anxiety disorder

Cara Saya Mencegah Anxiety Disorder di Tengah Kondisi Yang Makin Ruwet

No Comments

Photo of author

By jeyjingga

Kata netizen, orang-orang yang paling sabar dan mentalnya kuat adalah rakyat Indonesia. Bagaimana tidak? Berkali-kali dikejutkan oleh pemberitaan di lini masa tentang kebijakan-kebijakan negara yang semakin jauh dari keberpihakan rakyat.

Rasa-rasanya, hampir tiap hari media sosial dihebohkan dengan segala gebrakannya. Mulai dari isu kemanusiaan, ekonomi, pendidikan, hingga hukum dan HAM.

Sebagai seorang ibu rumah tangga yang saat ini juga sedang menempuh studi lanjut, saya akui stres banget kalau lihat berita tiap hari. Stresnya itu sampai susah tidur dan hilang fokus. Secinta itu rakyatnya sama negara, tapi masih saja dijahati ya 🙂

Ini masih persoalan negara, belum lagi persoalan rumah tangga, sosial, hingga ekonomi yang harus kita hadapi. Bukan tidak mungkin orang-orang Indonesia saat ini banyak yang sedang mengalami Anxiety Disorder. Apa itu Anxiety Disorder?

Apa Itu Anxiety Disorder?

anxiety disorder

Melansir dari laman RS EMC, Anxiety atau kecemasan adalah respons alami tubuh terhadap stres. Ini bisa berupa perasaan takut, gelisah, atau khawatir terhadap sesuatu di masa depan yang mungkin akan terjadi. Respons tubuh pun akan menjadi penuh ketegangan dan kewaspadaan ketika merasakan kecemasan tersebut.

Dalam situasi tertentu, seperti sebelum ujian atau wawancara kerja, perasaan cemas ini dianggap normal. Namun, ketika kecemasan muncul secara berlebihan, berlangsung lama, dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, maka kondisi ini bisa digolongkan sebagai Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorder).

Perempuan Lebih Rentan Mengalami Gangguan Kecemasan atau Anxiety Disorder Dibandingkan Pria

Berdasarkan berbagai penelitian ilmiah dan data statistik kesehatan mental dunia (termasuk dari WHO), perempuan memang memiliki risiko hingga dua kali lipat lebih tinggi untuk mengalami gangguan kecemasan (anxiety disorder) dibandingkan dengan pria.

Perbedaan kerentanan ini tidak terjadi begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh kombinasi kompleks antara faktor biologis, psikologis, dan sosial. Berikut adalah beberapa alasan utamanya:

1. Faktor Biologis dan Hormonal

  • Fluktuasi Hormon: Hormon reproduksi perempuan (estrogen dan progesteron) sangat memengaruhi kimia otak yang mengatur suasana hati dan kecemasan. Perubahan drastis hormon ini sering terjadi selama siklus menstruasi, kehamilan, pascamelahirkan (postpartum), hingga menjelang menopause (perimenopause).

  • Respon Otak terhadap Stres: Penelitian neurosains menunjukkan bahwa area otak yang mengatur emosi dan respon takut (seperti amigdala) bekerja dengan cara yang berbeda antara perempuan dan pria. Perempuan cenderung memiliki sistem respon stres yang lebih sensitif, sehingga tubuh melepaskan hormon stres (seperti kortisol) lebih cepat dan bertahan lebih lama.

2. Faktor Psikologis dan Cara Mengatasi Stres (Coping Mechanism)

  • Ruminasi: Perempuan secara psikologis lebih cenderung melakukan ruminasi, yaitu kebiasaan memikirkan atau merenungkan suatu masalah secara mendalam dan berulang-ulang. Meskipun ini menunjukkan empati yang tinggi, ruminasi yang berlebihan dapat memicu dan memperparah rasa cemas.

  • Kepekaan terhadap Ancaman: Secara evolusioner, perempuan cenderung memiliki tingkat kewaspadaan yang lebih tinggi terhadap potensi ancaman atau bahaya di sekitarnya guna melindungi diri dan keluarga.

3. Faktor Sosial dan Lingkungan

  • Beban Ganda (Double Burden): Perempuan modern sering kali menghadapi tekanan peran yang besar, seperti tuntutan karier sekaligus tanggung jawab domestik (mengurus rumah tangga dan mengasuh anak). Kurangnya waktu untuk self-care akibat beban ini dapat memicu stres kronis yang berujung pada kecemasan.

  • Pengalaman Trauma dan Kekerasan: Secara statistik, perempuan lebih rentan mengalami bentuk-bentuk trauma tertentu, seperti kekerasan domestik, pelecehan seksual, atau diskriminasi gender, yang merupakan pemicu utama anxiety maupun PTSD.

Sisi Lain yang Perlu Dipahami Tentang Anxiety Disorder 

Meskipun angkanya lebih tinggi pada perempuan, ada faktor sosial lain yang memengaruhi statistik ini: pria cenderung lebih jarang melaporkan atau mencari bantuan untuk masalah kesehatan mental mereka.

