“Kamu tidak ingat lagi?” tanya wanita paruh baya di depanku. Suaranya familiar, aku mengingatnya sama seperti aku mengingat bagaimana rasa susu hangat kemarin sore yang ia sajikan. Tapi aku tak ingat sama sekali dengan wajahnya.

Aku menggeleng dan memainkan makanan di depanku.
Tangannya kemudian merebut makanan yang kupegang.

“Tidak. Tidak boleh memainkan makanan!” seru wanita itu hingga membuatku kaget setengah mati.

Refleks aku melepaskan makanan yang kugenggam sedari tadi, kemudian aku menundukkan kepalaku, menghindari tatapan matanya yang menghakimi.
“Adek, ini mamah! Perhatikan kata-kata Mamah, jangan pernah memainkan makanan lagi. Makanan itu untuk dimakan, tidak boleh buat mainan. Mengerti?”

Sekuat tenaga aku tidak berkedip, agar aku bisa mengingat betul wajah seseorang yang ia sebut Mamah ini.
Tapi aku tidak akan bertahan hidup jika tidak berkedip.

Ah, prosopagnosia ini begitu menyiksaku.
Mengingatnya, aku jadi ingin mengingat masa kecilku. Masa-masa sebelum waktu merusak semuanya.

Masa-masa sebelum infant amnesia menyerang otakku dan otak anak-anak yang lain setelah mereka berusia tiga tahun.
Apakah memori itu benar terjadi atau hanya karangan? Bisakah kita mengingat suatu peristiwa tanpa kata-kata untuk menggambarkannya? Dan mungkinkah suatu hari kita memperoleh kembali ingatan ini? Ingatan yang ingin sekali kuhimpun sebelum prosopagnosia merusak syaraf dan otakku? Ingatan sebelum infant amnesia menyerang.

Aku berusaha sekuat tenaga agar ingatanku ini utuh, tidak terpecah, hilang, atau menjadi buram seiring dengan waktu yang berjalan.
Aku ingin ingatan yang jelas dan utuh! Aku tidak akan membiarkan orang tuaku mengubah apa yang telah kuikrarkan pada malaikat saat ruh ditiupkan pada jasadku. Kesaksian yang suci, tidak main-main dan tak akan kuingkari hingga akhir hayatku nanti.

Aku mencoba mengingat-ingat bagaimana ibuku pertama kali menyambutku. Aku juga mencoba mengingat bagaimana ayahku pertama kali membisikkan kalimat indahnya untukku sebelum aku bisa membuka mata. Aku mencoba mengingat bagaimana ibuku mengalami perubahan emosi yang tiba-tiba saat aku mulai mencoba menyuarakan lelahku di pembaringan. Selamanya aku ingin mengingat bagaimana pertama kali aku belajar duduk, berdiri kemudian berjalan. Seperti yang diceritakan dalam buku-buku yang kubaca.

Sekuat apapun aku mencoba mengumpulkan ingatan-ingatan pra infant amnesia itu, kepalaku semakin sakit dan tidak pernah kutemukan jawabannya.
Tolong, aku hanya ingin waktu diputar kembali. Aku akan melukiskan wajah ayah dan ibuku agar prosopagnosia tidak akan pernah merusak memoriku tentang wajah orang-orang yang aku sayangi.

Siapa yang bisa menolongku mengembalikan waktu?

#nubarjatimchallenge