Selama ini kita percaya bahwa peradaban bergerak ke arah yang lain, membuat yang mustahil menjadi mungkin, kemudian stabil dan rutin. Dengan perubahan iklim, kita bergerak kembali ke alam, dan kekacauan, memasuki ranah baru yang tak terikat kiasan pengalaman manusia apapun – David Wallace Wills –

Karhutla adalah kebakaran hutan dan lahan yang selama ini mungkin kita abaikan. Hanya karena kita tak ikut terdampak, karhutla di Indonesia menjadi salah satu hal yang bukan menjadi prioritas penanganan.

Jika teman-teman perhatikan, mulai dari data kebakaran hutan, banjir, hingga bencana lain yang menyesakkan seolah seperti banyak kekuatan yang bersekongkol mencegah kita menormalkan kebakaran yang terjadi dalam lima tahun terakhir.

Jumlah penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga September 2019 lalu mencapai 919.516 orang. Hal itu diungkapkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo di Gedung BNPB, Jakarta. Penderita ISPA tersebar di enam provinsi yang terdampak karhutla yakni di Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Sebenarnya mereka tidak hanya berperang melawan ISPA, tapi juga banyak hal yang dipengaruhi oleh asap. Seperti kesehatan mental, penyakit genetis yang bisa saja bermutasi karena kondisi lingkungan, dan masih banyak lagi.

karhutla di indonesia

Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Indonesia Menjadi Penyumbang Emisi Gas Rumah Kaca Terbesar di Dunia

Pada beberapa waktu lalu, Eco Blogger Squad sedang membicarakan soal kebakaran hutan serta penyakit zoonosis yang dikarenakan oleh deforestasi. Bersama kami saat itu, Mas Dedi Sukmara, sebagai direktur data dan informasi dari Auriga Nusantara dipaparkan tentang bagaimana data berbicara soal kebakaran hutan ini.

Dalam pemaparannya Mas Dedi menyebutkan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia dua tahun lalu adalah salah satu yang paling mengkhawatirkan selama dua dekade terakhir. Data Pemerintah menunjukkan hutan dan lahan seluas lebih dari 1,6 juta hektar hangus dilalap api. Ini menjadi yang terparah sejak bencana asap 2015.

Tentu bencana ini masih segar dalam ingatan kita bukan?

Pemerintah rutin menjadi sorotan akibat kebakaran hutan yang tak berkesudahan. Namun menjadi rutinitas juga bahwa persoalan ini kemudian berlalu begitu saja. Asap akibat kebakaran hutan kerap memanaskan hubungan diplomatik dengan negara tetangga. Seperti Malaysia dan Singapura misalnya, negara yang langsung merasakan dampaknya. Karhutla pula yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.

karhutla di indonesia

fenomena kebakaran hutan yang ditunjukkan saat webinar

Kemarau panjang (El Nino) selalu dituding sebagai pemicu kebakaran. Namun, faktanya kebakaran terus terjadi bahkan di tahun-tahun tanpa kemarau panjang. Itu sebabnya, faktor lain telah tepat jika dianggap sebagai penyebabnya. Apalagi kalau bukan ulah manusia?

Bahkan di tanah hijau yang tertutup es, kebakaran pada tahun 2017 tampak melanda wilayah yang sepuluh kali lebih luas dibanding pada 2014; di Swedia bahkan hutan di Lingkaran Artika terbakar.

Kebakaran sejauh itu di utara boleh jadi tampak relatif tak berbahaya, karena tak banyak orang yang hidup di sana. Namun kebakaran di utara meningkat lebih cepat daripada kebakaran di lintang rendah, seperti di Indonesia misalnya. Hal ini sangat mengkhawatirkan para ahli iklim. Kenapa?

Karena abu dan jelaga yang dihasilkannya bisa menghitamkan es, sehingga menyerap lebih banyak cahaya matahari dan meleleh lebih cepat. 

Bisa dibayangkan bukan?

Luas kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia antara tahun 2015-2020 bisa teman-teman lihat dalam diagram ini.

luas lahan yang terbakar

Mari kita bahas satu per satu. Mas Dedi menyebutkan bahwa data tersebut berbicara bahwa dalam dekade terakhir, 2015 dan 2019 menjadi tahun terburuk kebakaran dan bencana kabut asap. Kebakaran pada 2015 melepaskan lebih banyak karbon ke atmosfer dibandingkan dengan total emisi tahunan negara ekonomi besar seperti Jepang dan Inggris.

Kebakaran 2019 juga melepaskan emisi gas rumah kaca yang sangat tinggi, beberapa emisi harian bahkan melebihi emisi tahun 2015.

Sebagai seorang awam, rakyat biasa yang tinggal di Jawa, mungkin saya tidak merasakan apa-apa selain hawa yang semakin panas dirasakan dari waktu ke waktu. Namun, teman-teman di Sumatra dan Kalimantan tentu merasakan bagaimana sesaknya hidup berdampingan dengan kabut dan asap. Bagaimana mereka harus mengurungkan niatnya untuk pergi bekerja karena udara yang menyakitkan paru-parunya. Sekolah ditutup karena asap semakin tak terkendali.

