New Normal Life seakan mimpi yang menjadi kenyataan. Tak pelak harus ada solusi dari sumber keuangan kedua kita.

Sebagai ibu pekerja sebenarnya sungguh berat harus kembali menjalani kehidupan seperti biasa meskipun dengan protokol kesehatan yang ketat. Tetap saja jam kantor harus dijalani. Absen harus dilakukan, serta berbagai macam administrasi lain yang harus dipenuhi. Sedangkan si anak belum masuk sekolah. Tepatnya sih daycare juga tidak mau mengambil resiko. Bingung mau dititipkan ke siapa. Mau dibawa kerja juga ngga mungkin.

Pada akhirnya saya lah yang harus beradaptasi dengan kehidupan baru. Bukan lagi new normal tapi sudah termasuk new life style. Kalau semula saya bisa cukup tidur, namun new normal memaksa saya harus begadang untuk melakukan pekerjaan di malam hari menunggu si anak tidur. Kebetulan bocah usia 16 bulan ini selalu mau tahu apa yang saya kerjakan. Mau pegang gawai sebentar untuk upload dagangan saja harus curi-curi waktu. Apalagi mau kerja pakai laptop, hehehe…

Tapi bukan berarti tidak bisa dijalani, saya hanya perlu pembiasaan saja sih sebenarnya.

Pembiasaan itu sendiri akhirnya harus mulai ada perubahan perilaku baik dari saya sendiri, si anak dan partner sepanjang hidup. Diantara perubahan perilaku tersebut saya harus benar-benar mengkondisikan mereka untuk :

Mengatur Ulang Jadwal Tidur

new normal sumber keuangan

unsplash.com/
@julianhochgesang

Kalau semula si bocah terbiasa tidur siang agak lama, mulai dua hingga tiga jam, maka saat ini saya berusaha agar durasi tidurnya maksimal satu jam saat siang hari. Sehingga malamnya dia akan tidur lebih cepat dari biasanya. Karena saya harus mulai bekerja pukul 9 malam kalau mau tidur cukup.

Tidak hanya jadwal tidur sang anak yang diatur, tapi juga jadwal tidur kami sebagai orang tua. Si anak sedang aktif-aktifnya beraktivitas, sampai-sampai saya kehabisan tenaga sendiri kalau seharian harus menjaganya sendirian. Jadi kami atur jadwal masing-masing agar baik ibu maupun bapaknya punya jam istirahat yang cukup. Bergantian menjaga anak usai ada pekerjaan di luar rumah. Kalau yang satu istirahat maka yang satu harus jaga anak. Begitulah. Mudah-mudahan kondisi ini bisa kami lalui dengan baik.

Penerapan Protokol Kesehatan di Rumah

new normal life sumber keuangan

unsplash.com/@unitednations

Meskipun si anak belum masuk sekolah (saya menyebut daycare sebagai sekolah), bagaimanapun juga kami tetap waspada. Pasalnya si Bapak bekerja di Rumah Sakit, apalagi RS yang ditunjuk sebagai RS rujukan pasien Covid-19. Jadi harus tetap ekstra berhati-hati sebagai langkah preventif kami.

Alhamdulillah sampai saat ini kami sekeluarga sehat selalu. Begitu si bapak pulang dari RS, beliau langsung menuju kamar mandi untuk mencuci bajunya sendiri dan membersihkan badannya. Barulah kemudian bergabung bersama kami untuk nyemil, ngobrol santai sambil menemani si kecil bermain, atau nonton televisi.

Tidak hanya suami, saya pun menerapkan perilaku baru yang sama. Ketika keluar, selalu mengenakan masker dan membawa handsanitizer cadangan. Berjaga-jaga kalau tempat yang kami tuju tidak menyediakan tempat cuci tangan atau handsanitizer. Namun kondisi new normal saat ini sepertinya jarang sekali ada tempat yang tidak dilengkapi wastafel untuk cuci tangan atau handsanitizer. Bahkan pasar pagi di dekat rumah pun punya tempat tersendiri untuk mencuci tangan.

