Semalam saya kecolongan lagi. Isya kejedot tembok sampai nangis heboh ngga ada obat. Padahal dia ini anak yang lumayan betah sakit. Atau mungkin memang syaraf sakitnya belum terbentuk sempurna yah, jadi kalau dicubit kadang ngga nangis. Bahkan pernah ngga sengaja kejedot box strollernya juga dia ngga nangis.

Memang benar begitu ngga sih Bu Ibuk? Tinggalkan komen yaa kalau ada yang tahu soal syaraf sakit ini.

Sudah dua kali Isya kejedot yang bikin dia nangis heboh ngga berhenti-berhenti. Yang pertama dulu karena saya tinggal angetin makanan dan Isya saya titipkan Bapaknya yang baru pulang kerja.

Baru juga nyalain kompor udah bunyi gedebug yang keras. Firasat ngga enak, eh ternyata bener Isya jatuh dari kasur yang tingginya sekitar satu meter itu. Otomatis saya panik sekaligus sedih, juga marah. Tapi saat itu sebisa mungkin saya tahan emosi agar Isya tidak semakin menangis karena hati ibunya yang justru sedang naik darah.

Sesaat setelah jatuh, Bapaknya langsung sigap gendongin dia dengan muka panik dan tentu saja perasaan bersalah. Saya hanya bisa menenangkan Isya dengan metode kasih susu atau gendongin dia sambil usap-usap kepalanya. Sambil berpesan pada Bapaknya, jangan diulang lagi ya. Namun ternyata bukan Bapaknya yang mengulang, tapi saya. Hmm kapokmu kapan~

Malam tadi saya sudah ngantuk berat, teler, pokoknya inginnya segera tidur menutup mata. Tapi Isya masih full battery dan sibuk merayap kesana kemari di atas kasur. Sampai akhirnya tahu-tahu saya mendengar suara jedug, lalu terdengarlah tangisan Isya yang super heboh itu. Mata yang semula tinggal 5watt jadi 100watt lagi, melek, padang jingglang.
Isya kejeduk tembok dan saya lalai karena tertidur. Bapaknya hanya bertanya,
“Kenapa?”
“Kejeduk tembok,” jawab saya. Mana berani dia marah ya kan.

Padahal itu pinggiran kasur sudah saya lapisi dua guling satu bantal, juga boneka hippo miliknya. Tapi masih saja kecolongan. Si Isya ini memang sedang aktif-aktifnya ngesot, kadang merangkak, dan punya gerakan maju mundurin pantatnya ketika menginginkan sesuatu yang tidak bisa diraihnya. Lalu jadilah benjol di jidat kanannya untuk kedua kalinya.

“Udah tidur aja biar aku yang jaga Isya.” kata sang suami akhirnyaa. Inilah kalimat yang saya nantikan, hehehe.
Tapi melihat Isya tampaknya juga sudah ngantuk saya menolak dan mencoba menidurkan Isya satu kali lagi.

Alhamdulillah setelah lima belas menitan akhirnya dia mau tidur meskipun agak drama. Ya Allah nduk, maafkan Ibuk yaa yang merem sendiri begitu aja ngga ngajak-ngajak kamu. Melihat benjolannya yang tidak begitu parah, saya urung memberinya kompres. Cukup obat oles penghilang memar.

Begitulah, drama dengan Isya memang ngga akan ada habisnya. Termasuk soal mau tidur saja harus pakai beberapa metode. Nidurin pakai gendongan, nidurin tanpa gendongan, atau nidurin langsung di kasur. Sudah kayak praktikum belum sih?

Hhhh~ *lap keringet*
Alhamdulillah ❤️ Have a nice dream Nduk.

Pose andalan Isya kalau sedang tidur. Miring.

#isyastory