Pesanku adalah agar teman-teman sekalian menjauhi kartu kredit. Siapapun, baik yang sudah menjadi korban maupun yang masih menikmati fasilitas-fasilitasnya. Untuk yang menikmati fasilitas semacam promo tiket renang, cicilan 0%, fasilitas lounge bandara, dan sebagainya.. Tegakah anda menikmati sejumlah fasilitas itu? Jika anda tahu bahwa ia dibiayai oleh tangis dan tekanan korban jeratan riba di luar sana?

(Jalan Hijrah Para Ribavora halaman 126)

 

Beberapa minggu belakangan ini persoalan rumah tangga tengah menghadang kami. Sampai-sampai saya yang terlampau bosan dengan tidak adanya kemajuan finansial dalam keluarga kecil ini jadi uring-uringan dan sempat mogok masak (lho?) hehe. Seringkali ujian rumah tangga tidak hanya berasal dari orang ketiga. Namun yang menyakitkan justru berasal dari keluarga sendiri. Ada saja yang menghalangi kami untuk konsisten menabung setiap bulan. Ada saja keluarga yang selalu mengajukan pinjaman namun tak segera dikembalikan, bahkan hingga bertahun-tahun waktu berselang.

Saya sempat ngamuk, otomatis setan jadi mudah menguasai saya. Menghasut dengan berbagai bisikan dan caranya agar saya semakin jauh dari Allah dan ridha suami. Saya bahkan sempat berpikir untuk berpisah dan hidup mandiri, toh saya sudah punya pekerjaan yang mencukupi. Namun beruntungnya suami selalu sabar mendengar dan menemani saya yang moodnya suka banget naik turun macam roller coaster. Dia hanya memberikan nasihat singkat dan sedikit berubah, jadi lebih perhatian dan romantis. Kemana-mana maunya ngintil, haha. Semata-mata demi memperbaiki hubungan kami yang sempat berjarak.

 

Sampai akhirnya buku yang saya pesan berjudul Ribavora berada dalam genggaman. Saya mulai membacanya dan sedikit demi sedikit mulai memahami maksud nasihat suami. Saya yang terus-terusan ingin segera punya rumah sendiri memang sempat akan dituruti suami (mungkin karena beliau lelah terus-terusan mendengar rengekan istrinya). Beruntung Allah segera memberikan hidayah lewat komik ini. Baru seperempat buku yang habis saya baca malam itu membuat saya takut untuk mengajukan KPR. Hingga buku itu selesai saya baca akhirnya kembali melihat pada kemampuan diri dan bertekad untuk tidak mengajukan KPR atau hutang riba dalam bentuk apapun dan pada siapapun. Saya semakin memahami kemana arah suami ingin melangkah demi keberkahan rumah tangga kami.

Saya terbangun dari obsesi yang dikuasai oleh nafsu bahwa riba bukan solusi yang baik untuk memperbaiki keadaan. Jika kemarin saya berpikir dengan punya rumah sendiri kondisi rumah tangga akan jauh lebih tentram, maka sekarang saya berpikir sebaliknya. Saat ini mungkin saya belum bisa memiliki rumah seperti teman-teman yang lain. Tidak juga punya kendaraan roda empat. Namun hal paling membahagiakan adalah kami tidak punya hutang sama sekali. Satu hal yang patut disyukuri dalam setiap sujud. Apa jadinya kalau kami jadi mengajukan KPR, bangun tidur yang terpikir mungkin hanya cicilan dan cicilan.

“Mas, aku ngga jadi pengin rumah deh.” Ucapku usai sarapan. Suami mengerutkan keningnya.

“Aku habis baca buku ini jadi takut mau ngutang, apalagi sama bank. Kita nabung nyicil beli tanah aja dulu yuk!” ujarku bersemangat.

“Nabung buat haji dulu.”

“Kok haji?”

“Lebih masuk akal yang mana? Haji atau tanah? Kan lebih dekat ke haji.” Suami masih kekeuh dengan pendapatnya seperti lima tahun yang lalu.

Saya sadar, betul juga. Allah kan Maha Kaya. Siapa tahu setelah haji, Allah bukakan pintu rizki untuk punya rumah. Eh, boleh ngga ya doa seperti ini? Hehehe..

 

Seolah-olah Allah terus memberi saya pelajaran, tiap kalimat dalam narasi komik Ribavora selalu menampar pipi saya, kanan dan kiri. Setiap bab selalu jadi pelajaran untuk meredam hawa nafsu yang meninggi. Setiap bab selalu menyentuh palung terdalam hati, jauh di bawah sana bahwa ketentraman yang selama ini Allah hadirkan dalam keluarga apakah belum cukup hingga harus melakukan riba untuk meraih obsesi?

Ketika saya membuat review komik Ribavora ini, saya sudah menyisihkan beberapa lembar uang dalam dompet untuk ditabung. Rencana makan siang di luar nanti agaknya acara terakhir bersama teman-teman untuk nongki bareng sebelum sahabat pamitan untuk melahirkan. Toh pagi tadi saya sudah memasak ayam kecap, sayur kangkung, tahu goreng dan sambal kesukaan suami, jadi mungkin menu steak ala warung bisa sepiring berdua siang ini.

Setelah menamatkan Ribavora saya jadi semakin bahagia, semakin bersyukur dan semakin ingin menabung setiap hari. Bahagia karena saya tidak punya hutang. Bersyukur karena Allah masih hadirkan hidayah dalam hati untuk tetap istikamah berada di jalan Allah. Semakin ingin menabung karena juga ingin punya rumah seperti om Squ dengan prinsip nabung-bangun-stop dan seterusnya. Butuh waktu lama memang, tapi insyaAllah berkah dan hati tentram karena tidak dikejar-kejar hutang atau cicilan.

Bersyukur karena saya masih punya iman. Masih percaya bahwa Allah Maha Kaya. Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Aamiin.

 

 

Jalan Hijrah Para Ribavora

Penulis : Squ, dkk

Ilustrasi : Doni Kudjo

Penerbit Little Hana Publisher, cetakan kedua April 2019, 198 halaman.

4.5/5