Pernah dengar Social Media Anxiety Disorder?

Jadi beberapa hari kemarin sempat membaca novel urban thriller untuk kedua kalinya. Sebelumnya saya tidak terlalu suka dengan novel bergenre thriller atau sejenisnya. Namun karena ada tugas review dari seorang penulis saya pun mencoba untuk menyukai genre tersebut.

Fenomena Social Media Anxiety Disorder dalam Sebuah Buku Berjudul Playing Victim

Ternyata seru dan mengesankan. Judul novel yang saya review adalah Playing Victim. Berkisah tentang tiga orang sahabat yang terperangkap dalam permainan mereka sendiri. Permainan “menjadi korban” ini membuat mereka meraih kepopularitasan di dunia maya dalam sekejap. Berbagai tawaran iklan dan endorse menghampiri karena banyaknya simpati netizen yang berdatangan dan beramai-ramai memutuskan untuk menjadi pengikut mereka. Secara tidak sadar mereka terbuai dalam euforia kepopularitasan yang diciptakan dari drama mereka sendiri.

Bukannya mengurangi kecanduan terhadap sosial media, justru mereka menciptakan permainan baru untuk menyalakan kembali popularitas yang sedang redup. Intensitas permainan mereka semakin brutal seiring berjalannya waktu. Netizen mulai lelah dengan drama yang mereka ciptakan. Netizen menginginkan klimaks yang seru. Hingga akhirnya menyebabkan ketiganya berada dalam bahaya.

Social Media Anxiety Disorder

pict from unsplash.com

Sampai disini, lalu saya mencoba meraba diri sendiri. Apa tujuan saya bersosial media? Jangan-jangan saya juga menderita sosial media anxiety disorder seperti tokoh dalam Playing Victim?

Satu hal yang berkontribusi besar terhadap sosial media anxiety disorder adalah faktor perbandingan dan keputusasaan. Artinya, foto-foto orang yang nampak di timeline kita mungkin sedang berlibur di pantai atau gunung bisa jadi akan menjadi pembanding dengan diri sendiri.
“Kok aku ngga bisa seperti dia ya?”

“Kapan ya aku bisa liburan seperti dia?” Dan beberapa perbandingan lain yang tidak kalah hebohnya.

Salah satu gejala Social Media Anxiety Disorder yang saya kutip dari Novel Playing Victim adalah seringnya kita melihat berapa jumlah like yang kita dapat, berapa komen yang kita dapat, dan hal lain yang berkaitan dengan jumlah pengikut/followers. Meskipun belum secara resmi ditetapkan oleh WHO sebagai penyakit mental, namun ada banyak penelitian yang menjelaskan tentang penyakit ini. Bisa jadi akan menjadi penyakit mental selanjutnya setelah “Kecanduan Game” dimasukkan sebagai penyakit mental oleh WHO.

Pada gilirannya hal tersebut dapat menyebabkan kecemasan yang tingkatannya meresahkan (takut akan kegagalan pribadi).  Perasaan kesadaran diri atau kebutuhan akan perfeksionisme kemudian akan muncul, yang sering kali memanifestasikan dirinya ke dalam kecemasan sosial atau pikiran. Kemudian masuk ke dalam otak yang mengindikasikan Gangguan Obsesif-kompulsif kalau kata psikolog.

Membandingkan dapat menyebabkan kecemasan ketika berhubungan dengan follower atau pengikut kita.  Misalnya, seseorang yang menggunakan Instagram, Twitter, dan Facebook saat ini mengindikasikan pemikiran mereka bahwa lebih penting kuantitas dibanding kualitas. Jumlah pengikut, tweet, dan “suka” yang kita dapat berapa? Sudahkah para pengikut kita puas dengan apa yang kita tampilkan di sosial media? Akhirnya kita dapat mengambil angka-angka yang tidak jelas ini dan menjadikannya dasar untuk mendukung pikiran negatif.

Tidak hanya menimbulkan kecemasan berlebihan seperti : “duh kok like nya cuma sedikit?”. Bahkan University of Chicago menemukan bahwa sosial media juga “lebih adiktif” daripada rokok. Hanya saja sosial media tidak akan menyebabkan emfisema atau penyakit hati,  jadi mungkin orang-orang cenderung melupakan perbaikan itu.

Melihat kebiasaan yang terlalu sering berinteraksi dengan sosial media, saya khawatir candu itu kelak akan merusak apa yang ada dalam diri saya sendiri. Oleh karena itu saya mencoba menentukan jadwal untuk menulis artikel, membuka instagram, mengunduh postingan untuk konten review buku, dan membalas pesan. Jadwal pagi siang dan malam. Sore saya usahakan untuk tidak memegang gawai sama sekali kecuali ada hal mendesak atau tugas yang harus dikerjakan. Serta mencoba belajar untuk menahan update status yang tidak diperlukan.

Kemudian saya menyadari bahwa semakin dewasa, kita akan semakin lebih memilih menghabiskan ‘waktu yang berkualitas’ bersama orang-orang yang kita cintai daripada aktivitas lain yang dahulunya sering kita prioritaskan. Waktu yang berkualitas tanpa gawai yang menyebabkan semua kepala menunduk, mata tidak saling menatap, sibuk dengan “konten” masing-masing untuk ditampilkan dan dilihat teman-teman dunia maya bahwa “Inilah kegiatan kami hari ini dan kami (seolah-olah) sedang bahagia”.

Nah, kalau kamu? Sudah sebatas mana sosial media memberikanmu candu? 🙂

Yuk kurangi sosial media dengan perbanyak membaca buku. Ciptakan inner cyrcle yang mampu membuat diri kita produktif dan bermanfaat bagi banyak orang 😉

Klik tautan ini untuk mengetahui asyiknya membaca buku https://jeyjingga.com/mengenal-gerakan-one-week-one-book/