Dulu saat saya masih kuliah, bulan Ramadan adalah bulan yang bikin saya semangat beribadah. Selain karena banyak teman untuk melakukan kebaikan, juga karena kebaikan di bulan Ramadan yang dilipatgandakan. Sebagai hamba yang menginginkan tabungan kebaikan sebanyak-banyaknya, Ramadan adalah kesempatan untuk meraih itu semua. Untuk mengusir kebosanan di saat liburan yang bertepatan dengan bulan Ramadan, ada banyak hal yang bisa saya lakukan. Seperti ikut kajian di masjid, membaca buku, nonton drama korea yang sedang hits, main monopoli, sampai berlomba untuk mengkhatamkan Quran dalam waktu satu minggu.

Namun semua itu sudah tidak bisa lagi saya lakukan. Keterbatasan tenaga dan waktu sebagai seorang ibu muda yang belum memiliki banyak pengalaman membuat saya bingung dan terpaku dalam rutinitas sehari-hari yang saya anggap sama sekali tidak produktif. Padahal menjadi ibu adalah satu-satunya hal produktif yang kita lakukan. Bayangkan saja mulai dari bangun paling awal, menyiapkan sahur, mencuci baju dan perabot rumah tangga, mengurus anak, hingga tiba menyiapkan waktu berbuka, lalu beberes lagi. Seperti tiada habisnya. Hingga seorang ibu lah yang tidur paling akhir. Karena baru sempat tarawih dan tilawah Quran ketika anak sudah tidur. Jangan harap bisa tarawih dengan tenang kalau si bocah masih melek dan menimbulkan kekhawatiran di sana-sini.

Boro-boro bisa mengkhatamkan Quran dalam waktu satu minggu, khatam Quran dalam waktu sebulan saja sudah prestasi. Belum lagi urusan yang lain seperti menulis artikel, update konten blog, dan lainnya.

Awalnya saya merasa bahwa tugas-tugas saya seperti yang disebutkan di atas itu adalah hal yang tidak produktif. Namun setelah banyak mendapatkan nasihat dari orang tua saya, ustadz dan beberapa saudara saya bahwa menjadi seorang Ibu itu jihadnya seumur hidup. Merawat anak-anak, menyiapkan makan sahur dan berbuka, serta berbagai kerempongan lain yang dihadapi di rumah adalah ladang pahala bagi ibu-ibu. Meskipun tidak tuntas membaca Quran dalam sebulan, salah tarawih yang selalu tertunda, tidak bisa berjamaah, itu adalah ibadah yang memang utama. Namun lebih utama menjalankan kewajiban kita sebagai seorang ibu.

Jempol dua hingga sepuluh jika ada ibu yang memiliki tenaga lebih untuk melakukan itu semua setelah kewajiban di rumah sudah terpenuhi. Lebih-lebih jika memiliki asisten rumah tangga. Maka pekerjaan lain bisa didelegasikan pada orang lain, sedangkan kita bisa melakukan ibadah dengan lebih leluasa. Sungguh kemuliaan seorang Ibu memang terletak pada pengorbanan semacam itu. Oleh karena itu jangan berharap ibu-ibu bisa melakukan banyak kegiatan seperti anak muda lainnya meskipun ingin.

Mungkin kegiatan di bawah ini bisa menghibur saya sendiri sebagai ibu muda dan ibu-ibu lainnya agar tidak merasa “belum mengambil keutamaan beribadah di bulan Ramadan.”

1. Bermain bersama anak

unsplash.com/@calleb_woods

Siapa sih yang tidak suka kegiatan bermain? Kita bisa masukkan permainan-permainan yang kita senangi juga di dalamnya. Selain bernostalgia tentang masa kecil, kegiatan bermain bersama anak juga ibadah kok. Niatkan karena Allah, niatkan untuk mendidik anak, juga niatkan untuk memberi yang terbaik demi perkembangan fisik dan mentalnya.

2. Membacakan Buku untuk Anak

Selain melatih kemampuan linguistik anak, membacakan buku untuk anak ini adalah kegiatan bonding yang saya pikir tidak pernah membosankan lho. Bahkan ada banyak ilmu baru yang mungkin belum saya ketahui justru dari buku-buku anak. Oleh karena itu membacakan buku untuk anak adalah salah satu kegiatan produktif yang bisa kita lakukan saat Ramadan. Tidak butuh cemilan, karena mulut sibuk mengeja huruf demi huruf menjadi kata, lalu kalimat. Sekali lagi jangan lupa niatkan untuk ibadah.

3. Tartil Quran bersama

Selain bernilai ibadah dari huruf demi huruf yang kita baca, membaca Quran bersama anak juga secara tidak langsung akan mengajarinya untuk mengenal kitab sucinya. Meskipun tartil bersama anak pasti tidak akan pernah bisa berlama-lama, namun hal ini patut dicoba dan dibiasakan lho.

4. Mendengarkan kajian bersama

Karena kajian online sifatnya lebih fleksibel, kita juga bisa mendengarkan kajian sambil menemani anak bermain. Ibu-ibu terkenal dengan kemampuannya yang multitasking. Sehingga mendengar kajian dengan fokus sambil menemani anak bermain tentu saja menjadi hal yang mudah untuk dilakukan. Jangan lupa siapkan catatan selama mendengarkan kajian agar kita bisa mempelajari kembali poin-poin penting yang disampaikan pemateri.

Nah, banyak sekali kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan di rumah dan bernilai ibadah. Apalagi di bulan Ramadan seperti ini, nilai kebaikannya dilipatgandakan. Jangan pernah kecewa, karena ladang jihad seorang ibu yang luas itu sudah hadir dan tersedia di depan mata kita.

Selamat berjihad Ibu-ibu!

#BPNRamadan2020