Menyelamatkan bumi bukan hanya tugas pemimpin, namun kita semua. Sebagai makhluk hidup yang eksis di bumi, maka menjadi kewajiban kita bersama untuk melakukan upaya menyelamatkan bumi. Mengapa bumi ini perlu diselamatkan? Yuk simak penjelasan dari Mas Edo Rakhman (Koordinator Golongan Hutan), Kak Syaharani (dari Komunitas Jeda untuk Iklim), serta Kak Anindya Kusuma Putri (Aktris dan influencer) yang saya ikuti pada acara I Love Indonesia Gathering bersama 30 blogger terpilih lainnya.

upaya menyelamatkan bumi bersama golhut

Kita akan mengetahui sejauh mana kerusakan hutan di Indonesia. Apa yang harus kita lakukan sebagai generasi muda? Mengapa kita harus ikut melakukan upaya menyelamatkan bumi? Isu yang sebenarnya sudah banyak diperbincangkan di kalangan anak muda, bloger, hingga para pemimpin kita. Bisa jadi, pandemi yang kita hadapi saat ini dan waktu yang lalu adalah akibat dari ulah manusia itu sendiri. Tulisan saya soal ini bisa dibaca di sini ya.

Mengapa Anak Muda?

Masih teringat jelas dengan penjelasan dari Mas Edo Rakhman saat online gathering berlangsung. Kenapa sih anak muda perlu tahu kondisi hutan dan iklim di Indonesia bahkan dunia? Bukankah seluruh kebijakan mengenai hutan dan pemanfaatan energi sudah diatur oleh pemimpin kita dalam Pemerintahan? Sebelumnya saya tak berpikir bahwa generasi muda saat ini mampu untuk mengemban amanah berat yang akan dipikulnya kelak.

Berbagai permasalahan yang muncul saat ini tentu saja akan diwariskan pada anak cucu kita kelak. Anak muda zaman now, yang sering dikatakan oleh orang-orang.

akibat perubahan iklim

source : Golongan Hutan

Menurut info demografi yang ada, saat ini sebanyak 82% dari penduduk Indonesia berusia antara 17 hingga 30 tahun. Usia produktif yang tersebar mulai dari Provinsi Jawa Barat hingga Sulawesi Selatan. Sebanyak 47% hidup di kota dan 53% di kabupaten. Sebanyak 48% adalah dari kalangan pelajar dan mahasiswa, lalu 27% karyawan, 11% tidak bekerja, 3% akademisi, dosen, dan 2% nya adalah pegawai ASN dan BUMN.

Maka ketika tahun bonus demografi datang pada 2030 nanti, sudah dapat gambaran kan siapa yang akan memimpin kita? Siapa yang akan peduli dengan kondisi hutan dan bumi kita? Yap! Merekalah yang akan memimpin, mengelola, dan memanfaatkan segala kekayaan yang ada di bumi pertiwi kita ini. Merekalah harapan kita, agar bumi tetap lestari. Merekalah harapan kita untuk tetap meneruskan upaya menyelamatkan bumi. Bisa jadi nasib bumi memang ditentukan saat mereka dewasa kelak.

Apakah mereka sudah memiliki cukup pengetahuan saat ini tentang kondisi lingkungan dan bumi yang dihuninya? Maka saat inilah tugas kita untuk memahamkan dan memberi edukasi pada anak muda agar mereka tahu bagaimana kondisi bumi ini, dan apa yang harus mereka lakukan untuk ikut menjaganya, alih-alih menyelamatkan bumi dari ketidaklayakan.

Upaya Golongan Hutan, HIIP, dan Blogger Perempuan melibatkan generasi muda untuk menuliskan tentang harapan mereka untuk hutan maupun perubahan iklim di masa yang akan datang sangatlah bagus. Saat menuliskan artikel sebelumnya,

Krisis Iklim, Tanggung Jawab Siapa?

Siapa yang harus bertanggungjawab atas rusaknya bumi? Siapa yang harus dimintai pertanggungjawaban terkait perubahan iklim yang banyak menimbulkan bencana?

