Awal Januari kemarin ketika mendengar kasus pertama Covid-19 di Wuhan, China, aku termasuk orang yang optimis bahwa virus itu tidak akan masuk ke Indonesia. Meskipun seiring dengan berjalannya waktu keyakinan itu memudar perlahan. Keyakinan yang akhirnya menjadi keraguan itu akhirnya terjawab di Maret 2020. Sekitar kurang dari dua bulan menuju bulan Ramadan. Tidak disangka, inilah Ramadan pertama kami di tengah situasi pandemi. Ketika banyak pekerja dirumahkan, kebutuhan pokok semakin mahal, maka tidak berlebihan jika kukatakan bahwa Ramadan ini adalah Ramadan terberat bagi kami semua.

Selain harus benar-benar menghemat pengeluaran (karena kita tidak akan tahu sampai kapan perusahaan atau instansi tempat kita bekerja mampu membiayai kita meskipun bekerja dari rumah saja), kita juga dipertemukan dengan urusan kemanusiaan. Empati yang harus dibuktikan secara nyata, karena banyak orang yang membutuhkan bantuan kita.

Namun di sisi lain, Allah memang benar-benar menguji kita sebagai seorang beriman. Bagaimana kualitas puasa kita meskipun pandemi tengah menyerang kehidupan seluruh umat manusia di dunia.

Bagaimana harus menjalani ibadah Ramadan, menahan lapar dan haus sementara kita harus menjaga diri dalam kondisi kesehatan terbaik agar memiliki imunitas yang mumpuni untuk menghadapi wabah yang meresahkan ini?

Sebelum itu mari kita berangkat dari kalimat Puasa itu Menyehatkan jika dilakukan dengan cara yang benar. Ingat ya, dengan cara yang benar.

Kenapa puasa dengan cara yang benar itu menyehatkan? Dalam suatu diskusi kesehatan bersama dokter Frida Nila beliau menyebutkan bahwa :

  1. Puasa adalah ibadah yang dianjurkan bukan hanya di agama Islam tapi juga hampir di seluruh agama lain. Sehingga tidak salah jika dikatakan puasa itu menyehatkan, hingga seluruh agama pun bersepakat mengenai hal itu.
  2. Dalam bidang kesehatan, puasa atau yang terkadang dikenal dengan Intermiten Fasting merupakan salah satu metode yang dikenal manfaatnya dalam menjaga kesehatan, kadar gula dalam darah, kimia darah, dan lain-lain.

Lalu mengapa seringkali kita menganggap bahwa puasa membuat kita lemah atau bahkan bisa menimbulkan sakit?

Seringkali kita berpuasa tanpa menimbang kemampuan tubuh kita, misalnya :

  1. Tidak sahur karena merasa selama ini badan sehat-sehat saja walaupun mengonsumsi makanan yang memicu asam lambung seperti makanan terlalu pedas, asam, sehingga setelah berbuka justru merasa sakit perut.
  2. Kebutuhan cairan tidak terpenuhi dengan baik.
  3. Gizi tidak seimbang

Oleh karena itu, dokter Frida Neila memaparkan dalam kondisi puasa, terlebih di saat wabah sedang terjadi ini, kita harus menyiapkan fisik di kondisi terbaik. Melalui pola makan dengan gizi berimbang (bukan hanya memenuhi 4 sehat 5 sempurna) tapi juga memenuhi kebutuhan makro dan mikro nutrien yang terkandung dalam makanan. Seperti karbo, protein, serat, vitamin dan mineral. Diantaranya mencukupi kebutuhan cairan harian saat buka dan sahur.

Selain itu jika ada obat yang harus kita minum, maka kita perlu mengatur waktu minum obat dengan baik secara rutin. Juga jangan lupa untuk berolahraga ringan serta menjaga kebersihan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat seperti yang sudah banyak dikampanyekan oleh Dinas Kesehatan bahkan sebelum pandemi Covid-19 datang.

Jadi, tetap jaga daya tahan tubuh dengan memenuhi gizi yang seimbang sesuai kebutuhan jasmani kita ya. Selain itu kita harus yakin bahwa puasa memang akan memiliki efek positif terhadap tubuh kita. Diantaranya mengistirahatkan organ-organ yang selama ini kita paksa untuk bekerja keras karena “sering” makan, hehe..

Mudah-mudahan bersama dengan puasa Ramadan ini tubuh kita jauh lebih sehat dan kuat menghadapi serangan virus, apapun itu. Aamiin.

Selamat menunaikan ibadah puasa 🙂

#BPNRamadan2020