“Saya ngga mau tau, pokoknya hari ini harus ada sisir yang laku.”

“Tapi Bos…” lelaki kurus kering itu mencoba meminta pengertian dari sang atasan.

“Tapi apa?” sang atasan menatap lurus anak buahnya yang sedang berdiri di seberang mejanya.

“Bagaimana bisa saya menjual sisir pada para biksu di kelenteng? Mereka saja tak punya rambut sehelai pun.” Lelaki itu mulai protes atas perintah yang tidak masuk akal dari bosnya tersebut.

“Itulah kenapa saya menugaskan kamu, karena saya tahu kamu mampu, Fredy. Bebas bagaimana caramu. Silahkan dimulai hari ini secepatnya.” sang atasan tampak tenang.

Sang bawahan tak punya pilihan lain jika ia ingin tetap bertahan di perusahaan tersebut. Akhirnya dia pun mulai berpikir untuk melaksanakan perintah bosnya.

Hari pertama, Fredy datang ke kelenteng dengan membawa 10 sisir untuk dijual pada kelenteng yang dimaksud oleh Bosnya. Fredy mengamati dari pagi hingga sore hari, namun tak satu sisir pun mampu ia jual. Hingga datang sore hari, dia masih belum beranjak dari kelenteng meskipun hujan turun dengan lebatnya. Tak lama, ada seseorang yang tengah berteduh di bawah gapura kelenteng, Fredy pun menghampirinya.

“Bapak sedang menunggu angkutan?” sapa Fredy pada seorang lelaki yang tengah berteduh.

“Iya betul, ada apa?”

“Bapak mohon maaf, rambut Bapak berantakan. Kebetulan saya punya sisir, mungkin bisa dipakai.” ucap Fredy seraya menyerahkan satu buah sisir kepada lelaki yang memang tampak berantakan rambutnya itu.

“Ah, iya terimakasih.” dengan senang hati sang lelaki menyisir rambutnya dengan sisir yang diberikan Fredy, merasa senang ada yang memperhatikan dan mengingatkan penampilannya.

“Anda sedang apa disini?” tanya Bapak itu kemudian sambil menyisir rambutnya hingga tampak rapi kembali.

“Sebetulnya, saya sedang menjual sisir Pak.” Fredy tersenyum malu.

“Ah, baiklah saya beli sisir ini satu.”

—-

Hari kedua, ketiga, keempat dan kelima, Fredy mulai menemukan ritme siapa saja dan pada jam berapa saja pengunjung kelenteng ramai berdatangan. Hingga akhirnya dia mulai menyusun strategi untuk menjual sisirnya saat ada wisatawan yang turun dari bus dan hendak memasuki kelenteng.

“Sebelum menghadap biksu dan memasuki kelenteng, pastikan penampilan anda rapi. Termasuk persoalan rambut.” kata Fredy kepada para wisatawan dengan diakhiri deal puluhan sisir yang terjual dalam waktu satu hari.

Kegigihan dan sifat positif Fredy mampu membawanya pada kenaikan jabatan karena dia berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan oleh perusahaannya bahkan lebih dari target yang sudah ditetapkan.

Meskipun menjual sisir dalam kelenteng terdengar tak masuk akal, ternyata Fredy mampu mengatasinya dengan baik dan mendapat hasil yang gemilang dengan berbekal keyakinan, pengetahuan, pasrah pada Tuhan Sang Pencipta, serta sikap optimisme yang tak tergoyahkan. Yakin bahwa akan selalu ada jalan keluar dalam setiap permasalahan.

Begitulah kita seharusnya menyikapi hidup.

#oneweekonepost #challenge #optimisme

Pict adopted from panduanwisatayogyakarta.

Diceritakan ulang dari nasihat seorang ayah pada anaknya tentang pentingnya bersikap positif dan optimis.