Menurut penuturan Mas Eko saat online gathering, kalangan anak muda sebesar 89% itu sebenarnya merasa sangat khawatir dengan dampak-dampak krisis iklim. Mayoritas dari mereka (yaitu sebesar 59%) merasa sangat khawatir dan menganggap krisis iklim sebagai salah satu tantangan terbesar generasi ini. Sedangkan 30% lainnya merasa khawatir dan melihat krisis iklim sebagai sebuah masalah yang serius.

97% setuju bahwa dampak krisis iklim bisa lebih parah atau sama parahnya dengan dampak wabah Covid-19 yang tengah terjadi saat ini. Mayoritas kaum muda tersebut (65%) merasa dampak krisis iklim lebih parah dari wabah Covid-19. Sedangkan 32% lainnya merasa dampak krisis iklim setidaknya sama dengan dampak wabah Covid-19.

Hanya 0.6%nya saja dari mereka yang merasa tidak khawatir dengan dampak-dampak krisis iklim. Jumlah ini berdasarkan lebih dari delapan ribu responden. Lalu hanya 5 orang yang tidak percaya dengan krisis iklim. 19 dari 20 orang percaya bahwa manusia adalah faktor penyebab terjadinya krisis iklim itu sendiri.

Jika sudah mengetahui siapa penyebabnya maka kita pun harus tahu diri untuk bertanggungjawab atas terjadinya krisis iklim. 12 diantara mereka percaya bahwa manusia adalah penyebab utama dan harus bertanggung jawab penuh atas perubahan iklim yang merugikan makhluk hidup di muka bumi ini. Lalu 7 lainnya percaya bahwa krisis iklim ini disebabkan oleh manusia dan alam. Sedangkan yang percaya bahwa manusia tidak memiliki andil dalam krisis iklim, mendekati 0.

Maka sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai penghuni bumi ini untuk menjaganya hingga jiwa tak di kandung badan.

perubahan iklim

Upaya Menyelamatkan Bumi dari Krisis Iklim

Paling tidak ada tujuh solusi yang ditawarkan pada peserta I Love Indonesia online gathering agar bisa disampaikan pada teman bloger dan masyarakat semuanya. Karena dalam penanganan krisis iklim ini kita tidak bisa bergerak sendiri, kita harus bergerak bersama-sama. Diantara upaya menyelematkan bumi dari krisis iklim diantaranya :

1. Menghentikan penebangan dan pembakaran hutan serta lahan

Sebenarnya semua sudah memahami bahwa akibat penebangan hutan tentu akan berdampak pada perubahan iklim melalui proses yang panjang. Sebagaimana yang telah dijelaskan pula oleh Kak Syaharani dari Komunitas Jeda untuk Iklim bahwa salah satu efek rumah kaca adalah gundulnya hutan, yang tak lagi bisa menyerap sinar matahari. Sehingga menyebabkan suhu bumi memanas.

Menurut David Wallace Wells dalam bukunya, Bumi yang Tak Dapat Dihuni juga disebutkan bahwa sejak 1979 saja, musim kebakaran bertambah hampir 20 persen. Lalu pada 2050, kehancuran akibat kebakaran lahan diperkirakan berlipat ganda lagi. Untuk setiap satu derajat pemansan global, itu bisa berlipat empat. Artinya, ketika dalam setahun saja empat juta hektare terbakar, dengan pemanasan sampai empat derajat, musim kebakaran bakal empat kali lebih parah.

Adanya pemanasan global seperti ini saja sudah mengakibatkan area hutan yang terbakar akan lebih luas lagi. Jika manusia masih saja melakukan pembakaran hutan serta lahan atau menebangnya dengan alasan apapun, tindakan tersebut sudah merugikan banyak makhluk hidup di muka bumi ini.

upaya menyelamatkan bumi

sumber : golongan hutan di acara I Love Indonesia online gathering

2. Mengakhiri ketergantungan energi fosil dan mulai dengan EBT (Energi Baru dan Terbarukan)

Sudah saatnya kita berpindah dari energi fosil dan memulai kehidupan dengan Energi Baru dan Terbarukan.