Karena adanya stigma toxic masculinity (anggapan bahwa pria harus selalu kuat dan tidak boleh terlihat lemah), banyak pria yang mengalami kecemasan memilih untuk memendamnya atau melarihkan diri ke perilaku kompulsif lain, sehingga kasus mereka sering tidak tercatat secara medis.

Menurut Rizky Purnomo Adji Churnawan, S.Psi, M.Psi., Psikolog RS EMC Cikarang, jika ada tanda-tanda Anxiety seperti berikut kamu wajib segera meminta bantuan atau pertolongan ahlinya :

1. Gejala Emosional dan Kognitif : 

  • Kekhawatiran berlebihan dan terus-menerus terhadap sesuatu
  • Ketakutan yang tidak rasional
  • Perasaan belisah dan tegang menganggu
  • Sulit konsentrasi dan pikiran kosong
  • Sensitif dan mudah marah

2. Gejala Fisik

  • Jantung berdebang dan berdetak kencang
  • Nafas cepat atau sesak nafas
  • Berkeringat dingin
  • Gemetar atau tubuh bergetar
  • Ketegangan otot
  • Merasa mudah lelah dan lemas
  • Masalah Pencernaan
  • Pusing atau sakit kepala
  • Nyeri dada
  • Gangguan tidur

3. Gejala Perilaku

  • Secara aktif menghindari situasi yang memicu kecemasan
  • Kesulitan berbicara pada situasi tertentu
  • Selalu merasa waspada
  • Perilaku mencari kepastian berulang
  • Sulit tenang atau duduk diam
  • Menarik diri dari situasi sosial

Jika anxiety mulai mengganggu rutinitas harian, pekerjaan, hubungan sosial, atau menyebabkan penderitaan emosional yang intens, penting untuk segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Semakin cepat penanganan dilakukan, semakin besar peluang untuk pulih sepenuhnya.

anxiety disorder

Cara Saya Mencegah Anxiety Disorder 

Akibat tsunami informasi yang selalu datang dari gawai yang hampir setiap hari gunakan, akhirnya gangguan-gangguan kecemasan seperti ketakutan akan menghadapi masa depan terus menghantui pikiran saya.

“Wah ini udah ngga sehat nih…” batin saya ketika mulai susah tidur, kasus-kasus di Indonesia mulai kebawa mimpi, bahkan sudah sampai terbawa ke obrolan di meja makan.

Karena sadar itu sudah sangat mengganggu, saya pun melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Terapkan Diet Informasi (Batas Waktu & Tempat)

2. Gunakan Fitur Filter di Media Sosial. Di platform seperti X (Twitter) atau Instagram, kita bisa memasukkan kata kunci tertentu yang berkaitan dengan isu-isu yang sedang membuat kita cemas (misalnya kata kunci politik, kriminalitas, atau isu ekonomi tertentu). Media sosial tidak akan menampilkan twit atau postingan yang mengandung kata tersebut di beranda kita.

3. Alihkan Fokus pada Lingkaran Kendali (Circle of Control). Kecemasan sering muncul karena kita memikirkan hal-hal besar di luar kendali kita (kebijakan negara, kondisi makro ekonomi, atau isu nasional). Sehingga saya mencoba untuk membagi fokus menggunakan konsep hal-hal di luar kendali dan hal-hal di dalam kendali. Saya fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.

4. Seimbangkan dengan “Berita Baik”. Dunia tidak melulu berisi hal buruk; media sosial hanya cenderung melebih-lebihkan yang buruk karena itu yang menarik untuk diklik. Coba cari dan ikuti akun-akun yang khusus membahas kemajuan teknologi, aksi kemanusiaan, kelestarian alam, atau kisah-kisah inspiratif dari berbagai daerah.

Anxiety Disorder ini adalah kondisi yang nyata dan bisa dialami oleh siapa saja. Meski sering disalahpahami, gangguan kecemasan bukanlah tanda kelemahan, melainkan masalah kesehatan mental yang perlu ditangani dengan serius. Dengan mengenali tanda-tanda awal, memahami dampaknya, dan menerapkan langkah-langkah penanganan yang tepat, setiap individu memiliki kesempatan untuk mengelola kecemasan dan menjalani hidup dengan lebih tenang dan seimbang.

Teman-teman bisa berkonsultasi langsung ke Psikolog RS EMC. Karena di RS EMC tidak hanya menangani penyakit fisik, tapi juga salah satu rumah sakit untuk konsultasi dan penanganan gangguan kesehatan mental. Di sana, teman-teman yang punya gangguan pada kesehatan mental, akan mendapatkan pendampingan sekaligus pengobatan jika diperlukan.

Yuk jadi perempuan yang sehat dan bahagia lahir dan batin dengan selalu aware dengan kesehatan fisik serta mental kita. Semoga artikel ini bermanfaat ya!

Leave a Comment