Sinarnya Isya

Entah darimana aku harus memulai cerita. Hari itu, Allah menurunkan malaikat kecilnya lewat baby Sinar untuk membantu Isya. Kami tak saling mengenal sebelumnya, juga tak pernah bertatap muka hingga Isya berusia satu bulan.
Awalnya aku hanya bercerita pada sahabatku bahwa insyaAllah dua hari lagi aku akan membawa pulang baby Isya dari Rumah Sakit. Tinggal bertiga di gubuk kecil kami. Belajar bersama tentang hidup, eaa.

Lalu datanglah Ibu Sinar dengan segala kerendahan hati dan kebaikannya, semoga Allah senantiasa merahmati keluarga ini. Ia menawarkan asinya yang melimpah dan insyaAllah penuh berkah itu untuk Isya.
Betapa terharunya aku, ia datang di saat dan waktu yang sangat tepat. Isya baru berumur empat hari, tak tega rasanya jika ia hanya minum susu formula. Sedangkan aku, jangankan air susu, hormon pun mungkin sudah tak normal. Allah selalu punya cara lain untuk mengatur rizki umatNya, termasuk Isya. Alhamdulillah..

Bahkan setelah rutin mengirimi kami ASI, ibu Sinar menyempatkan waktunya untuk datang menjenguk Isya. Padahal aku tahu dia wanita sibuk, membesarkan Sinar sekaligus bekerja agar kehidupannya baik. MasyaAllah, bersyukur sekali Isya punya Ibu susu seperti Ibu Sinar.
Lalu hari ini mendengar Sinar sakit, rasanya Isya seperti ikut sedih memikirkan saudarinya itu. Dua hari ini rewel dan sedikit tidur.
Duh Sinar, sesak sekali tidak bisa berlari sesegera mungkin untuk melihatmu.
Saudara seiman sekaligus sepersusuan Isya, mudah-mudahan kelak nanti kalian berdua saling menyayangi ya, saling menasihati dalam kebenaran, juga menjadi wanita shalihah yang membawa ibu kalian menuju surga. Aamiin.

Cepat sembuh ya Mbak Sinar, sehat-sehat terus. Isya janji nanti ajak mbak Sinar berenang bareng! Mbak Sinar sembuh dulu ya, jangan sambang UGD lagi.

With love,
Isya.