Ramalan Rasulullah di tahun 8-9 Hijriah tentang orang-orang “yang pandai membaca al-Qur’an tetapi tidak sampai melewati tenggorokannya”, “keluar dari agamanya secepat lepasnya anak panah lepas dari busurnya” dan “salat kalian tidak ada apa-apanya dibanding salat mereka, puasa kalian tidak ada apa-apanya dibanding puasa mereka” serta pembunuh Ali bin Abi Thalib yang dinyatakan “seburuk-buruknya manusia” menjadi kenyataan benar di tahun 40 Hijriah.

Masak Hijrah Begitu adalah salah satu diantara empat buku yang sudah pernah saya baca tentang fenomena Hijrah masa kini. Ulasan-ulasan mengenai itu juga sudah banyak sekali beredar baik di daring maupun luring. Termasuk tulisan saya sebelumnya tentang apa itu Hijrah dan hubungannya dengan Perekonomian. Buku perdana Om Edi Ah Iyubenu di tahun 2020 ini seolah mengingatkan saya kembali tentang fenomena yang sedang hype ini.

Dulunya, mungkin saya akan berpikir bahwa isi buku ini murni seorang yang nyinyir pada kebaikan. Dulunya, sebelum saya mendapat hidayah dan bertaubat, hehehe..

Karena proses menuju kebaikan itu sendiri adalah suatu hal yang harus kita hargai. Oleh karena itu Om Edi mengatakan bahwa : Kepada kita yang memiliki keluarga atau sahabat yang sedang berhijrah, dan dia belum berada di derajat kearifan, mari kita lapangkan hati dan tangan kepadanya untuk tetap kita peluk sebagai keluarga dan sahabat. Mari pahami dia sebagai sosok pejalan yang baru saja mulai melangkah, hingga secara alamiah wajar belaka bila ia terlihat terseok-seok, tertatih-tatih, sesekali terjerembab jatuh, untuk bangkit lagi, kembali berjalan melangkah dan seterusnya. 

Jangan tinggalkan dia, jangan asingkan dia, jangan pula dicemooh serta dihinakan. Begitu kira-kira tutur Om Edi Ah Iyubenu. Karena segala bentuk kekerasan dan kekasaran takkan menolong apa pun baginya.

Beberapa waktu lalu saya menyadari betapa makna hijrah saat ini banyak sekali ditunggangi dengan kepentingan-kepentingan yang tidak semestinya ada. Sehingga apa yang diungkapkan Om Iyabenu dalam bukunya tentang celetukan-celetukan miris seperti :

“Dulu, sebelum hijrah dia jauh dari Tuhan, setelah hijrah dia menjadi Tuhan.”

“Dulu, sebelum hijrah ia berlumur dosa, setelah hijrah, orang lainlah yang berlumur dosa.”

“Dulu, sebelum hijrah ia patuh pada orang tuanya, setelah hijrah, orang tuanyalah yang harus patuh padanya.”

Ini adalah ungkapan-ungkapan yang menunjukkan kekecewaan terhadap sejumlah praktik hijrah hari ini. Mengapa bisa begitu?

Kita sendiri yang tahu jawabannya.

Oleh karena itu di sinilah pentingnya memperdalam ilmu. Memperoleh ilmu pengetahuan dari jalan apapun, bebas saja memang. Entah dari buku, kajian, pengajian, diskusi hingga internet. Apa saja. Tetapi memang afdhalnya kita mesti memiliki guru langsung. Begitulah yang dituliskan oleh Om Edi. Guru ini kedudukannya sangat penting dan krusial. Sosok yang kita yakini kedalaman ilmu dan kebijaksanaannya dalam menyikapi segala dinamika hidup murid-muridnya. Kebijaksanaan inilah yang berkerucut langsung dalam laku-laku akhlak karimah.

Rasanya buku ini berdaging semua, dari halaman ke halaman selanjutnya, hingga akhir. Hampir tidak ada yang tidak penting untuk disampaikan pada pembaca, khususnya bagi teman-teman yang baru berhijrah. Hijrah, sebagaimana telah didedahkan Om Edi Ah Iyubenu dalam bukunya ini secara panjang lebar, hakikatnya adalah pertaubatan, tiada lain adalah al-harakah al-jauhariyah, ekspresinya adalah semata memperdalam iman, meneguhkan takwa, dan merebakkan akhlak karimah. Kita mesti istiqamah di sana, dalam segala dinamika dan tantangannya.

Jangan sampai keislaman yang selama ini kita ikrarkan dan jalankan, hanya sebatas tenggorokan. Naudzubillah.

Sebagai penutupnya Om Edi menyampaikan beberapa point penting dalam Bab Hawa Nafsu untuk Mengubah Takdir Dunia. Salah satu yang paling mengena dalam hati dan pikiran saya adalah :

Allah adalah Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Umpama hari ini kita beramal saleh dengan penuh takwa kepadaNya, janganlah jemawa. Sebab tiada jaminan kita akan berujung khusnul khatimah. Pun sebaliknya, kepada orang yang kini sedang bermaksiat, jangan pernah menudingnya bakal su’ul khatimah. Sebab boleh jadi dia akan diberiNya husnul khatimah.

Bagi teman-teman yang baru hijrah, buku ini sungguh menginspirasi. Terlebih akan membawa kita pada sakinah. Ketenangan jiwa. Insya Allah. Jangan alergi dulu dengan judul yang mungkin sedikit sarkas, mari kita baca dulu bagaimana Om Edi Ah Iyubenu menyampaikan pendapat dan segala ilmunya dengan bijaksana.

Must Read!

Jangan sampai kecintaanmu kepada sesuatu menjadi rantai yang membelenggu hatimu. Dan jangan sampai kebencianmu pada sesuatu menjadi sebab bagi kehancuranmu. 

(Umar bin Khattab radhiallahu’anhu)

Judul : Masak Hijrah Begitu?

Penulis : Edi AH Iyubenu

Cetakan Pertama, Januari 2020

Penerbit DivaPress, 264 halaman.

4/5