Segala-galanya Ambyar, Review

Barangkali suatu hari, kita akan menjadi terintegrasi dengan mesin-mesin. Kesadaran individual kita akan diserap. Harapan-harapan independen kita akan lenyap. Kita akan saling berjumpa dan melebur di cloud, dan jiwa-jiwa kita yang telah terdigitalkan akan berkitar dan memutar di badai data, bentangan bits dan fungsi-fungsi secara harmonis ditaruh dalam keselarasan akbar yang tidak terlihat. -Everything is Fucked, halaman 308-

Buku kedua Mark Manson yang judul aslinya Everything is Fucked ini menjadi sangat laris dan seketika fenomenal bahkan sebelum terbit versi terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Buku sebelumnya yang berjudul Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat (The Subtle Art of Not Giving a Fuck) menjadi buku laris versi Internasional dan New York Times Best Seller. Ulasan sederhananya bisa dibaca di sini. 

Buku ini banyak membahas tentang bagaimana kita menyikapi sebuah harapan dan agar jangan tidak terlalu narsistik ketika sebuah persoalan atau reward dari Tuhan menyapa hidup kita sebagai manusia.

Tidak jauh berbeda dengan buku Mark Manson sebelumnya yang menjadi viral di zamannya. Segala-galanya Ambyar adalah versi terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia yang juga membahas tentang kehidupan kita yang tampaknya kacau dan benar-benar ambyar. Seperti khas Mark Manson ia selalu menyuguhkan segunung fakta dan kasus dengan pendekatan psikologis maupun saintifik untuk diambil benang merahnya, lalu dihubungkan pada persoalan inti pada manusia.

Lagi-lagi ia membahas tentang narsistik yang sering dialami oleh orang-orang di dunia, khususnya di era saat ini. Inilah poin menarik dari buku ini versi saya sendiri.

Sayangnya, Mark terlalu menggeneralisir persoalan yang terjadi. Ia memukul rata apa yang ia sebut sebagai dogma, agama, maupun idiologi. Persoalan yang sensitif menurut saya sebagai penganut agama resmi yang ada di negara ini. Mungkin beberapa orang akan berpikir bahwa buku ini hanya sampah, jangan beri makan otakmu dengan sampah. Ada benarnya juga, namun  pembaca yang baik versi saya adalah ia yang bisa mengambil pengetahuan-pengetahuan di dalamnya tanpa harus “mengikuti” jalan pikiran penulisnya.

Tulisan-tulisan dalam buku ini lebih pada kumpulan pemikirannya tentang sebuah harapan dan printilannya dengan banyak kutipan dari berbagai jurnal dan esai yang mendukung pernyataannya. Termasuk “menuhankan” ilmu pengetahuan di atas agama idiologis seperti yang ia sebutkan. Ia bahkan tanpa ragu mengungkapkan pemikirannya tentang ketiadaan Tuhan. Inilah yang membuat saya sangat gusar dan ingin segera berhenti membacanya, walaupun belum berakhir.

Namun saya bertahan untuk terus memahami isi dari buku ini hingga tuntas. Saya pikir mungkin ada yang salah dengan diri saya, atau mungkin saya yang tidak bisa menangkap apa sebenarnya yang ingin Mark sampaikan? Namun usai membacanya dan hendak menulis review, benarlah adanya mengapa rate buku ini di platform Goodreads kebanyakan bertabur dua atau tiga bintang.

Meskipun begitu, masih banyak kok pengetahuan yang bisa kita ambil dari dalam buku ini. Baik tentang sejarah, perang, psikologi dan nilai moralitasnya.

Tidak seperti buku pertamanya yang membuat saya langsung terkesan karena banyak berbicara dari sudut pandang psikologis dan pendekatan ilmiah yang menyadarkan sekaligus memukau. Buku kedua ini membuat saya sangat tidak nyaman. Yah, sesuai judulnya, benar-benar ambyar. Tagline dalam covernya yang menyebutkan sebuah buku tentang harapan, pada kenyataannya membahas tentang ‘membunuh sebuah harapan itu sendiri’. Barangkali, memang itulah yang Mark ingin sampaikan pada kita. Bahwa sesungguhnya harapan itu mungkin hanya ilusi yang kita ciptakan sendiri untuk mencapai sebuah tujuan atau ambisi.

Everything is Fucked by Mark Manson

Alih Bahasa : Adinto F. Susanto

Penerbit Grasindo, 346 halaman.

Cetakan kedua, Februari 2020

3/5

    • Wakhid on March 24, 2020 at 8:26 am

    Reply

    Mantap!

    • Dymar Mahafa on March 24, 2020 at 8:39 am

    Reply

    Aku belum beli… jadi penasaran pengen baca nih setelah dirimu bikin review kak. Makasih kak Jihan reviewnya 😊

      • jeyjingga on March 24, 2020 at 10:48 am
      • Author

      Reply

      Sama-sama ka Dim❤️

  1. Reply

    Baca reviewmu aku jadi males baca bukunya masa. Seperti tidak sesuai dengan hati nurani hehehe

      • jeyjingga on March 24, 2020 at 10:49 am
      • Author

      Reply

      Gausa beli hahaa. Memang agak nyesel setelah beli. Tapi itu pilihan sih ya 😁

      1. Reply

        Baiklah. Sarannya siap diaplikasikan hehe…

  2. Reply

    Mungkin karena ini terjemahan kali ya. Jd ga bs dapet poinnya. Ga tahu seandainya kita ngerti bahasa asli buku ini ditulis, mungkin bisa lebih nangkep.

      • jeyjingga on March 31, 2020 at 9:53 pm
      • Author

      Reply

      iya juga sih mba. Hahaha jadi kurang dapet gitu feelnya

  3. Reply

    jadi pengen beli

Leave a Reply