Mengenal Bissu dan Toboto lewat Tiba Sebelum Berangkat

TIBA SEBELUM BERANGKAT

 

Kau serius bertanya kenapa bissu-atau sebutlah orang Sulawesi Selatan mengutuk perang? Kau tahu, hanya karena kau punya otak, bukan berarti kau bisa berpikir, dan entah kenapa saya pikir kau tidak memanfaatkan otakmu ketika menanyakan hal itu. Jelas, sekali lagi, jelas, perang hanyalah perbuatan sia-sia yang mengatasnamakan kehidupan yang lebih baik-tetapi sungguh omong kosong!

Waktu itu, menurut penuturannya, Puang Matua Rusmi baru saja selesai irebba, baru saja selesai dilantik sebagai bissu. Namanya berubah dari Rusming menjadi Rusmini kemudian menjadi Bissu Rusmi. Ia belum bergelar Puang Matua sebab gelar itu hanya untuk bissu yang dipercaya sebagai pemimpin bissu-bissu yang lain. Usianya dua puluh dua tahun ketika awal 1950, Kesatuan Gerilja Sulawesi Selatan (KGSS), mengadakan pertemuan besar-besaran di Maros, jika saya tak salah ingat, hasil dari pertemuan itu adalah pengajuan diri untuk bergabung dengan Divisi Hasanuddin. Mereka ingin diakui oleh TNI. Menurut simpulan Puang Matua Rusmi, hal itulah salah satu penyebab perang, dan satu-satunya penyebab ratusan bissu diburu dan dibunuh. Meski kemudian lewat buku-buku dan penelitian, penyebab perang versi Puang Matua Rusmi bisa diragukan, toh itu tidak mengubah apa-apa.

Tiba Sebelum Berangkat adalah karya kedua Faisal Oddang yang saya baca dan sampai saat ini masih berharap bisa memiliki Puya ke Puya. Jika ada yang tahu dimana toko buku yang masih menyediakan buku itu, tolong beritahu saya ya?

Kisah yang disuguhkan oleh Faisal Oddang kali ini berlatar sejarah bagaimana DII/TII terbentuk di Sulawesi Selatan. Diceritakan dengan sangat apik melalui tulisan seorang tawanan yang bernama Mapata. Seorang mantan bissu dan toboto yang pernah hidup dengan seseorang yang kala itu menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri penyerangan DI/TII di kampungnya.

Bissu adalah kaum pendeta yang tidak mempunyai golongan gender dalam kepercayaan tradisional Tolotang yang dianut oleh masyarakat Amparita Sidrap dalam masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan, Indonesia. Golongan Bissu mengambil peran gender laki-laki dan perempuan. Mereka dilihat sebagai separuh manusia dan separuh dewa dan bertindak sebagai penghubung antara kedua dunia. (dalam Graham, Sharyn (2002). “Sex, Gender, and Priests in South Sulawesi, Indonesia” The Newsletter. No. 29. International Institute for Asian Studies. hlm. 27)

Menurut Sharyn Graham, seorang peneliti di University of Western Australia di Perth, Australia, seorang Bissu tidak dapat dianggap sebagai banci atau waria, karena mereka tidak memakai pakaian dari golongan gender apa pun namun setelan tertentu dan tersendiri untuk golongan mereka. Menurut Sharyn Graham, dalam kepercayaan tradisional Bugis, tidak terdapat hanya dua jenis kelamin seperti yang kita kenal, tetapi empat (atau lima bila golongan Bissu juga dihitung), yaitu: “Oroane” (laki-laki); “Makunrai” (perempuan); “Calalai” (perempuan yang berpenampilan seperti layaknya laki-laki); “Calabai” (laki-laki yang berpenampilan seperti layaknya perempuan); dan golongan Bissu, di mana masyarakat kepercayaan tradisional menganggap seorang Bissu sebagai kombinasi dari semua jenis kelamin tersebut. (Graham, Sharyn (2001). “Sulawesi’s fifth gender”. Inside Indonesia. No. 66. Indonesian Resources and Information Program).

Kita tidak hanya belajar soal sejarah DII/TII di Sulawesi Selatan, tidak hanya menghormati sebuah kebudayaan yang mengakar kuat dalam persendian masyarakat tradisional di Sulawesi dan berbagai belahan bumi lain yang mungkin masih tersisa. Namun, kita juga belajar bagaimana berdamai dengan masa lalu, dengan dendam dan segala penyakit hati yang bisa membawa kita ke dalam jurang bahaya yang lebih menyakitkan lagi.

Beberapa adegan yang dikisahkan Mapata hanya dapat dibaca untuk usia delapan belas tahun ke atas. Tentang Mapata yang mengalami pelecehan seksual oleh ayah tirinya sendiri. Bagaimana Mapata kecil bertahan dengan rutinitas ayahnya bersama dengan dirinya di kamar tidur ketika ibunya tidak ada di rumah. Mapata percaya ada setan perempuan dalam dirinya-sebagaimana yang dikatakan ayah tirinya, hingga ia tak mampu mencintai seorang perempuan, tak mampu memandang perempuan seperti kebanyakan lelaki lain memandang mereka. Hingga ia bertemu dengan teman masa kecilnya, Batari. Namun saat itu Mapata sudah menjadi toboto, pelayan bissu yang tak mungkin menikah. Bagaimana Mapata menikah dan akhirnya punya anak, kalian harus membaca buku ini hingga akhir!

Mapata kehilangan jati dirinya, kehilangan istri dan anaknya, satu-satunya harta paling berharga yang ia punya. Bahkan ia harus kehilangan lidahnya karena penyekapan yang terjadi pada dirinya. Bahkan hampir-hampir organ tubuhnya akan dijual oleh sang penculik yang keji itu. Tiba Sebelum Berangkat mengingatkan saya pada orang-orang yang dihukum tanpa peradilan. Disiksa tanpa penghakiman. Lalu mereka hilang ditelan oleh waktu, dilupakan oleh orang-orang terdekat dan aktivis yang pada awalnya membela dan mencari mereka. Menuntut keadilan dari negeri ini tampaknya masih sangat sulit untuk dilakukan bagi mereka kaum papa. Meskipun jeratan orde baru sudah terlepas, namun keadilan di negeri ini masih saja bergantung pada kaum yang berkuasa, kaum yang punya nama dan berada. Tidak untuk Mapata, yang kini harus kehilangan segalanya.

Tiba Sebelum Berangkat, Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia.

Cetakan kedua September 2018, 216 halaman.

4/5

Leave a Reply