Keliling Dunia? Jeda Dulu Yuk!

Siapa sih yang tidak suka keliling dunia? Pasti semua orang ingin melakukannya. Namun kali ini kita tidak membahas traveling ya, tapi tentang hakikat perjalanan manusia di dunia ini. Bukankah manusia itu adalah musafir? Seseorang yang sedang bertamasya dan sedang menikmati lelah dan hiruk pikuk dunia yang sedang disinggahi. Begitu halnya ketika kita juga sedang berkeliling dunia, tentu kita butuh jeda untuk beristirahat.

Ada berapa banyak orang yang tidak menyadari bahwa kita sedang berpacu dengan dunia yang sementara? Kadang kita menjadi manusia yang abai apa yang sebenarnya kita cari di dunia ini? Apa yang sebenarnya menjadi sebab hati kita merasakan lara, resah, dan lupa mesti kemana sebenarnya? Abun Nada menyebutkan dalam prakata bukunya bahwa di luar sana begitu banyak distraksi yang memikat perhatian kita. Warna-warni dunia ini memang sangat menggoda. Aromanya pun sangat membangkitkan selera. Lalu tanpa sadar semua itu telah menghela dan memacu kita berlari entah kemana.

Maka ditulislah buku yang berjudul Sejenak Jeda dari Letih Dunia oleh Abun Nada sekadar sebagai kelap-kelip lampu rest area. Tempat para musafir menepikan kendaraan mereka. Melepas penat sembari membuka-buka kembali peta. Menghimpun kembali tenaga dan asa untuk merampungkan perjalanan yang masih tersisa.

jeda dari dunia

Sebuah Komik Dewasa

Saya selalu suka dengan goresan pena Abun Nada di instagramnya. Teman-teman bisa cek akunnya ya @abun_nada. Gambar-gambar yang dibuat memang sederhana, namun bagi saya selalu memuat pesan positif yang bikin hati adeeemm. Karena selalu disisipi dengan pesan-pesan bahagia dari ajaran agama saya, Islam. Memang betul, seperti judulnya Sejenak Jeda dari Letih Dunia, kita diajak untuk memberi jeda dalam perjalanan panjang kita hidup di dunia ini.

Keliling dunia boleh-boleh saja, namun ada baiknya kita ingatkan diri sendiri untuk memberi jeda dengan merengkuh udara segar, minuman dingin yang melegakan, hingga mengenyangkan perut yang kelaparan. Kita boleh berpacu dengan dunia dengan sepenuh gemerlap isinya, namun jangan lupa memberikan makanan untuk rohani kita. Sehingga kita akan tersadar kembali tentang hakikat sebagai musafir di dunia ini.

Buku yang serupa komik namun lebih banyak teksnya ini memuat sebagian dari komik-komik yang digambar beliau di instagram, namun tentu saja dengan tambahan cerita-cerita atau penjelasan tentang tema-tema yang diusung oleh Abun Nada. Mulai dari belajar ikhlas, amal jariyah, berbakti pada orang tua, hingga distraksi dunia yang melenakan. Membacanya membuat saya bahagia, apalagi di tengah situasi pandemi seperti ini. Rasanya saya bisa lebih memaknai ujian yang diberikan Allah pada hamba-hambaNya di muka bumi ini berupa pandemi Covid-19.

Mengapa komik dewasa? Karena pembahasannya yang sedikit berat untuk dicerna oleh anak-anak hingga remaja. Sehingga memang lebih pas dibaca untuk orang-orang dewasa. Meskipun dalam bentuk komik, namun diksinya selalu membuat saya terpikat untuk terus membaca dan membaca. Pun dengan isinya yang related banget dengan kehidupan kita sebagai orang dewasa yang sudah punya tanggungjawab dan seringkali terlenakan dengan pekerjaan-pekerjaan dunia.

Tambahan Pengetahuan Agama

Daridulu orang yang belum paham asyiknya mendalami ilmu agama akan menganggap bahwa pembahasan ilmu agama terasa membosankan. Abun Nada nampaknya ingin memberikan pengetahuan keagamaan bagi pembacanya dengan cara yang menyenangkan, yaitu lewat komik. Sehingga tidak terasa membosankan ketika membacanya paragraf demi paragraf. Saya pun belajar banyak dari komik ini. Ada satu halaman yang saya soroti di sini perihal pengetahuan agama yang harus kita miliki sebagai makhluk sosial. Yaitu tentang Taubat dari Ghibah.

Taubat dari Ghibah

Banyak banget ya diantara kita, termasuk saya yang mungkin belum terbebas dari dosa ghibah. Hayo ngaku! 🙂 Kita tahu dosanya, kita tahu apa hukumannya, namun tetap saja seringkali dikuasai oleh nafsu yang tidak terkendali. Syukur kita punya Allah yang Maha Pengasih, Maha Pengampun dan Penyayang. Selalu terbuka pintu taubat hingga nyawa berada di kerongkongan. Maka sebelum pintu taubat itu tertutup, ada baiknya kita tidak menunda taubat itu sendiri,

Abun Nada menuliskan dalam komik ini bahwa ulama berbeda pendapat tentang cara taubat dari dosa ghibah/menggunjing. Pendapat pertama menyatakan bahwa jika kita mengghibahi seseorang maka kita mesti menemui orang tersebut, lalu kita jelaskan bahwa kita telah menggunjing dirinya di hadapan orang lain begini dan begitu. Lalu kita berharap agar orang tersebut mau merelakan atau memaafkannya.

Pendapat kedua, jika orang itu tahu kita telah menggunjingnya, maka kita mesti mendatangi orang itu dan meminta agar dihalalkan atau dimaafkan.

Namun jika orang tersebut tidak tahu kita mengghibahinya, maka kita tidak perlu menemuinya. Cukup kita memintakan ampunan bagi orang tersebut, kemudian kita bicarakan kebaikan-kebaikannya, atau kita puji-puji kebaikannya di hadapan orang-orang di tempat dulu kita mengghibahinya. Sebab kebaikan yang banyak dapat menghapus keburukan.

jeda keliling dunia

Inilah pendapat yang lebih sahih. Yakni jika orang itu tidak tahu kita telah menggunjingnya, cukup bagi kita membicarakan kebaikan-kebaikan orang itu di dalam majelis-majelis tempat kita mengghibahinya. Kita memohonkan ampunam baginya dengan memanjatkan doa, Allahummaghfirlahu.. (Ya Allah ampunilah dia) sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis Nabi : “Kafarah (penebus dosa) orang yang Engkau ghibahi adalah Engkau memohonkan ampunan untuknya.” (Sumber : Syarah Riyadhus Shalihin Syaikh Utsaimin, Jilid 1, hal.90 Cetakan Madaral Wathan).

Masih banyak lagi pengingat-pengingat sederhana yang disajikan dalam komik ini. Banyak dahaga yang terpuaskan ketika membacanya. Bonus bikin hati adem ayem karena berusaha mengusir segala bentuk penyakit hati yang sering tidak disadari kehadirannya. Termasuk perkara ikhlas yang pembelajarannya seumur hidup. Baca buku ini terasa keliling dunia beneran, lalu mengambil jeda dengan potongan-potongan hikmah yang indah.

 

Sejenak Jeda dari Letih Dunia

Penulis dan Ilustrator : Abunnada

Cetakan Pertama, Juni 2020 Penerbit Ahlan Pustaka Umat, 228 halaman

4/5

Baca juga Agama adalah Cinta, Cinta adalah Agama