Saya punya impian, masjid kecil di sudut jalan itu nantinya akan jadi pusat aktivitas kami, kaum muda mudi. Utamanya memang untuk tempat beribadah, bersimpuh, meminta sama Allah.
Namun tidak salah jika kami ingin masjid dipakai untuk majelis taklim, lahirnya pergerakan sosial untuk membantu sesama, bahkan kalau bisa sebagai tonggak berdirinya masjid peradaban.

 

Suatu ketika pernah berkunjung ke Jogja, mampir ke masjid hits yang katanya saldonya selalu 0 setiap hari. Saldo 0 bukan lambang masjid itu tidak berjaya, bukan juga masjid yang tidak pernah ada pengunjungnya. Bahkan sangat ramai dan selalu menjadi rujukan studi banding masjid-masjid lain. Yaitu Masjid Jogokariyan.

 

Rahasianya, masjid itu tidak hanya menampung jamaah untuk salat, tapi juga menampung orang-orang yang sangat membutuhkan di sekitarnya. Ada ATM beras yang bisa digunakan untuk memberi kaum DHUAFA. Anak-anak kecil tidak diusir begitu saja karena ramai, namun diberi tempat tersendiri untuk sama-sama menjalankan ibadah. Ada juga angkringan di dekat masjid yang ramai sekali pengunjungnya, menghidupkan perekonomian masyarakat sekitar.
Terpasang wifi, sehingga mau mengerjakan tugas kuliah, pekerjaan yang butuh internet, bisa dilakukan disana.
Masjid menjadi tempat kekuatan ummat sekaligus pelipur lara bagi kamu papa dan dhuafa.

 

Masjid sebagai tempat untuk mengingat kematian. Salah satu sudut masjid Jogokariyan yang cukup unik adalah kotak sedekah yang di atasnya diletakkan miniatur kuburan. Sebagai pengingat bahwa harta kita ini tidak akan dibawa mati. Justru sebaliknya, harta yang diinfaqkan di jalan Allah lah yang akan menemani kita di kubur kelak. Sungguh pengingat yang luar biasa bagi saya. Mungkin itulah yang menyebabkan kas masjid ini selalu berjuta-juta setiap harinya, dan menjadi 0 di saat yang sama. Masjid memastikan bahwa tidak ada tetangga yang kelaparan dan kekurangan diantara masjid yang berdiri megah.

 

Ah, masjid ideal seperti ini, ingin sekali kuhidupkan di sudut jalan yang hampir setiap hari kusinggahi. Bukan hanya meninggikan bangunannya, namun juga meninggikan derajat orang-orang di sekitarnya. Jangan sampai ada bunyi piring dan sendok yang saling beradu, namun terdengar sendu di telinga para kaum papa yang tak bisa makan apa-apa.

#RWCODOP2020 #OneDayOnePost #RWCDay13 #Ramadhan2020