sumberdaya air auntuk kehidupan

2% Air untuk Kehidupan 7 Miliar Manusia

Benarkah Sumber Daya Air itu tak terbatas? Kalau iya, mengapa ada kekeringan yang selalu berulang?

Saya bukanlah seorang aktivis lingkungan, bukan pula anggota pencinta alam. Namun masalah kekurangan air yang pernah saya alami saat berusia tujuh atau delapan tahun, membuat saya sadar hari ini bahwa bumi ini akan kehabisan air. Siapa sih yang menyangka bumi akan kekurangan air? Bukankah tujuh puluh satu persen bagian dari planet ini tertutup air? Tepat sekali. Namun yang berupa air tawar hanya sedikit, di atas dua persen, dan yang bisa diakses hanya satu persen. Sisanya sebagian terjebak dalam es. Artinya, seperti dihitung National Geographic, hanya 0,007 persen air di planet ini yang tersedia untuk tujuh miliar manusia.

Sudah mulai takut belum? Hehe..

Kekurangan air : numpang mandi di sekolah

Kejadian ini saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar sekitar tahun 1997/1998. Saya ingat betul bagaimana Ayah harus bolak balik mengangkat ember berisi air dari depan rumah lalu ke kamar mandi. Saat itu kami sepakat air hanya untuk buang air kecil, buang air besar, minum dan masak. Jadi kalau mau mandi harus cari akal. Entah itu numpang di toilet sekolah atau kampus.

Saya ikut dengan ayah untuk mandi di sekolahnya. Mandi pun dibatasi, tidak boleh lebih dari satu ember yang isinya mungkin setara dengan 3/4 galon air minum saat ini. Jadi kira-kira 10 liter lah. Hal ini berlangsung lumayan lama, sekitar dua atau tiga minggu hingga saluran air kami (satu kampung) bisa mengalirkan air lagi seperti sedia kala. Saat itu susah banget pokoknya. Apa-apa jadi mikir, “Ah, minumnya dikit aja takut ga cukup”. Sampai seperti itu.

Oleh karena itu ibu dan ayah saya ketat sekali membatasi air hingga saat ini. Kalau sampai ada air yang dibuang-buang, ibu atau ayah bisa marah betul. Hal itu saya sadari sekarang. Dulunya berpikir, air adalah sumber daya alam yang bisa diperbarui, pastinya ngga akan habis. Eh, tunggu dulu. Itu kalau tidak ada perubahan iklim ekstrem dan polusi. Kalau ada? Nah, disinilah kita perlu tahu bagaimana air di planet ini hanya satu persen yang bisa terpakai?

Penggunaan Air Tawar

Mari kita pikirkan bersama  jika kita kekurangan air tawar. Barangkali kita akan merasa gatal di bagian kerongkongan. Tapi sebenarnya, air minum itu hanya sebagian kecil kebutuhan kita lho. Seperti yang ditulis oleh David Wallace-Wells dalam bukunya Bumi Yang Tak Dapat Dihuni bahwa di seluruh dunia ini, antara 70-80% air tawar digunakan untuk produksi pangan dan pertanian. Lalu tambahan 10 hingga 20% untuk industri.

Sebenarnya dikatakan oleh William Wallace sebesar 0,007% itu seharusnya cukup bukan hanya untuk tujuh miliar orang yang hidup pada tahun 2019 lalu, melainkan sampai 9 miliar orang, barangkali bisa lebih. Tentu saja kita bisa melampaui angka itu, kemungkinan penduduk dunia tumbuh melebihi 9 miliar pada abad ini.

Jadi kita tahu kalau untuk pemakaian manusia saja air diperkirakan sudah pas-pasan, bagaimana kalau saat ini air juga digunakan oleh industri pariwisata dan golongan lain untuk kepentingannya sendiri? Memblokade jalan air dari sumbernya ke masyarakat hanya untuk membangun sebuah kolam buatan untuk ikan-ikan misalnya? Ini benar-benar terjadi di kota saya. Dan saya yakin jumlahnya bukan hanya satu.

2,1 Miliar Orang tak punya akses ke air minum yang aman

sumberdaya air untuk kehidupan

Seperti kekurangan bahan pangan, sebagian besar pertumbuhan diperkirakan terjadi di bagian-bagian dunia yang sudah menderita kekurangan air. Dalam hal ini-perkotaan Afrika. Di banyak negara Afrika, jatah air per orang cuma dua puluh liter per-hari. Tak sampai setengah dari standart kesehatan menurut organisasi yang mengurus air.

Saya juga pernah membaca perjalanan duta kemanusiaan UNESCO, Tetsuko Kuroyanagi dalam bukunya Totto Chan’s Children, melihat keadaan Afrika di era 90an.

“Darimana air itu?”.
“Dari sumur di belakang sana.” jawab perempuan kecil itu.

Miss Kuroyanagi kemudian berjalan mengitari halaman belakang rumah untuk melihat. Tapi tak menemukan sumur di sana. “Kau bilang sumurnya di belakang…”

“Kira-kira 4.8 kilometer ada di belakang sana,” jelasnya.

