Playing Victim bercerita tentang tiga orang sahabat yang terperangkap dalam permainan mereka sendiri. Sejak salah seorang guru mereka menjadi korban atas permainan ‘drama’ mereka, peristiwa demi peristiwa menghanyutkan ketiga orang ini lebih dalam lagi. Intensitas permainan mereka lebih brutal lagi dari waktu ke waktu hingga mengancam nyawa mereka sendiri. Kisah persahabatan mereka tidak cukup berhenti ketika ketiganya menyesap popularitas dan sudah tidak membutuhkan lagi satu sama lain. Ada banyak rangkaian peristiwa yang membuat ketiganya harus segera mengakhiri permainan mereka sendiri. Secepatnya atau tidak akan ada lagi nama mereka di dunia ini.

Isyvara, gadis cerdas yang bisa dibilang sebagai otak dari permainan mereka awalnya. Ketidaksempurnaan fisiknya membuat Isyvara tidak percaya pada dirinya sendiri. Meskipun dia pemalu dan mudah gugup, namun aktingnya sangat memukau. Bahkan dia mampu mengelabui guru konselingnya sendiri. Ia juga bisa membaca bahasa tubuh seseorang. Kelebihan yang tidak semua orang punya.
Calya, gadis cantik dengan sifat bossy ini dengan mudah meraih popularitas dengan kecantikan dan beberapa dramanya. Angka followersnya paling banyak dibandingkan kedua sahabatnya. Calya terjebak dalam hubungan asmara yang tidak sehat dengan teman semasa SMAnya. Calya juga sedang diikuti oleh psikopat berbahaya yang tidak mudah ditangkap begitu saja. Hidupnya terancam. Namun Calya tak peduli, sedekat apa bahaya mengancamnya, yang ia pedulikan hanya komentar dan angka pengikut di instagramnya.

Afreen, gadis paling pintar diantara ketiga sahabatnya. Memiliki sense of art yang bagus sehingga ia menaikkan popularitasnya tidak hanya dengan gimmick murahan, tapi juga dengan prestasinya. Namun siapa sangka pencapaiannya tidak pernah memuaskan altar egonya. Ia terus mencari cara agar menjadi yang nomor satu. Hingga ia menciptakan sebuah ilusi yang membahayakan dirinya sendiri.

Ketiga sahabat ini memulai sebuah drama yang membuat seisi sekolah enggan berteman baik dengan mereka. Bagaimana tidak? Permainan mereka sungguh berani hingga satu guru mengundurkan diri dari sekolah berkat ulah mereka yang memposisikan diri sebagai korban. Ide Isyvara ini tak disangka malah berlanjut hingga mereka memasuki perkuliahan. Bukannya berhenti, intensitas permainan mereka untuk menarik perhatian netizen malah semakin meningkat dan brutal. Netizen terpuaskan dengan cerita baru yang mereka ciptakan. Namun mereka tidak menyadari bahwa bahaya mengintai nyawa mereka hingga ketiganya mati. Akankah permainan mereka berhenti?
Bukannya mengurangi kecanduan terhadap sosial media, justru mereka menciptakan permainan baru untuk menyalakan kembali popularitas yang sedang redup. Intensitas permainan mereka semakin brutal seiring berjalannya waktu. Netizen mulai lelah dengan drama yang mereka ciptakan. Netizen menginginkan klimaks yang seru. Hingga akhirnya menyebabkan ketiganya berada dalam bahaya.

pict from unsplash.com

Satu hal yang berkontribusi besar terhadap sosial media anxiety disorder adalah faktor perbandingan dan keputusasaan. Artinya, foto-foto orang yang nampak di timeline kita mungkin sedang berlibur di pantai atau gunung bisa jadi akan menjadi pembanding dengan diri sendiri.
“Kok aku ngga bisa seperti dia ya?”

“Kapan ya aku bisa liburan seperti dia?” Dan beberapa perbandingan lain yang tidak kalah hebohnya.

Tentu kita pernah seperti itu.

Salah satu gejala Social Media Anxiety Disorder yang saya kutip dari Novel Playing Victim adalah seringnya kita melihat berapa jumlah like yang kita dapat, berapa komen yang kita dapat, dan hal lain yang berkaitan dengan jumlah pengikut/followers. Meskipun belum secara resmi ditetapkan oleh WHO sebagai penyakit mental, namun ada banyak penelitian yang menjelaskan tentang penyakit ini. Bisa jadi akan menjadi penyakit mental selanjutnya setelah “Kecanduan Game” dimasukkan sebagai penyakit mental oleh WHO.

Pada gilirannya hal tersebut dapat menyebabkan kecemasan yang tingkatannya meresahkan (takut akan kegagalan pribadi). Perasaan kesadaran diri atau kebutuhan akan perfeksionisme kemudian akan muncul, yang sering kali memanifestasikan dirinya ke dalam kecemasan sosial atau pikiran. Kemudian masuk ke dalam otak yang mengindikasikan Gangguan Obsesif-kompulsif kalau kata psikolog.

Seseorang yang menggunakan Instagram, Twitter, atau Facebook saat ini mengindikasikan pemikiran mereka bahwa lebih penting kuantitas dibanding kualitas. Jumlah pengikut, tweet, dan “suka” yang kita dapat berapa? Sudahkah para pengikut kita puas dengan apa yang kita tampilkan di sosial media? Akhirnya kita dapat mengambil angka-angka yang tidak jelas ini dan menjadikannya dasar untuk mendukung pikiran negatif.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Tidak hanya menimbulkan kecemasan berlebihan seperti : “duh kok like nya cuma sedikit?”. Bahkan University of Chicago menemukan bahwa sosial media juga “lebih adiktif” daripada rokok. Hanya saja sosial media tidak akan menyebabkan emfisema atau penyakit hati, jadi mungkin orang-orang cenderung melupakan perbaikan itu.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
⁣⁣⁣

Kelak kita akan menyadari bahwa semakin dewasa seseorang, akan semakin lebih memilih menghabiskan ‘waktu yang berkualitas’ bersama orang-orang yang kita cintai daripada aktivitas lain yang dahulunya sering kita prioritaskan. Waktu yang berkualitas tanpa gawai yang menyebabkan semua kepala menunduk, mata tidak saling menatap, sibuk dengan “konten” masing-masing untuk ditampilkan dan dilihat teman-teman dunia maya bahwa “Inilah kegiatan kami hari ini dan kami (seolah-olah) sedang bahagia”. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Playing Victim menyadarkan kita, lewat cerita dari tiga tokoh utama. Playing Victim adalah novel urban thriller pertama yang membuat saya mulai menyukai genre ini. Berhasil kah Isyvara, Calya dan Afreen keluar dari permainan yang mereka buat sendiri? ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Sudah sebatas mana sosial media memberikan candunya? Sudah sejauh mana sosial media mengendalikan kita? ⁣⁣⁣

Hello Victim, wanna play?
⁣⁣⁣
Must read! ❤️ ⁣⁣⁣

Author : Eva Sri Rahayu, Penerbit : Noura Publishing. Cetakan 1, Mei 2019, 396 halaman.

Rate 3/5