Essay

berisi semua tulisan random jeyjingga

Dulu sekali, zaman masih sekolah, zaman masih alay dan labil serta suka marah-marah tidak jelas (mungkin karena hormon menstruasi yah) aku pernah menyia-nyiakan satu hal. Menyia-nyiakan sesuatu yang tidak akan pernah bisa aku ulangi lagi. Waktu. Penyesalan itu terus hinggap hingga saat ini. Karena waktu yang terbuang itu berada dalam masa-masa produktifku (seharusnya). Akhirnya di […]

Read More

Hari ini pengin aja curhat gitu soal hubungan anak dan orang tua. Hehe.. Nulis ini dalam kondisi capek betul, punggung juga rasanya pegel-pegel kelamaan gendong isya yang hari ini lagi rewel, plus si mbak yang biasa bantu jaga isya lagi sakit, jadi ya begitulah hari ini aku menghadapi kerasnya hidup ini sendirian wkwk, lebay yah. […]

Read More

Orang pertama yang bangun dini hari, lalu bermunajat bersimpuh bersujud kepada Allah, doa-doa beliau selalu menggema hingga kamarku. Doa keselamatan anak-anak, cucu serta jamaahnya. Lirih lisannya membaca Quran. Usai Subuh masih disempatkan untuk membuat catatan. Apalagi hari ini hari Jumat, menyiapkan materi khutbah adalah kebiasaan. Ayah, entah mengapa waktu terasa begitu cepat. Sepertinya baru kemarin […]

Read More

“Kenapa dengan anak-anak itu Kak?” . . “Bolehkah aku menangisi mereka?” . Aku tak tahu bahwa kelaparan bisa jadi begitu mengerikan. Kapan terakhir kali aku merasa lapar? Rasanya Ramadan kemarin adalah hari terakhir aku merasa lapar. Aku paling tidak tahan dengan bunyi perut saat kosong. Aku akan segera merintih kesakitan ketika asam lambung meningkat dan […]

Read More

Saya teringat perkataan Coach Agung Wicaksono, Direktur YDSF Kota Malang saat memberikan pelatihan soal kepemimpinan sore itu. Beliau bilang, seorang pemimpin itu harus punya pandangan visioner dan menyeluruh terhadap seluruh persoalan yang ada pada masyarakat yang dipimpinnya. Kalau dalam istilah fotografi, bird eye view namanya. Jika dia melakukan sesuatu, apa dampaknya bagi yang lain, menghambat […]

Read More

“Aku tidak terlalu ingat. Tapi saat itulah mereka membunuh ibu dan ayahku,” jawab seorang gadis berusia sekitar lima belas tahun, dengan suara sangat lirih, dengan mata menatap tanah ketika Miss Kuroyanagi menanyakan apa yang terjadi padanya. Delapan puluh kilometer dari Bengeula, Angola. Anak-anak berlindung di kamp pengungsian. Tidak jauh dari garis depan perang. Anak-anak selalu […]

Read More

“Oke 30 menit ya.” ucap Ayah kami saat itu. Waktu maksimal untuk bermain disini, Grand Watu Dodol. Empat laki-laki bersaudara mula-mula membasahi kaki mereka. Lalu mengambil pose di kedalaman kurang lebih 130cm. Tak puas dengan itu, mereka mencoba untuk berenang. Air yang sangat jernih memang sangat menggoda, sayang jika hanya dinikmati oleh mata. Tak sadar […]

Read More

Kata orang di luar sana, kami ini malas. Oleh karena itulah kami menjadi miskin dan kulit kami penuh koreng. Kata orang di luar sana, kami sudah terbiasa tidak memakai alas kaki sejak kecil. Oleh karena itulah kemanapun kami pergi selalu tanpa alas kaki walaupun matahari menyengat hingga suhu bisa mencapai 60 derajat celcius. Kata orang […]

Read More

31 Desember kemarin, Pemuda Muhammadiyah Kota Malang menggagas sebuah acara pengkaderan di hari libur yang diminati banyak peserta. Awalnya hanya diwajibkan untuk anggota Cabang saja. Namun tanpa disangka euforia kebaikan begitu cepat menyebar sehingga beberapa kursi pun disediakan untuk umum. Lalu Ketua Panitia, Mujahidin Ahmad, menghubungi saya. “Belum ada panitia perempuan nih, kamu bantu ya.” […]

Read More

Tanggal 29 Desember kemarin, kami sekeluarga melakukan perjalanan panjang dari Malang ke Banyuwangi untuk menghadiri nikahan sepupu. Sengaja kami menyewa mini bus agar bisa bersama-sama selama perjalanan. Alhamdulillah perjalanan lancar, tanpa kendala macet atau suatu apapun. Sepulang dari nikahan, kami langsung pamit untuk segera meluncur pulang ke Malang melewati jalur Grand Watu Dodol. Pemimpin perjalanan […]

Read More