Masih ingat kan kebakaran hebat di tahun 2013? Dampaknya bahkan sampai sekolah negara tetangga pun ditutup karenanya. Bagaimana dengan orang-orang yang lebih dekat dengan lokasi?

sekolah ditutup

Sekitar 200 sekolah di Muar, Malaysia, ditutup untuk sementara karena kualitas udara akibat kabut asap dari Indonesia sudah mencapai tingkat berbahaya. (Source : BBC news)

Dalam situs VOA Indonesia juga disebutkan bahwa di provinsi Sumatera Selatan terjadi kebakaran pada tahun 2015 dengan jumlah terbesar yang terdeteksi, yaitu mencapai hampir 700 titik. Kondisi itu mendorong pemerintah untuk menutup sebagian besar sekolah di Palembang untuk melindungi anak-anak.

Lebih memalukan lagi, asap dari kebakaran di Indonesia, yang seringkali terjadi dari pembukaan lahan perkebunan, merupakan masalah tahunan bagi Asia Tenggara. Meskipun sudah dikerahkan tujuh helikopter untuk menjatuhkan 66 juta liter air di provinsi Sumatra Selatan, kebakaran tersebut masih menjadi yang paling parah.

Kebakaran hutan Indonesia mencapai rekor pada tahun 2015 ketika asap dari kebakaran itu menyebar ke berbagai wilayah di Asia Tenggara. Bahkan menurut studi yang dilakukan oleh Universitas Harvard dan Universitas Columbia, bencana tersebut mempercepat kematian 100 ribu orang. Angka yang sangat besar karena ulah manusia itu sendiri.

Belum lagi kebakaran yang terjadi pada 2019. Kebakaran tersebut juga melepaskan 708 juta ton emisi gas rumah kaca (CO2e). Hampir dua kali lipat lebih besar daripada kebakaran di sebagian Amazon, Brazil (CAMS, 2019).

Jumlah emisi ini lebih dari semua emisi dari industri penerbangan internasional dan diproyeksikan menjadikan Indonesia negara terbesar ke enam di dunia untuk emisi CO2 secara keseluruhan (di belakang AS, Cina, India, Rusia, dan Jepang).

Dapur Asap 2001-2019

Masih bersama mas Arif dalam paparannya disebutkan bahwa sebagian besar titik panas sepanjang 20 tahun terakhir berada di lahan gambut, terutama di Kalimantan Tengah, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Papua. Ini yang kemudian menyebabkan kebakaran semakin sulit dipadamkan. Api menjalar di perut gambur dan pada akhirnya memicu bencana asap.

Penyebab dan Dampak Karhutla di Indonesia

Diantara penyebab yang berasal dari faktor alami yaitu petir, aktivitas vulkanis, dan ground fire. Sedangkan yang berasal dari manusia yaitu adanya praktik pembukaan lahan dengan membakar, perburuan, penggembalaan, konflik dan aktivitas merusak hutan lainnya.

Sedangkan dampaknya :

  • Biodiversitas : hilangnya habitat dan penurunan populasi tumbuhan dan satwa liar
  • Kesehatan, pendidikan, dan transportasi
  • Pemanasan global dan perubahan iklim
  • Kerugian Indonesia akibat kebakaran hutan dan lahan sepanjang 2019 lalu mencapai 2 milliar US Dollar atau setara dengan 72, 95 trilliun rupiah.

Solusi untuk Kebakaran Hutan dan Lahan) Karhutla di Indonesia

Mas Dedi dari Auriga Nusantara menyebutkan setidaknya ada solusi yang masih bisa kita usahakan untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, diantaranya :

1. Memperluas Moratorium hutan dan gambut

Moratorium izin hutan dan gambut itu sendiri merupakan kebijakan transisi guna perbaikan tata kelola hutan dan gambut. Moratorium izin telah berjalan berjilid-jilid sejak era Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sampai sekarang. Mulai Inpres No.10/2011 tertanggal 20 Mei 2011 diperpanjang dengan Inpres No 6/2013. Terakhir, Pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla melanjutkan moratorium dengan Inpres No.8/2015.

Sudah dua rezim pemerintahan atau enam tahun berjalan kebijakan moratorium dengan hasil kurang memuaskan. Oleh karena itu, pemerhati lingkungan serta banyak pihak sampai saat ini masih turut aktif dalam upaya perluasan moratorium hutan dan gambut.

2. Meningkatkan Penegakan Hukum

Seperti yang telah kita ketahui bahwa penegakan hukum dalam bahasan deforestasi masih belum bisa dikatakan menimbulkan efek jera. Baik bagi masyarakat awam hingga pengusaha dan pejabat negeri ini. Hukum masih sangat tumpul dalam bidang deforestasi, oleh karena itu belum bisa ditegakkan secara maksimal.

3. Restorasi Hutan dan Gambut Terdegradasi

Restorasi hutan merupakan upaya untuk memulihkan kondisi hutan alam sebagaimana sedia kala sekaligus meningkatkan fungsi dan nilai hutan baik ekonomis maupun ekologis.