Aku membaca salah satu catatan perjalanan Miss Kuroyanagi di Tanzania sambil tercengang. Bocah itu memberi air yang sangat berharga, sekalipun berlumpur, yang dibawa sejauh 4.8 kilometer.

Bisa kita bayangkan bagaimana akses air bersih yang bisa mereka gunakan sebesar apa. Kalau untuk air minum saja mereka sangat kekurangan, bahkan air itu tidak aman lagi, bagaimana dengan sanitasi?

Hari ini krisis air sudah tidak bisa terelakkan lagi. Semua itu diluar kemampuan kita untuk mengatasinya. Namun ada tidaknya krisis juga tergantung pada kita. Inilah satu alasan krisis air menjadi bagian meresahkan dalam masalah iklim : suatu sumberdaya yang melimpah dibuat langka karena pengabaian (kita sebagai pengguna) dan cueknya Pemerintah. Persoalan pencemaran, urbanisasi, dan pembangunan yang tak hati-hati.

Kita bisa melihat dimana-mana kekurangan air tampak begitu gamblang dan perbandingannya jelas diantara yang mampu dan tidak. Sehingga perebutan sumber daya air ini tampak bukan seperti persaingan, namun lebih pada kesenjangan. Hasilnya di seluruh dunia sampai 2,1 miliar orang tak punya ke air minum yang aman, dan 4,5 miliar orang tak punya air yang dikelola dengan aman untuk sanitasi.

5 Miliar Orang dapat kesulitan mengakses air tawar pada 2050

Masih menurut David Wallace dalam bukunya Bumi Yang Tak Dapat Dihuni  bahwa separuh penduduk dunia bergantung pada pelelehan musiman es dan salju di ketinggian, yang terancam pemanasan global. Bahkan bila kita mencapai sasaran Paris, gletser  Himalaya akan kehilangan 40% esnya pada 2100, atau barangkali lebih. Dengan kenaikan suhu empat derajat, Pegunungan Alpen yang berselimut salju dapat berubah menjadi mirip Pegunungan Atlas Maroko, dengan 70% lebih sedikit salju pada akhir abad ini.

Dilansir dari KBR : Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), penumpukan emisi gas rumah kaca di atmosfer sejak masa praindustri sampai sekarang telah mengakibatkan suhu rata- rata bumi naik sekitar 1 derajat Celcius.

Jika tak ada pengurangan emisi gas rumah kaca besar-besaran, IPCC memprediksi dalam dua atau tiga dekade mendatang suhu rata-rata bumi bisa naik lagi sampai melebihi 1,5 derajat Celcius. Dampak dari angka sekecil itu sudah meluas. Tidak hanya masalah permukaan air laut yang naik, tapi juga kekeringan akibat musim kemarau yang kian panjang.

sumber daya air kehidupan

from unsplash.com/@pawel_czerwinski

Pada 2020, sampai 250 juta orang Afrika dapat menghadapi kekurangan air akibat perubahan iklim. Pada 2050-an jumlah orang yang kekurangan air di Asia saja dapat mencapai satu miliar orang. Pada tahun yang sama, Bank Dunia mendapati ketersediaan air tawar di kota-kota di seluruh dunia dapat menurun sampai dua pertiganya. Secara keseluruhan, menurut PBB, lima miliar orang dapat kesulitan mengakses air tawar pada 2050.

Di India, 600 juta irang sudah menghadapi “stres air tinggi sampai ekstrim”, menurut satu laporan pemerintah tahun 2018, dan 200.000 orang tewas setiap tahun karena kekurangan air atau air tercemar. Pada 2030, menurut laporan yang sama India hanya akan punya air setengah dari kebutuhannya.

Dalam seratus tahun terakhir, banyak danau terbesar di planet ini mulai mengering. Mulai dari Laut Aral di Asia Tengah yang pernah menjadi danau keempat terbesar di dunia dan sudah kehilangan 90% lebih volumenya dalam beberapa puluh tahun belakangan, sampai Danau Mead yang memasok sebagian besar air Las Vegas dan telah kehilangan sampai 400 miliar galon air dalam satu tahun. Danau Poopo, dulu danau terbesar kedua di Bolivia sudah kering. Danau Orumiyeh di Iran sudah menyusut 80% lebih dalam tiga puluh tahun.

Apa yang bisa kita lakukan?

Kita sudah berlomba-lomba mengisap simpanan air bawah tanah yang disebut sebagai akuifer. Tapi kita perlu tahu bahwa simpanan itu terbentuk dalam waktu jutaan tahun dan tidak akan cepat pulih. Brian Clark Howard mencatat bahwa sumur-sumur yang dulu mengambil air di kedalaman 150 meter sekarang butuh pompa yang menyedot air dari kedalaman dua kali lipatnya. Diperkirakan, di Asia dalam beberapa tahun ke depan banyak kota akan bisa kehabisan pasokan air tanah.

Meskipun kita tidak akan pernah tahu air akan habis pada abad ke-berapa, namun saat ini kita ikut bertanggung jawab atas kelangkaan air itu sendiri. Maka setidaknya kita perlu melakukan sesuatu agar persediaan air tawar bisa menjamin kehidupan anak cucu cicit kita kelak.

