Tips Hemat Saat Lebaran di Masa Pandemi

Lebaran menjadi momen yang penting bagi banyak orang, khususnya orang Indonesia. Karena salah satu liburan panjang yang diberikan Pemerintah untuk para pekerja adalah pada saat lebaran. Jadi tidak hanya berkah untuk umat Muslim, tapi juga agama lain.

Sebelum pandemi menyerang, tentu saja ada banyak pihak yang diuntungkan saat lebaran. Mulai dari UKM hingga pengusaha yang mampu membayar iklan di televisi. Semua dapat berkah Idul Fitri. Ada milyaran atau bahkan trilyunan rupiah yang digerakkan di saat-saat tersebut. Namun tahun ini, ada juga banyak pihak yang harus gigit jari menghadapi lebaran yang sudah hitungan hari. Ada yang dirumahkan, ada pula yang terpaksa harus merelakan kendaraannya untuk dijual demi memenuhi kebutuhan-kebutuhan selama dua bulan ke belakang hingga bulan-bulan berikutnya entah usai kapan.

Beberapa orang sudah mengambil ancang-ancang untuk segera beralih menuju bisnis berbasis online. Beberapa orang lagi masih tak tahu harus melangkahkan kaki kemana lagi untuk mencari penghidupan. Oleh karena itu banyak pakar ekonomi menyarankan kita berhemat-hemat selagi masih punya. Sehingga ke depannya masih ada yang bisa kita makan meski sederhana.

Salah satu tips hemat yang disarankan oleh salah seorang dosen senior ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang, Ibu Baroya Mila Shanti, MM dalam sebuah kajian adalah :

Bedakan Kebutuhan dan Keinginan

Sebenarnya mudah kok membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Kalau di meja makan kita sore ini hanya mampu tersaji nasi putih dengan lauk tahu dan tempe serta sambal, lalu kita merasa ada yang kurang kalau tidak ada ayam atau daging, maka itulah keinginan. Karena pada dasarnya kebutuhan makan akan terpenuhi kalau kita kenyang dan cukup gizi kan. Tempe tahu juga sudah mengandung protein nabati, karbohidrat dari nasi, vitamin dari sambal. Lalu kalau kita masih berdalih kurang lauk pauknya, itulah keinginan, bukan kebutuhan. Padahal kita sudah bisa merasa kenyang dengan sajian tadi.

Bahaya banget lho kalau kita terus menuruti keinginan yang seringkali kita artikan sebagai kebutuhan. Maka kembalikan pada diri sendiri ketika akan membeli sesuatu, itu keinginan atau kebutuhan?

Jangan gengsi

Beberapa jam lalu saya tengah membaca sebuah buku berjudul 100 Hari Melihat Diri karya Mprop Picoez Al-Jingini. Jamaah basa-basi pasti tahu siapa beliau. Ada satu tulisan yang kemudian membuat saya tertegun karena begitu menusuk-nusuk hati. Berkaitan dengan gengsi manusia tentunya sesuai pembahasan kita kali ini.

Jadi saat itu ada seseorang yang mengeluhkan betapa dirinya sedang tidak punya uang dan bingung bagaimana caranya menambah penghasilan di tengah pandemi seperti ini. Ketika ditanya lagi, kenapa ia bisa merasa kekurangan? Jawabannya ada saja yang kurang dalam hidupnya, padahal ia merasa sudah membagi semua nafkahnya sesuai porsinya.

Namun ternyata setelah ia merefleksikan perbuatannya beberapa saat, tanpa ia sadari dirinya memang telah menghambur-hamburkan uang demi gengsinya semata. Salah seorang anaknya meminta sepatu baru, padahal masih ada tiga pasang sepatu yang dimilikinya, masih bagus pula. Namun karena ia gengsi kalau tidak membelikan sepatu untuk anaknya itu, maka ia beli sepatu baru sesuai keinginan anaknya. Padahal belum butuh. Sehingga ia harus mengambil uang dari anggaran lainnya. Mulai dari situlah ia merasa kekurangan, karena anggaran yang tadinya dipakai untuk menafkahi orang tuanya di kampung sudah habis dibelikan sepatu baru untuk anaknya.

Seringkali gengsi memang membutakan mata kita. Terlebih bisa mengendalikan nafsu kita. Oleh karena itu penting melihat kembali niat dalam hati kita. Menatanya hingga sedemikian rupa, meluruskan kembali agar tidak sia-sia.