Energi Baru dan Terbarukan merupakan sumber daya alam yang pemanfaatannya saat ini sangat dibutuhkan untuk menunjang kebutuhan hidup makhluk hidup terutama manusia. EBT memiliki peran sebagai Sumber daya alternatif yang dapat menggantikan energi fosil. Karena energi fosil sifatnya tidak dapat diperbaharui dan jumlahnya terbatas apabila digunakan secara terus-menerus. EBT pun dapat menjadi sebuah energi yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan (Sustainable Energy) hingga masa yang akan datang.

Pengaturan mengenai Energi alternatif EBT di Indonesia sendiri tercantum di dalam beberapa ketentuan peraturan perundang-undangan seperti pada Permen ESDM dan UU tentang Energi. Penetapan EBT dalam sebuah pengaturan hukum dimaksudkan agar setiap kebijakan mengenai EBT dapat terlaksana dengan baik dalam menghasilkan dan menciptakan Energi yang berkelanjutan dan berbasis ramah lingkungan sesuai dengan komitmen Negara Indonesia di dalam Perjanjian Paris untuk dapat memberikan jaminan terhadap ketahanan energi hingga masa yang akan datang dan mengurangi penggunaan Energi fosil yang dapat mengancam dan merusak lingkungan.

3. Memulai perilaku hidup ramah lingkungan

Seperti selalu membawa tempat minum untuk menghindari pembelian air minum kemasan yang terbuat dari bahan-bahan yang akan sangat sulit terurai. Atau bisa juga dengan membawa kantung belanja sendiri ketika ke pasar, mall, atau pusat perbelanjaan lain untuk menghindari penggunaan plastik. Hal-hal sekecil itu jika dilakukan bersama-sama tentu akan berdampak besar. Maka jangan remehkan kebaikan sekecil apapun ya.

4. Memperhatikan pengelolaan limbah dan polusi industri

Salah satu langkah tegas yang harus diperingatkan bagi siapa saja yang melanggar adalah adanya usulan untuk memperhatikan pengelolaan limbah dan polusi industri. Mengapa? Karena tak cukup jika ibu rumah tangga dan rumah-rumah saja atau usaha skala kecil yang melakukan upaya untuk menyelamatkan bumi. Kita harus bersama-sama melakukan upaya itu.

Termasuk mengawal bagaimana sebuah industri melakukan pengelolaan limbah dan polusi industri.

mengurangi kendaraan pribadi

5. Memperbanyak transportasi publik

Kendaraan bermotor berbahan bakar fosil adalah salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK). Tingkat penggunaan kendaraan bermotor yang tinggi merupakan salah satu penyebab kepadatan GRK di atmosfer bumi. Pada tahun 2009 saja, menurut perhitungan World Wide Fund sektor transports menyumbang sekitar seperempat dari total GRK di atmosfer bumi. Bayangkan apa yang terjadi dua puluh tahun mendatang? Ketika kota-kota telah dipadati oleh kendaraan bermotor di jalan-jalan.

Masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah perkotaan cenderung senang menggunakan kendaraan pribadi daripada menggunakan transportasi umum. Umumnya, di daerah perkotaan satu keluarga memiliki lebih dari satu kendaraan adalah hal yang wajar. Jika bisa disimpulkan bahwa mobil yang umumnya muat untuk sekitar 4 orang atau motor yang bisa ditumpangi oleh dua orang hanya digunakan oleh satu orang saja.

Jika emisi satu kendaraan bermotor yang dihasilkan hanya oleh satu orang saja, itu berarti jika penduduk Jakarta ada sekitar 11 juta jiwa dan 60 persennya adalah pengguna kendaraan pribadi baik mobil atau motor, ada sekitar 6.600.000 kendaraan bermotor yang setiap hari menghasilkan emisi GRK. Belum lagi emisi dari pembakaran berlebih akibat kemacetan.

