Melawan Stigma Negatif TB dengan Pemakaian APD yuk!

Ini murni karena saya tidak tahu ya makanya nanya.
Apakah asisten dokter itu tidak harus paham soal kedokteran? Maksud saya, kalau perawat oke lah ya cocok dan nyambung. Tapi yang kemarin saya temui seperti bukan perawat atau seseorang yang paham dengan ilmu kesehatan. Lihat bagaimana dia memakai APD dan memperlakukan pasien menular saja dia tidak paham. Apalagi klinik anak. Wah udah deg deg ser aja  setelah kejadian sore itu.

Saat itu kita berada di dalam ruangan dokter menunggu beliau datang. Bersama saya juga ada asisten dokter yang sedang memanggil pasien satu per satu untuk ditimbang terlebih dahulu berat badannya sekaligus menanyakan keluhan pasien. Lalu dengan sigap ia akan mencatat berat badan dan segala yang dikeluhkan pasien pada sebuah komputer yang terletak di meja dokter.

Sedang asyiknya menunggu dokter saya dikejutkan dengan pembicaraan asisten dokter dan salah seorang pasien yang masuk ke dalam ruangan.
“Ini TB kelenjar ya Bu?” tanya asisten dokter sambil melihat rekam medis pasien. Dia santai dong, bahkan dirinya sendiri tidak memakai masker sebagai alat pelindung dirinya sendiri.
“TB paru mbak.” Jawab seorang Ibu yang sedang mendampingi anaknya timbang badan. Usia anaknya sekira 13 tahun. Kurus, pucat dan memakai jaket. Parahnya dia TIDAK MEMAKAI MASKER GENGS!

Si perawat atau asisten dokter kemudian menyuruhnya begitu saja untuk menimbang badan. Kemudian mencatat berbagai keluhan yang dirasakan pasien. Tanpa menyuruh pasien untuk segera memakai masker atau apa.

Saya langsung syokkk berat dan seketika segera menggendong Isya dan berjalan agak menjauh dari meja dokter. Bukan karena saya menghindari pasien dan punya stigma negatif, tidak! Tapi karena saya dan Isya yang sedang tidak memakai APD, begitu juga dengan si pasien. Hati rasanya mencelos dan deg-degkan takut anak terdiagnosis TB tadi batuk atau bersin. Buyar dunia persilatan.

Saya langsung memanggil suami yang duduk di luar setelah pasien dengan wajah tirus dan nampak pucat itu keluar dari ruangan.
“Mas, itu anak TB paru kok diterima priksa disini? Kan harusnya ke dokter penyakit dalam, ” bisikku.
Suami menoleh dan mencoba mencari tahu anak yang kumaksud.
“Iya ya, ngga tahu mungkin dirujuk ke dokter anak dulu untuk konsultasi dosis pengobatan, mungkin?”
Aku mengangguk. Iya juga sih. Tapi bahaya sekali membiarkan pasien TB tanpa APD berada di ruangan tertutup bersama dengan anak-anak lain yang imunitasnya pasti belum sesempurna kita orang dewasa.
“Mas suruh ingetin itu asisten dokternya yang kena TB kasih masker. Biar kita juga ngga was-was,” kataku begitu imunisasi selesai dilakukan di dalam ruangan dokter.
“Iyaaa…” jawab sang Suami sambil kembali ke ruangan dokter untuk memberi tahu asisten itu. Maklum, karena suami bekerja dalam satu institusi dengan poli anak ini makanya dia langsung gerak cepat dengan saran saya tadi.

Bisa dibayangkan bahayanya penularan TB melalui udara di ruangan tertutup seperti itu. Apalagi penderita tidak memakai Alat Pelindung Diri, begitu juga anak-anak tak berdosa lain yang sedang periksa atau imunisasi. Rantai penularannya akan jadi sepanjang apa kalau dibiarkan?

Penderita TB memang tidak boleh kita acuhkan, terlebih menerima diskriminasi karena stigma negatif penularan. Tapi alangkah baiknya penderita atau orang tua penderita lebih memerhatikan keselamatan pasien dengan memakai alat pelindung diri setiap kali keluar rumah atau berinteraksi dengan orang lain. Kita tidak akan tahu akan tertulari atau menulari siapa.

TB bisa disembuhkan kok, asal teratur dan tertib dalam pengobatan. Berikut tulisan saya tentang fakta bahwa Tuberculosis adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Bisa klik link di bawah ini yaaa 🙂

https://www.idntimes.com/health/fitness/jihan-mawaddah/perbaiki-dan-lawan-stigma-begini-5-fakta-tentang-tuberkulosis-c1c2-1

Menjaga keselamatan orang-orang yang kita sayangi juga bentuk ibadah, jadi jangan lupa pakai alat pelindung diri seperti masker ya. Bersin dan batuk dengan cara yang sopan dan tepat juga akan menjaga pola penyebaran bakteri atau virus yang ada dalam tubuh kita. Tidak susah kan 🙂

Semoga semua sehat selalu ya.. Dan semoga yang menderita TB segera mendapatkan kesembuhan dari Allah.. Aamiin.

1 comment

    • Indah on August 22, 2019 at 7:17 pm

    Reply

    Mantap kaka infonya, makasih

Leave a Reply