Berhemat

new normal life

unsplash.com/@michelle

Kita tidak akan tahu sampai kapan pandemi ini akan berakhir. Sampai kapan antibodi kita mengenali virus yang entah sudah berevolusi atau belum. Oleh karena itu saya dan suami bersepakat untuk berhemat-hemat. Kalau semula uang belanja lima puluh ribu rupiah sehari misalnya, maka dipangkas menjadi tiga puluh ribu sehari. Pada akhirnya kami sudah lumayan terbiasa sejak Pemerintah memberlakukan PSBB. Terbiasa makan sederhana dan secukupnya.

Berhemat juga bukan hanya persoalan memangkas uang belanja, namun juga berpikir 1000x sebelum membeli barang. Saat ini sejujurnya saya jadi lebih rajin masak ketimbang masa sebelum PSBB. Sehingga jarang sekali kami jajan di luar atau beli makan di luar. Begitu juga dengan belanja barang-barang yang belum dibutuhkan, saya sangat membatasi itu. Bagaimanapun, ada banyak orang yang perlu dibantu. Maka tips berhemat ini bukan hanya untuk menimbun harta, tapi juga membantu sesama.

Alternatif Sumber Keuangan Kedua

Sebagai pegawai honorer yang gajinya selalu dirapel, saya selalu memikirkan bagaimana caranya punya sumber keuangan selain dari pekerjaan utama. Oleh karena itu saya sudah punya opsi ini meskipun dunia tidak dalam kondisi new normal. Karena bagaimanapun kita sebagai perempuan harus sadar bahwa suatu saat akan mengalami kehilangan. Maka untuk menghadapi itu semua saya harus punya penghasilan tambahan untuk menabung, jika suatu saat kita membutuhkan sesuatu. Jadi, kita tidak perlu banyak merepotkan orang lain saat itu, apalagi di tengah situasi pandemi yang dipaksa harus memulai kehidupan new normal seperti saat ini.

Saya pun percaya bahwa 9 dari pintu rezeki yang 10 itu ada pada perniagaan. Sejak sekolah pun saya juga sudah terbiasa berdagang. Mulai dari jual pulsa, baju, makanan, bahkan sampai masakan saya sendiri. Hingga pada akhirnya sampai saat ini saya sudah bergabung bersama salah satu produk perawatan kulit dan kecantikan untuk menjadi resellernya. Sudah dua tahun saya bersama mereka. Tidak terlalu memiliki target sih memang, tapi lumayan lah untuk menabung.

Maka opsi paling mudah untuk seorang ibu agar punya sumber keuangan tambahan ya berdagang. Mau berdagang barang atau jasa, kita bisa sesuaikan dengan passion atau kesukaan kita masing-masing. Sehingga kita bisa melakukannya dengan senang hati, tentu saja bonus memiliki penghasilan tambahan.

Berdagang pun juga tidak bisa langsung membawa banyak keuntungan. Karena seperti yang sudah saya bahas pada artikel sebelumnya, bahwa kesuksesan itu butuh proses yang panjang. Jadi kalau mau lebih cepat suksesnya, ya harus dimulai lebih cepat lagi usahanya.

new normal quotes

unsplash.com/@garand

Saya suka sekali dengan ungkapan di atas. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengeluh, meratapi nasib, apalagi mempertanyakan takdir yang telah terjadi pada dunia saat ini. Ah, alih-alih malah mencari kambing hitam berbagai sebab yang mengakibatkan efek yang amat menyakitkan di tahun 2020 ini. Namun yang ingin Allah tahu dari kita sebagai hambaNya adalah bagaimana kita bisa melewati ujian yang telah diberikan dengan sabar dan ikhlas. Karena hidup ini bukan tentang bagaimana kita menunggu badai ini berlalu tanpa melakukan apapun. Tapi bagaimana caranya belajar menari di bawah hujan.

Life isnt about waiting for the storm to pass. Its about learning how to dance in the rain.