Jika transportasi publik diperbanyak dan dibuat nyaman bagi penumpangnya maka saya pun akan lebih banyak memilih transportasi publik. Pemakaian transportasi publik ikut mengurangi polusi udara dari hasil pembakaran mesin dalam mobil. Akan lebih baik lagi jika berkendara dengan sepeda jika jarak rumah dengan kantor atau sekolah tidak telalu jauh.

6. Pengelolaan sampah rumah tangga

Sampah dapat menghasilkan emisi gas methane (CH4). Methane tergolong gas rumah kaca yang berbahaya karena mempunyai pengaruh 21 kali lebih besar dibandingkan gas CO2. Emisi CH4 dari sampah merupakan hasil dekomposisi anaerobik dari materi organik dalam sampah. Sampah terdekomposisi perlahan dan waktu dekomposisi dapat berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Kebijakan mitigasi perubahan iklim Indonesia diatur oleh UU No.32 tahun 2009.

Melalui UU tersebut mulai diatur arahan penanganan mitigasi terhadap perubahan iklim dan sebagai upaya mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan. Bahkan, Pemerintah Indonesia berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26% dengan usaha sendiri dan mencapai 41% jika mendapat bantuan internasional pada tahun 2020 (Perpres RI No. 61 Tahun 2011).

Salah satu sektor yang dikembangkan dalam mitigasi adalah pengelolaan sampah. Tujuan mitigasi sektor persampahan adalah untuk mengurangi volume sampah perkotaan dan mereduksi emisi gas rumah kaca terutama konsentrasi CO2 dan CH4 sehingga mengurangi
pemicu perubahan iklim. Pengembangan mitigasi di sektor persampahan di negara berkembang ditekankan karena pengelolaan sampah di TPA yang masih belum stabil dan masih berpotensi menghasilkan emisi gas rumah kaca yang besar sehingga diperlukan penerapan sistem pengelolaan sampah yang dikembangkan dengan strategi pengelolaan limbah alternatif yang disediakan terjangkau dan berkelanjutan (Bogner, 2008 dalam Jurnal UNDIP).

Oleh karena itu, sebagai bloger sekaligus ibu rumah tangga, salah satu usaha kita dalam mengelola sampah dari rumah dengan memisahkan antara organik dan anorganik. Kemudian sampah organik dikelola menjadi kompos misalnya. Sedangkan untuk jangkauan Tempat Pembuangan Akhir, bisa diupayakan hal yang serupa. Pembuatan kompos dalam jumlah besar bisa dijual juga dapat didistribusikan ke perusahaan semen untuk membantu mereka melakukan pembakaran.

7. Hemat Energi

Langkah sederhana agar kita dapat menghemat energi adalah dengan menggunakan lampu atau barang elektronik lainnya seperlunya saja. Apalagi teknologi penerangan saat ini sudah semakin hemat energi, dengan daya yang kecil, ada lampu seperti LED bisa menerangi dengan lumen yang besar.

Hal-hal sederhana yang dapat menjadi salah satu upaya menyelamatkan bumi kita dari krisis iklim seperti mematikan daya sebelum tidur, menggunakan AC jika sangat mendesak, begitu pula dengan pemanas/heater, dan lain-lain.

Sampai sini, mudah-mudahan kita semua selalu diberi kekuatan untuk menjaga planet kita satu-satunya ini. Yuk lakukan upaya menyelamatkan bumi demi kehidupan manusia dan makhluk hidup lain untuk saat ini dan seterusnya.

 

Referensi :
Materi Online Gathering I Love Indonesia oleh Eko Rachman (Golongan Hutan Indonesia), Syaharani (Komunitas Jeda untuk Iklim) dan Anindya Kusuma Putri (Influencer dan Aktris)
Biro Pengembangan Universitas Padjajaran
Ditjen PPI MENLHK dalam http://ditjenppi.menlhk.go.id/
Bumi Yang Tak Dapat Dihuni oleh David Wallace Wells