerbit Gramedia, 168 halaman. ⁣⁣⁣⁣⁣⁣
3/5⁣⁣⁣⁣⁣⁣

2 comments

    • Prajna Patriani on September 28, 2019 at 10:00 pm

    Reply

    Ulasan buku yg detail, kata katanya persuasif banget, keren kakak 🌹🌹

    • Dewie dean on September 29, 2019 at 2:18 am

    Reply

    Jadi pengen baca

Leave a Reply