Manusia sering tak menyadari bahwa dirinya terikat oleh atribut-atribut yang tak ia gunakan pada tempatnya, yang pada akhirnya akan menjadikan dia menzalimi dirinya sendiri – Mprop Picoz A

Bersyukur dan Selalu Melihat ke Bawah

pict from unsplash.com/@chitz201

Setiap kali saya menginginkan sesuatu, selalu terbersit dalam kepala saya tentang seorang tukang sampah di kompleks rumah. Ia selalu mengajak ketiga anaknya ketika bertugas. Ketika ditanya mengapa, karena istrinya harus bekerja di sebuah Laundry, dengan upah maksimal satu hari lima belas ribu rupiah. Tiga anak tersebut ada yang berusia 9 tahun, 6 tahun dan 3 tahun. Ketiganya tidak sekolah. Kerap kali ketika masa pandemi, saya selalu menyuapi anak saya berkeliling kompleks dengan stroller. Hampir selalu menemukan mereka berempat. Suatu ketika, anak saya sedang tidak mau makan nasi, jadi saya suapi roti. Ketika tukang sampah itu lewat dengan ketiga anaknya, air mata saya tak terasa berlinang karena anak paling kecil melihat roti yang saya bawa tanpa berkedip.

Sopan ia tak mendekat sama sekali, hanya memerhatikan dari jauh. Saya pun membagi dua roti itu dan menyerahkan setengahnya untuknya. Dengan sigap ia langsung menerima roti itu. Ah, lahapnya ia makan. Spontan ayah saya memanggilnya dan memberinya sedikit uang. Bukan main gembiranya ketiga anak itu. Ini memang bukan kali pertama saya melihatnya. Namun, peristiwa hari ini menyadarkan saya untuk selalu bersyukur, meskipun gaji suami dipotong. Bersyukur meskipun saya juga harus ikhlas menerima penundaan gaji dari Pemerintah sebagai karyawan honorer. Karena masih ada yang jauh lebih menderita daripada saya.

Ketika saya berkeinginan untuk membeli bakso pun akhirnya saya urungkan niat. Kan ada tempe dan sayur di rumah. Betul, bakso itu hanya keinginan, bukan kebutuhan. Akhirnya saya hanya beli bakso untuk lauk si kecil saja. Hehehe.. Begitulah, terkadang melihat ke bawah itu perlu sering-sering biar ngga jajan kebablasan. Masih banyak yang kelaparan, kok kita tega foya-foya.

#BPNRamadan2020

    • S E N J A on May 17, 2020 at 8:07 am

    Reply

    Ilmu ngempet emang butuh skill dewa

    • Uswatul Hamidah on May 17, 2020 at 2:46 pm

    Reply

    Betul

    • Master Kemliak on May 18, 2020 at 12:07 pm

    Reply

    Waktu saya belajar ilmu ekonomi, memang benar kita hrus bisa membedakan mana yg kebutuhan dan mana yg keinginan. Keinginan manusia itu tdk terbatas, sedangkan sumber daya yg ada sangat terbatas. Jdi hrus pinter manage yg jdi prioritas

    • Vie on May 18, 2020 at 12:32 pm

    Reply

    Yah betul, sebanyak apapun uang yang kita punya ga akan bisa memenuhi gaya hidup… Maka fokuslah pada kebutuhan ya kak…

  1. Reply

    Selama pandemi ini, aku jadi banyak belajar juga, kak. Belajar menghargai apa yang ada dan aku miliki saat ini. Sama belajar untuk peduli, meski rasanya yaa kondisi kita pun lagi enggak begitu oke. Tapi, ternyata banyak orang-orang yang juga melakukannya. Sehingga terasa lebih ringan dan menyenangkan. Berbagi meski sedikit tapi bikin happy.

  2. Reply

    Aih, suka suka suka. Bedakan keinginan dan kebutuhan. Lihatlah ke bawah, agar bisa bersyukur. Kata-kata yang langsung menancap ke sanubari. Terima kasih pengingatnya.

  3. Reply

    Gara2 gengsi hidup jadi pemborosan. Gara2 gengsi jadi gelap mata, tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Gara2 gengsi juga hidup jadi sengsara. Terima kasih sudah diingatkan

    • Fide on May 19, 2020 at 10:04 am

    Reply

    Wah, pengalaman yang menginspirasi sekali kak. Saya lebih mengutamakan kebutuhan dari pada keinginan. Saya lebih bisa nahan diri, tuk lebih prioritaskan kebutuhan.

    • Yuni BS on May 19, 2020 at 11:24 am

    Reply

    Iya sih. Kadang kala kita terjebak antara kebutuhan dan keinginan. Juga gengsi.

    Dulu mah Yuni suka agak sebal ketika bapak mengingatkan untuk berhemat. Buat apa beli baju jika bajumu masih bagus-bagus? Tuh lihat, adikmu saja cuma beli celana setelah semua celananya mulai nggak muat lagi.