1. Jaga Sumber Air 

Ada satu kejadian di kota tetangga, bahwa salah satu sumber air telah dikuasai oleh satu perusahaan pariwisata. Pihak resort memblokade jalan air yang semestinya bisa dialirkan dengan baik untuk masyarakat. Air yang melimpah itu dipergunakan untuk kolam ikan, air mancur, dan pemandian air panas. Sedangkan masyarakat sekitarnya harus menerima aliran air yang hanya datang di malam hari.

Maka jaga sumber air kita, jangan sampai dimonopoli oleh satu oknum saja. Apalagi untuk kepentingan pribadi.

2. Gunakan Air Secukupnya

Termasuk kebiasaan orang-orang kita ketika ada tradisi unjung-unjung (saling mengunjungi) saat lebaran. Akan banyak kita temui di hari itu pula ada banyak air yang terbuang begitu saja dari wadah-wadah tempat mereka minum. Jika mereka tahu air di planet ini jumlahnya hanya 0,007% yang bisa digunakan untuk pangan, pasti tidak akan terjadi air yang dibuang oleh tuan rumah karena ditinggalkan begitu saja oleh sang tamu.

Money is yours but this natural resource belongs to us.⁣
#savewater

sumberdaya air untuk kehidupan

sumber gambar belum ditemukan

 

3. Mempersingkat durasi mandi

Rerata orang saat mandi menggunakan shower dalam kondisi air terus mengalir adalah sekitar 8 hingga 10 menit. Kita bisa mempersingkat durasi tersebut hingga cukup 5 menit saja untuk mandi. Dengan pembatasan pemakaian air, kita membantu Pemerintah sekaligus diri kita sendiri agar air tetap lestari.

4. Go Reusable

Ketika kita bepergian atau sedang di rumah saja, meminimalisir penggunaan plastik tentu saja akan berdampak positif pada aspek air. Oleh karena itu sebaiknya kita gunakan tempat yang bisa dicuci, tidak menghasilkan sampah baik plastik maupun nonplastik.

Setelah kita tahu real data yang disuguhkan, mungkin ada beberapa pertanyaan bagaimana perubahan iklim biasanya hanya diberitakan terkait air laut?

Artika meleleh, permukaan laut naik, pantai bergeser. Namun krisis air tawar lebih menggelisahkan karena kita lebih bergantung padanya. Selama tiga dasawarsa ke depan, kebutuhan air dari sistem pangan dunia diperkirakan naik sekitar 50%, dari kota-kota dan industri 50 sampai 70% dan dari energi 85%. David Wallace dalam bukunya Buku Yang Tak Dapat Dihuni menyebutkan bahwa Bank Dunia dalam penelitian air dan iklim berjudul “High and Dry” menemukan bahwa dampak perubahan iklim ini juga berpengaruh pada siklus air.

Apalagi di negara-negara miskin dan penuh perang, serta negara rawan konflik beban kemanusiaannya bukan hanya darah yang mengalir. Namun juga perkara air. Sebagian karena mengincar infrastruktur air, jumlah kasus kolera tumbuh menjadi satu juta pada 2017. Artinya dalam satu tahun hampir 4% penduduk negara tersebut terkena kolera.

Indonesia yang kaya akan sumber daya, mungkin saat ini aman dari setiap persaingan mendapatkan air. Namun, anak cucu kita kelak tidak akan bisa menikmatinya jika gaya hidup boros air dan semacamnya tidak diubah. 

 

sumberdaya air untuk kehidupan

Every Drop Counts! Conserve water and urge the others to do the same

Meskipun kita tahu bahwa sikap sekumpulan orang untuk selalu menghemat air tidak akan berdampak besar terhadap kuantitasnya, serta perubahan iklim yang semakin menyiksa, setidaknya hari ini kita berada pada barisan yang benar. Setidaknya kita menyebarkan kebaikan untuk alam. Memberikan pilihan untuk ikut menjaga air untuk kehidupan. Jadi jangan pernah menganggap sia-sia hal-hal kecil yang sudah dilakukan untuk ikut #savewater.

Menjaga Air untuk kehidupan adalah kewajiban seluruh umat manusia. Tentu saja kita berharap ada kebijakan dari Pemerintah agar air tetap lestari. Karena kebijakan politik akan sangat memengaruhi bagaimana persediaan air bisa dimanfaatkan sesuai jalur dan jatah masing-masing. 

Hari ini, dengan pemanasan satu derajat saja, danau dan akuifer dikuras untuk memenuhi kebutuhan. Jangan apatis, kita bisa melakukan ini bersama-sama. Dimulai dari diri sendiri, keluarga, tetangga, hingga satu negara.

“Ada pemeo di komunitas air,

Jika perubahan iklim itu hiu, sumber daya air adalah giginya.”

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya bisa anda lihat di sini https://kbr.id/nasional/05-2020/jaga_bumi_sembari_ikut_lomba_blog_perubahan_iklim_/103105.html

pemenang lomba iklim KBR

Baca juga artikel serupa di sini Kekejaman Manusia dalam Revolusi (1)