Kisah

Flash fiction adalah karya fiksi yang sangat singkat, bahkan lebih ringkas daripada cerita pendek. Walaupun tidak ada ukuran jelas tentang berapa ukuran maksimal sebuah flash fiction, umumnya karya ini lebih pendek dari 1000 atau 2000 kata. Jingga mencoba belajar untuk membuat karya ini. Saran dan kritik dari pembaca sangat kami nantikan :)

Part sebelumnya : Semester Pertama Part 11   “Fiq, pinjem dikit-dikit aja 25 rupiah. Buat tambahan beli minyak,” ujar Ibu kos pada Taufiq yang sedang mencuci bajunya di sumur. Taufiq mengernyitkan dahinya. Menimbang-nimbang cukup lama. Karena sesungguhnya dirinya sendiri pun tidak punya uang. Hanya tersisa seratus rupiah di sakunya.   “Besok Ibu kembalikan, besok Ibu dapat […]

Read More

Kisah sebelumnya : Pesan Mbah Isom Part 10 Terik matahari masih juga belum mau berkurang. Panas yang berpendar ke permukaan bumi khususnya di tanah Majapahit ini semakin garang saja. Jika tidak ada pepohonan entah panasnya akan seperti apa. Mungkin telur yang diletakkan di jalanan aspal akan matang dengan sendirinya. Namun Taufiq sudah terbiasa melalui itu semua. […]

Read More

Part 9 Part sebelumnya : Malam-malam Gangguan Hari ketiga dan keempat pun ternyata masih sama. Gangguan itu masih berulang. Pintu depan lalu genteng. Terkadang beramai-ramai dari seluruh sisi rumah. Kanan, kiri, depan dan belakang batu itu dilempar sedemikian rupa hingga menimbulkan bunyi-bunyian yang sangat mengganggu. Jam-jam gangguan mereka pun sama, menjelang tidur. “Kalau hari ini mereka […]

Read More

Postingan ini dihapus karena naskah sedang dalam proses dibukukan Hubungi : hanjihanhan@gmail.com untuk info lebih detail

Read More

Part 8 Pagi itu meja makan sedikit ribut karena peristiwa semalam. Taufiq yang menjadi satu-satunya saksi mata dari awal hingga akhir bercerita dengan sangat antusias. Tak memedulikan bagaimana Ruqoyah, Hud, Ning dan dua saudaranya yang lain acuh padanya. Masing-masing sibuk dengan piringnya. Bapak belum tampak, katanya masih memecah kelapa di belakang rumah. “Sudah cepet berangkat […]

Read More

  Part 7 “Kita tidak akan ketahuan kan?” Taufiq ragu ketika pohon yang akan dipanjatnya sudah berada di depan mata.   “Tidak, ayo cepat! Sebelum ada petugas yang melihat!” Bashori panik karena Taufiq tidak segera memanjat pohon. Kerumunan orang sedang berfokus pada tiket masing-masing dan juga pintu masuk, begitu pikir Bashori. Lagipula tidak ada penerangan […]

Read More

Part 6 Part sebelumnya : Menolak Jadi Tukang Sepatu Pagi itu Taufiq punya tugas untuk mengantarkan kue ke warung-warung. Emak bilang hari ini bedak di pasar banyak yang tutup karena Suroan. Jadi tersisa warung-warung yang biasanya menerima sedikit kue saja yang hari ini buka. Suroan atau tradisi satu Muharam atau Suro yang memiliki catatan peristiwa penting […]

Read More

Part 5 Part sebelumnya : Celengan Ayam –   Musim ujian pun selesai. Ada yang merayakan kelulusannya dengan pergi rekreasi bersama teman-teman sekelas, ada juga yang bersama dengan keluarga pergi makan-makan di warung pinggir jalan. Makan kepiting atau cumi-cumi saus padang yang tidak semua orang bisa menikmatinya kapan saja. Bisa jadi hanya satu tahun sekali. […]

Read More

Part 4 (Celengan Ayam) Part sebelumnya : Rumah dari Bambu “Aku jual 15 rupiah satu pris!” Taufiq menawarkan mainan pris-prisan yang dia beli di pasar tadi pagi. “Oke aku beli empat, bayar 50 saja ya?” Mukhlis, teman sekelasnya mencoba menawar. “Tidak bisa. Kalau tidak mau juga tak apa-apa, anak kelas lima tadi ada yang mencari pris-prisan juga.” […]

Read More

Part sebelumnya : Membangun Kembali Harapan “Mak, rumah kita yang baru terbuat dari bambu begini?” Ruqoyah memandang rumah baru yang akan ditempatinya dan keluarganya di kota Mojokerto. Perbedaannya sangat jauh jika dibandingkan dengan kondisi rumah mereka di desa. Emak tidak menjawab pertanyaan Ruqoyah, Emak seketika langsung membereskan berbagai macam barang yang masih berceceran disana-sini. Ruqoyah melirik […]

Read More