Sebuah paradoks mengajarkan kita bagaimana menghadapi situasi yang serba sulit seperti masa pandemi sekarang ini. Ketika banyak sekali informasi yang masuk ke dalam kepala kita, berita baik maupun buruk. Bahkan tak jarang angka kematian dari hari ke hari membuat kita sempat merasa down. Namun justru hati yang tak tenang, cemas, hingga berdampak pada kekhawatiran yang berlebihan dapat memengaruhi sistem imun tubuh kita.

Paradoks Stockdole mengajarkan kita untuk memiliki keyakinan bahwa : kita akan sukses pada akhirnya, walaupun sesulit apapun itu dan pada waktu yang sama, menghadapi fakta-fakta ‘brutal’ (bisa jadi sangat membatasi dan merugikan kita) yang ada pada realitanya, apapun itu.

medium.com/@ilhammuzakki

Sehingga meskipun kita tidak akan pernah tahu kapan pandemi ini akan berakhir sepenuhnya. Kapan kita bisa keluar rumah seperti biasanya, seperti sebelum pandemi ini menyerang. Kapan kita akan keluar sebagai manusia “beruntung” yang lolos dari seleksi alam. Setidaknya kita masih punya harapan, seperti yang telah diungkapkan di atas. Seburuk apapun kondisi yang kita hadapi saat ini, kita harus tetap memiliki optimisme. Karena pada harapan itulah kita bisa hidup tenang. Dan lagi, tidak akan ada ujian yang berlangsung selamanya, kan?

Lewat paradoks itulah kita harus punya mimpi untuk dibangun suatu hari nanti, setelah pandemi ini berakhir. Salah satunya menuliskan tempat-tempat yang akan kita kunjungi segera setelah pandemi berakhir.

Ada banyak rencana yang terbersit dalam kepala setelah pandemi ini berakhir. Namun hal pertama yang akan saya lakukan setelah bebas dari masa karantina mandiri adalah mengunjungi tempat-tempat yang selalu saya idamkan agar bisa kembali lagi kesana secepatnya kala kebosanan selama di rumah saja melanda.

1. Kantor

Entah mengapa saya merindukan tempat yang selama ini saya hindari. Ternyata kantor yang selama ini menjadi salah satu pendukung kehidupan menjadi tempat yang sangat saya rindukan. Padahal rutinitas selama di kantor hanya itu-itu saja. Namun rindu bagaimana saya melakukan presensi, bertemu dengan rekan sejawat, hingga melaksanakan rapat bulanan yang mungkin terdengar membosankan itu kian mengisi alam bawah sadar. Kantor masih menjadi tempat pertama yang akan saya kunjungi nanti segera setelah pandemi berakhir. Menyalami satu persatu staff di sana. Saling memberi dukungan serta melempar lelucon-lelucon garing ala orang tua. Meskipun kecil, tetap saja kantor itu membuat rindu.

2. Tempat tongkrongan bersama teman-teman

Saya biasa meluangkan waktu sejam hingga dua jam untuk mampir membeli kopi di sebuah tempat tongkrongan langganan saya. Meskipun hanya memesan es kopi susu, namun tempat itu menjadi tempat favorit saya ketika menulis atau menyelesaikan deadline laporan pekerjaan. Atau tempat berkumpul bersama teman-teman membicarakan kehidupan masing-masing.

Bahkan seringkali saya menghabiskan waktu saya di sana hanya sekedar untuk membaca. Karena dari tempat inilah tulisan-tulisan saya lahir, baik artikel, antologi, maupun buku yang telah saya selesaikan.

3. Toko Buku

Biasanya saya rutin mengunjungi toko buku favorit satu bulan sekali untuk mendapatkan bacaan baru. Namun sejak pandemi ini menyerang, saya menjadi sangat rindu dengan toko buku dan bau khas karbol di dalamnya. Begitu juga dengan diskon-diskon yang selalu saya buru bersama dengan teman-teman yang sehobi. Nampaknya, toko buku inilah yang menjadi penghilang stres saya selama “dikurung” di rumah saja.

4. Tanah Suci Makkah

Saya bersorak girang dalam hati ketika mendengar berita bahwa Masjidil Haram sudah mulai dibuka saat ini (per tanggal 1 Mei 2020) khusus untuk jamaah lokal. Meskipun begitu, ini menjadi harapan bagi saya untuk tetap melangitkan doa agar bisa sampai kesana suatu saat nanti. Setelah pandemi berakhir, tentu saja. Barulah setelahnya saya berani berharap untuk mengunjungi negara-negara lain di dunia.

Tempat apa nih yang teman-teman ingin kunjungi setelah pandemi berakhir?

#BPNRamadan2020