    Tapi sekarang sedikit banyak sadar sih, kalau bapak hanya ingin mengajari hidup sederhana. Ah senengnya jika hidup nggak disesaki dengan gengsi. Heehe

  4. Reply

    Kalau saya udah terbiasa hidup hemat sejak kecil, ortu selalu ngajarin harus bisa bedain kebutuhan dan gaya hidup. Jadi semenjak ada pandemi ini, kebiasaan hemat saya menjadi berlipat. hehehe

    • Roemah AuRa on May 20, 2020 at 8:22 am

    Reply

    Setuju banget. Masa pandemi ini daripada foya-foya mending uangnya kita save aja. Karena kita tidak tahu ke depannya seperti apa. Apalagi saat melihat saudara-saudara kita yang masih kesulitan untuk makan. Ah, rasanya sangat kurang pantas membeli ini itu.

  5. Reply

    Benar kata pepatah, dalam urusan dunia lihatlah ke bawah. Terima kasih mbak artikelnya.

  6. Reply

    Lebaran tahun ini emang lebih mudah si buat hemat pengeluaran, soalnya ga kemana-mana juga kan. Tapi disisi lain sejalan juga dengan pemasukannya, sama-sama hemat 🙂

  7. Reply

    Paling bener emang selalu melihat ke bawah. Apalagi pandemi kayak gini, harus mengencangkan ikat pinggang meskin rindu ke KFC

    • nurhilmiyah on May 20, 2020 at 11:24 am

    Reply

    Masa pandemi seperti sekarang ini kita sepetinya gak bs jor2an beli ini itu kayak lebaran tahun lalu ya Mba Jihan. Saatnya mengencangkan ikat pinggang dan kl ada rezeki lebih, berbagi pd sesama ya

    • asihmufisya on May 20, 2020 at 1:03 pm

    Reply

    Mampu memilah mana keinginan dan kebutuhan kunci dalam berhemat ya. Karena lebih sering yang dibeli adalah keinginan. Hehehe. Malu jadinya.

  8. Reply

    Alhamdulillah anak-anak kami gak kami biasakan memakai serba baru untuk hari raya. Biasanya di masa seperti ini mereka paham untuk tidak minta yang macam-macam. Alhamdulillah juga anak-anak sudah dapat baju hari raya jauh hari sebelum pandemi karena dapet GA.

    • Queen Junee on May 20, 2020 at 8:08 pm

    Reply

    Belajar membedakan kebutuhan dan sekedar gengsi saat pandemi mungkin lebih cocok ya.

    Bagaimanapun pandemi benar-benar membuat semua (berantakan).

    Semoga cepat berlalu.

  9. Reply

    Betul kak, saat puasa ini kita menyadari bahwa kita makan yang ini dan itu hanya sekedar keinginan saja abukan kebutuhan , nice tips kak

  10. Reply

    MasyaaAllah jadi pengingat banget ini. Kadang pengen makan ini itu, padahal ada orang yang malah mikirin bisa makan atau gak 😭

    • Diska on May 21, 2020 at 11:33 am

    Reply

    Bener banget, bersyukur adalah kunci utamanya. Karena melihat kondisi saat ini masih banyak yang posisinya di bawah kita

  11. Reply

    bener nih mbak, kadang abu2 sih kebutujsn sm keinginan..kayanya kuran ini dan itu pdhl itu hny hawa nafsu

  12. Reply

    Ini sii tips yang sangat hemat sekali mbak. Apalagi mengatur keuangan ditengah pandemi ini yang entah kapan akan berakhir.

  13. Reply

    Bener Kak, makin khidmat kita melihat ke bawah dan bersyukur, makin sering kita diingatkan untuk lebih menahan diri dari konsumerisme.

  14. Reply

    Iya sedih juga lebaran sekarang. Tapi jadi banyak2 bersyukur, soalnya lebih banyak orang yang meskipun tanpa pandemi, mereka juga tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.

    • Mas Ito on May 31, 2020 at 9:52 pm

    Reply

    Seperti makan oreo seharga 500 k saat pandemi, dimana banyak orang yang kekurangan karena kena phk, libur sementara, dll. Hehe

    • citra on June 1, 2020 at 8:13 am

    Reply

    Semuanya ada sisi baik dan buruk. Pandemi ini malah menjadikan aku kreatif untuk membuka usaha bakery dengan harga terjangkau banget bagi semua kalangan.. karena masih makanan jadi belum bisa market place

    • Rini Novita Sari on June 1, 2020 at 11:40 am

    Reply

    wah lebaran kali ini jauh lebih irit sih mbak, aku sama sekali gak belanja buat sendiri, buat keluarga juga enggak, mentahannya aja, klo tahun2 lalu mgkin masih belanja tapi juga udah ga seberapa banyak. lebaran bagiku bukan momment buat semuanya serba baru sih,

Leave a Reply