4. Mendukung komunitas pemadam kebakaran dan kapabilitas pemantauan

5. Membangun infrastruktur hidrologis dan mendorong kapasitas respon dini

6. Memberi insentif ekonomi untuk tidak membakar

Pilihan yang cukup naif sebenarnya jika semua orang memang benar-benar tidak sadar akan bahaya yang mengintai kita semua akibat asap kebakaran. Namun apa boleh buat jika hal yang bisa menahan laju brutalnya manusia melakukan deforestasi adalah insentif 🙂

cegah karhutla cegah pandemi

Zoonosis Disease, Wabah Akibat Deforestasi

Bersama Eco Blogger Squad dalam webinar beberapa waktu lalu. Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Sedunia, hadir juga dokter Alvi, selain sebagai dokter beliau juga menjabat sebagai Direktur Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI). Bagaimana sih kaitannya karhutla di Indonesia dengan munculnya berbagai macam penyakit? Benarkah karhutla di Indonesia menyebabkan munculnya wabah?

Pada webinar tersebut kami berbicara soal penyakit akibat pemanasan global, yang secara tidak langsung juga disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan atau deforestasi, antara percaya dan tidak. Namun, jika teman-teman melihat fakta di bawah ini, mungkin akan berubah pikiran.

David Wallace Wells dalam bukunya Uninhabitable Earth, menceritakan soal ini.

Batu adalah catatan sejarah planet. Setuju bukan? Jutaan tahun terimpit kekuatan-kekuatan waktu geologis dan menjadi lapisan tebal beberapa sentimeter, bahkan lebih tipis. Es bekerja dengan cara yang sama, sebagai pencatat iklim, meskipun selain itu juga bertugas untuk membekukan sejarah, yang sebagian bisa hidup lagi jika dicairkan.

Kini ada penyakit-penyakit yang terjebak di dalam es dan tak beredar di udara selama jutaan tahun, bahkan dalam beberapa kasus, sejak sebelum ada manusia. Artinya apa?

Artinya sistem kekebalan tubuh manusia tak bakal tahu cara melawan penyakit purba yang muncul dari es

Apakah bisa dibuktikan?

Nah, dalam buku Uninhabitable Earth juga disebutkan bahwa di laboratorium sudah ada beberapa mikroba yang berhasil hidup kembali. Satu bakteri ekstremofil yang berumur 32.000 tahun dihidupkan kembali pada tahun 2007 lalu. Kemudian ada bakteri berumur 3.5 juta tahun yang disuntikkan seorang ilmuwan Rusia ke tubuhnya sendiri karena penasaran apa yang akan terjadi, hingga akhirnya dia selamat.

Pada 2018 lalu pun para ilmuwan juga menyimpan penyakit-penyakit menakutkan dari masa yang lebih baru.

Di Alaska, para peneliti telah menemukan sisa-sisaflu 1918 yang menulari sampai 500 juta orang dan menewaskan sampai 50 juta orang (kira-kira 3 persen penduduk dunia dan hampir enam kali korban tewas Perang Dunia 1). 

Kini para ilmuwan curiga penyakit cacar dan pes terjebak di es Siberia, juga banyak penyakit lain yang telah menjadi legenda terungkap di bawah cahaya matahari yang memanasi Artika.

Yang lebih membuat khawatir para ahli epidemiologi dibanding penyakit purba adalah penyakit yang ada sekarang berpindah tempat, berubah, atau bahkan mengalami evolusi lanjutan karena pemanasan global. Efek pertamanya menurut David Wallace Wills, bersifat geografis. Sebelum awal zaman modern, terpencarnya manusia adalah pencegahan wabah (karena satu wabah bisa menghabisi satu kota atau dalam kasus yang lebih ekstrem bisa satu benua).

karhutla di indonesia

Namun biasanya wabah tersebut tak dapat bergerak lebih jauh daripada korban-korbannya, artinya ya tidak jauh-jauh amat. Wabah Hitam menewaskan sampai 60 persen orang Eropa, tapi sebagai perbandingan, bayangkan dampaknya dalam dunia yang mengalami globalisasi.

Hari ini, bahkan dengan globalisasi dan campur aduknya populasi-populasi manusia, kita tidak akan tahu dimana kuman penyakit tertentu bisa menyebar. (Itulah alasannya mengapa pariwisata membutuhkan lusinan vaksin dan obat baru). Ditambah pemanasan global yang mengacau ekosistem-ekosistem kita, sehingga akan membantu penyakit menerobos batas yang tak semestinya.

Kembali lagi pada pertanyaan awal dari judul artikel ini. Benarkah karhutla di Indonesia memicu pandemi yang terjadi saat ini? Meskipun belum ada penelitian dan release resmi dari ahlinya, namun kita bisa membayangkan ya. Bagaimana peran deforestasi ini begitu besar terhadap munculnya zoonosis sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

Yuk mari cegah karhutla, cegah pandemi. Semoga bermanfaat 🙂

Referensi :

http://sipongi.menlhk.go.id/hotspot/luas_kebakaran

kompas.com

Webinar Cegah Karhutla, Cegah Pandemi

Uninhabitable Earth by David Wallace Wells